OJK Ungkap Anak Muda RI Masih Ragu Punya Asuransi

2 months ago  ·  4 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
kepala-departemen-pengawasan-asuransi-dan-jasa-penunjang-otoritas-jasa-keuangan-ojk-sumarjono-saat-menyampaikan-pemaparan-dala-1779534601319_169

OJK Ungkap Anak Muda RI Masih Ragu Punya Asuransi

Dailynesia.com – Yogyakarta, 23 Mei 2026 – Angka penetrasi asuransi di Indonesia belum sepenuhnya mengikuti laju pertumbuhan negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Menurut data yang diungkapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga 2025, tingkat penetrasi asuransi nasional hanya mencapai 2,7%. Meski angka ini menunjukkan peningkatan, kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, tentang manfaat asuransi masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari gelaran Educational Class Jogja Financial Festival 2026 bertema “Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera” di Jogja Expo Centre (JEC), Bantul, yang menjadi ajang diskusi mengenai pentingnya peran asuransi dalam kehidupan sehari-hari.

Penetrasi Asuransi dan Perbandingan dengan Negara ASEAN

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah pemangku kebijakan dan pengusaha, antara lain Kepala Departemen Pengawasan Asuransi OJK Sumarjono, Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, dan Stakeholder AAJI Handojo G Kusuma, serta Direktur Keuangan Indonesia Financial Group (IFG) Heru Handayanto. Sumarjono menyatakan, angka penetrasi asuransi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN. Ia menyoroti bahwa masyarakat belum sepenuhnya menyadari risiko yang bisa mengganggu kesejahteraan hidup. Faktor lain yang menghambat adopsi asuransi adalah keengganan banyak orang untuk mengambil langkah membeli polis karena pengalaman gagal bayar klaim di masa lalu.

Peningkatan Literasi Asuransi

Berdasarkan laporan OJK, tingkat literasi asuransi di Indonesia telah meningkat dari sekitar 36% pada 2024 menjadi 45% saat ini. Handojo G Kusuma menambahkan bahwa peningkatan ini disebabkan oleh semakin luasnya akses informasi tentang produk asuransi, termasuk di kalangan generasi muda. Namun, ia menegaskan bahwa tingkat inklusi asuransi, yaitu persentase masyarakat yang benar-benar membeli polis, masih rendah. Angka ini hanya berkisar antara 12% hingga 28%, meski menunjukkan peningkatan signifikan. “Kalau dibandingkan dengan 45% tingkat literasi, inklusivitasnya belum cukup tinggi,” kata Handojo. Ia menjelaskan bahwa kebanyakan orang mungkin memahami konsep asuransi, tetapi masih enggan mengimplementasikannya karena berbagai pertimbangan.

Perspektif Heru Handayanto tentang Kesiapan Risiko

Dalam sesi diskusi, Heru Handayanto dari IFG menekankan bahwa asuransi berperan sebagai alat kesiapan menghadapi risiko seperti sakit atau kecelakaan. “Dengan memiliki asuransi, kita bisa memastikan diri tetap aman meski terjadi hal-hal tak terduga,” ujarnya. Ia juga membantah persepsi umum bahwa asuransi selalu mahal. Menurut Heru, IFG menyediakan produk yang ramah, seperti Lifesaver, dengan premi mulai dari Rp50.000. Produk ini diklaim dapat menutupi biaya pengobatan akibat cedera ringan, termasuk patah tulang atau keseleo, tanpa menguras dompet.

Persepsi Masyarakat Terhadap Asuransi

Sesi diskusi juga menjadi platform untuk mendengar pandangan generasi muda. Beberapa pelajar mengungkapkan alasan mereka masih enggan membeli asuransi. Menurut mereka, istilah-istilah dalam dunia asuransi dianggap rumit dan kurang mudah dipahami. Selain itu, ada anggapan bahwa asuransi tidak memberikan imbal hasil yang setara dengan instrumen investasi lain, seperti saham. “Kita ingin menghasilkan keuntungan, jadi mungkin asuransi terkesan hanya untuk menanggung kerugian,” ujar salah satu peserta. Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang asuransi sebagai alat proteksi, bukan investasi, sehingga kurang tertarik untuk menggunakannya.

Peran Asuransi dalam Jangka Panjang

Sumarjono menggarisbawahi bahwa kesadaran akan pentingnya asuransi harus ditingkatkan sejak dini. “Untuk masa depan yang sejahtera, persiapan harus dimulai dari sekarang,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa keberadaan asuransi bukan hanya untuk mengatasi risiko finansial, tetapi juga sebagai bentuk investasi jangka panjang yang bisa mengurangi beban ketika terjadi keadaan darurat. Menurutnya, dengan memahami konsep gotong royong dalam asuransi, masyarakat bisa melihat manfaat yang lebih luas, seperti pembagian risiko antar peserta.

Strategi Peningkatan Inklusi Asuransi

OJK mengusulkan beberapa langkah untuk meningkatkan inklusi asuransi. Pertama, penguasaan informasi yang lebih baik melalui pendidikan dan sosialisasi. Kedua, pengembangan produk yang lebih fleksibel dan terjangkau untuk berbagai kalangan. Sumarjono juga menyoroti bahwa keterbukaan data dan transparansi proses klaim di industri asuransi adalah kunci untuk membangun kepercayaan masyarakat. “Kalau masyarakat percaya, mereka lebih mungkin membeli asuransi,” katanya. Ia optimis bahwa dengan upaya yang terus dilakukan, minat generasi muda terhadap asuransi akan meningkat.

Kebutuhan Asuransi untuk Kesejahteraan Jangka Panjang

Heru Handayanto menegaskan bahwa asuransi adalah investasi yang wajib dimiliki. “Kalau kita bisa mempersiapkan diri, risiko yang terjadi bisa diminimalkan,” ujarnya. Ia juga memaparkan bahwa manfaat asuransi tidak hanya berupa perlindungan, tetapi juga membangun kebiasaan finansial yang sehat. Selain itu, pihaknya berharap penggunaan produk asuransi bisa meningkat dengan mengedukasi masyarakat tentang berbagai opsi dan manfaatnya. “Asuransi bisa menjadi bagian dari gaya hidup modern yang lebih terencana,” tambahnya.

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan

Pelaksanaan Educational Class Jogja Financial Festival 2026 diharapkan menjadi titik balik dalam meningkatkan pengetahuan dan minat masyarakat terhadap asuransi. Dengan pendekatan yang lebih menarik dan relevan, generasi muda bisa lebih mudah memahami konsep ini. Sumarjono menyatakan bahwa pendidikan finansial menjadi bagian penting dari perencanaan masa depan. “Kita perlu menciptakan kesadaran bahwa asuransi bukan sekadar kebutuhan, tetapi juga alat investasi yang cerdas,” katanya. Dalam konteks kehidupan modern, keberadaan asuransi bisa memastikan bahwa setiap individu siap menghadapi berbagai ke

MORE FROM THIS CATEGORY