Puncak Tertinggi 2025 Terlewati-Bulog Mau Tumpuk Stok Beras 6 Juta Ton

2 months ago  ·  3 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
direktur-utama-perum-bulog-ahmad-rizal-ramdhani-saat-ditemui-di-kantor-pusat-bulog-jakarta-senin-1152026-cnbc-indonesiamartyas-1778469406161_169

Puncak Tertinggi 2025 Terlewati-Bulog Mau Tumpuk Stok Beras 6 Juta Ton

Dailynesia.com – Setelah melewati puncak tertinggi tahun 2025, Perum Bulog kembali mencatatkan peningkatan signifikan dalam stok beras nasional. Pada hari Senin (11/5/2026), Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa stok beras yang dikelola perusahaan pangan pemerintah tersebut berpotensi mencapai 6 juta ton di akhir bulan Mei 2026. Hingga 11 Mei 2026, stok beras Bulog mencapai 5,3 juta ton, yang menjadi angka terbesar sejak pencapaian rekor tahun 2025 sebesar 4,2 juta ton.

Kemajuan Cadangan Pangan Nasional

“Di tahun 2025, syukur Alhamdulillah, Bulog berhasil mencapai target swasembada pangan. Pada tahun sebelumnya, stok tertinggi mencapai 4,2 juta ton,” kata Rizal saat diwawancara di Kantor Pusat Bulog, Jakarta.

Pencapaian ini menunjukkan kemajuan dalam upaya penguatan cadangan pangan nasional. “Sampai bulan Mei ini, stok kita sudah mencapai 5,3 juta ton. Diperkirakan di akhir bulan Mei, angka ini bisa mencapai 6 juta ton,” ujarnya. Dengan keberhasilan ini, Bulog semakin menjadi pilar utama dalam memastikan ketersediaan beras bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi fluktuasi pasokan dan permintaan di tengah penguatan swasembada pangan.

Strategi Penyerapan Gabah dan Stabilisasi Harga

Rizal menjelaskan bahwa peningkatan stok beras menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga, baik bagi petani maupun masyarakat konsumen. “Selain itu, Bulog tetap menyerap gabah dari petani sesuai harga yang ditentukan Presiden, yaitu Rp6.500 per kilogram,” tambahnya. Harga ini diterapkan untuk memastikan keberlanjutan pengadaan beras dari produsen lokal, sekaligus menekan risiko inflasi.

Strategi penyerapan gabah ini juga berdampak pada kemampuan Bulog untuk mengatur pasokan ke pasar. Dengan menjaga harga beli sesuai rencana, perusahaan bisa memastikan keseimbangan antara kebutuhan petani dan kebutuhan masyarakat, terutama di tengah kondisi puncak tertinggi 2025 yang telah terlewati.

“Kami berharap dukungan dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia agar Bulog terus konsisten dalam memberikan layanan terbaik kepada petani serta menjaga ketersediaan beras di pasar,” tambah Rizal.

Peran Bulog dalam Stabilisasi Pasar

Bulog, menurut Rizal, berperan penting dalam menjaga ketersediaan bahan makanan. “Penyesuaian harga pembelian dan penjualan ini bertujuan mengamankan pasokan pangan secara nasional,” jelasnya. Dengan sistem HET (Harga Eceran Tertinggi) yang telah ditetapkan, harga beras medium di pasar sebesar Rp12.500 per kg dan beras premium Rp14.900 per kg, menjadi acuan utama untuk meminimalkan tekanan inflasi.

Kebijakan HET ini diharapkan dapat menjaga kestabilan pasar, terutama saat puncak tertinggi 2025 terlewati. Rizal menyebutkan bahwa dengan stok yang lebih besar, Bulog bisa lebih cepat merespons permintaan di berbagai wilayah, termasuk daerah-daerah yang rawan kekurangan beras. Hal ini juga menjadi langkah strategis untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap ketersediaan pangan.

Di samping itu, Bulog terus memperkuat kerja sama dengan pihak terkait seperti Kementerian Pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS), dan pengusaha pangan lokal. “Kolaborasi ini sangat penting agar stok beras tetap terjaga, terutama di masa-masa kritis seperti menjelang musim penghujan atau perayaan besar yang meningkatkan permintaan beras,” tambah Rizal.

Stok beras yang mencapai 6 juta ton di akhir Mei 2026 juga merupakan bukti bahwa upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan telah memberikan hasil yang nyata. “Dengan ini, Bulog semakin mampu menjadi mitra strategis dalam memastikan kebutuhan pangan masyarakat,” ujarnya.

Kebutuhan Terus Bertambah, Stok Juga Harus Meningkat

Dalam konteks puncak tertinggi 2025 yang telah terlewati, Rizal menegaskan bahwa peningkatan stok beras tetap diperlukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus tumbuh. “Kami berkomitmen untuk terus menambah stok agar bisa menjamin pasokan di setiap musim,” jelasnya. Kebijakan ini juga sejalan dengan rencana pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan kenaikan harga komoditas internasional.

Sebagai langkah konkret, Bulog berupaya memperluas jaringan distribusi dan mempercepat proses pengadaan beras. Rizal menuturkan bahwa sistem pengelolaan stok yang efisien dan modern akan menjadi pendorong utama dalam menjaga ketersediaan beras di tengah tantangan ekonomi dan logistik. “Dengan stok yang mencapai 6 juta ton, kita bisa lebih baik dalam mengantisipasi kebutuhan pangan masyarakat di masa depan,” katanya.

Perusahaan juga berharap masyarakat dapat tetap mendukung program-program yang diterapkan Bulog, terutama dalam menstabilkan harga beras dan menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Dengan kolaborasi yang baik, Rizal yakin puncak tertinggi 2025 yang telah terlewati akan menjadi dasar untuk mencapai target swasembada pangan yang lebih tinggi di masa mendatang.

MORE FROM THIS CATEGORY