Menko Airlangga: B50 Bikin Ketergantungan RI Terhadap Solar Hilang

1 hour ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
menteri-koordinator-bidang-perekonomian-airlangga-hartarto-memberi-sambutan-dalam-acara-festival-kemudahan-dan-pelindungan-usa-1782714646999_169

Menko Airlangga: Kebijakan B50 Menghilangkan Ketergantungan Indonesia pada Solar

Dailynesia.com – Jakarta — Transformasi ekonomi nasional terus didorong melalui program hilirisasi dan industrialisasi yang komprehensif. Tujuan utamanya mencakup pencapaian swasembada energi, penguatan akses energi, serta percepatan transisi energi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Salah satu instrumen kunci dalam agenda ini adalah Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) yang didukung kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik.

Independensi Energi Melalui Implementasi B50

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyampaikan bahwa implementasi B50 bersama selesainya RDMP di Balikpapan telah menghilangkan ketergantungan Indonesia terhadap solar. Hal ini memungkinkan produksi energi secara mandiri dan mengurangi risiko ketidakpastian global. Dalam pernyataan resminya, Menko Airlangga menjelaskan bahwa ketidakpastian dunia masih terus berjalan, sehingga diversifikasi energi menjadi sangat penting bagi Pertamina.

“Terima kasih juga dengan implementasi B50 dan selesainya RDMP di Balikpapan, maka ketergantungan terhadap solar menjadi hilang. Jadi kita sudah bisa produksi sendiri,” ungkap Menko Airlangga dalam acara Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Summit di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Infrastruktur sebagai Fondasi Pembangunan Ekonomi

Airlangga menekankan bahwa energi merupakan fondasi utama bagi pembangunan infrastruktur ekonomi nasional. Baik untuk sektor industri maupun digitalisasi, energi harus menjadi prioritas pertama, diikuti oleh listrik dan pembangunan industri lainnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa energi bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

“Karena infrastruktur untuk ekonomi yang pertama energi, yang kedua energi, yang ketiga energi. Mau itu industri, mau itu digitalisasi, semuanya yang pertama energi dulu, kemudian infrastruktur berikut adalah listrik, baru kita bisa bangun mulai industri dan yang lain. Jadi ini adalah bedrock Indonesia adalah Pertamina,” kata Menko Airlangga.

Target Belanja Dalam Negeri dan Sinergi Industri

Dalam agenda P3DN, Menko Airlangga memberikan apresiasi atas alokasi target belanja produk dalam negeri Pertamina yang mencapai lebih dari Rp500 triliun. Namun, ia menyoroti bahwa alokasi belanja modal sektor migas dan petrokimia masih didominasi oleh produk permesinan, komponen elektrik, serta jasa rekayasa dari luar negeri. Oleh karena itu, Airlangga mendorong sinergi antar kementerian dan lembaga untuk meningkatkan rekayasa industri.

Tujuannya adalah merebut kembali porsi pengerjaan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) di dalam negeri. Proyek strategis seperti Andaman Project di lepas pantai Aceh juga diharapkan menjadikan Aceh sebagai laying down area. Hal ini akan memaksimalkan manfaat multiplier effect dan penyerapan tenaga kerja lokal secara signifikan.

“Kita ingin agar pekerjaan ini diambil oleh engineers-engineers Indonesia. Kemudian beberapa alat yang juga sudah kita siap, tentunya di Indonesia sudah punya wellhead, sudah punya valve, punya pressure vessel dan juga chemicals project ataupun product. Sehingga tentu ini diharapkan kemampuan dan juga multiplier effect dari project betul-betul bisa dimanfaatkan oleh industri dalam negeri,” ujar Menko Airlangga.

Konsistensi Perlindungan Masyarakat

Pemerintah juga tetap konsisten menjaga daya beli masyarakat dan keberpihakan pada sektor produktif rakyat. Hal ini dilakukan melalui penyediaan Pertalite dan Solar, termasuk penetapan harga khusus Solar sebesar Rp15.000 per liter untuk armada kapal nelayan dengan kapasitas 30-200 GT. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam melindungi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

Keunggulan Kompetitif Indonesia di Era Global

Menko Airlangga menggarisbawahi bahwa daya saing Indonesia saat ini ditopang oleh sejumlah keunggulan strategis. Mulai dari harga energi yang kompetitif, ketersediaan tenaga kerja, hingga berkembangnya ekosistem AI. Keunggulan tersebut telah mendorong tingginya minat investasi di Indonesia, termasuk di berbagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang sebagian besar telah terisi.

“Jadi inilah kesempatan yang hanya bisa kita panen 3 sampai 4 tahun ke depan. Sesudah itu dunia berubah lagi. Oleh karena itu kita manfaatkan dan kita kerja keras. Dan kuncinya adalah kemampuan daripada engineering dan capital goods, barang modal di Indonesia,” pungkasnya.

MORE FROM THIS CATEGORY