Yen Jepang Terus Melemah, BOJ Lakukan Intervensi Besar dalam Latest Program
Dailynesia.com – Otoritas keuangan Jepang, Bank of Japan (BOJ), dilaporkan melakukan pembelian aset besar-besaran selama April dan Mei lalu, dengan total dana mencapai 11,7 triliun yen atau sekitar US$ 74 miliar (Rp 1.331,07 triliun). Tujuan utamanya adalah memperkuat mata uang yen yang terus mengalami pelemahan hingga mencapai level terendah dalam 40 tahun terakhir. Menurut laporan CNBC Internasional, yen melemah hingga 162,83 terhadap dolar AS pada hari Selasa (2/7/2026). Ini menjadi fokus utama dalam Latest Program yang bertujuan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar yen.
Langkah-Langkah Intervensi dalam Latest Program
Latest Program yang diterapkan BOJ mencakup pembelian aset dari negara-negara yang menyebabkan tekanan terhadap yen, seperti obligasi pemerintah dan saham. Strategi ini dirancang untuk menarik investor ke dalam pasar yen dengan menawarkan alat investasi yang menarik. Meski begitu, para ahli menyebut bahwa intervensi ini hanya memberikan efek sementara, karena faktor eksternal seperti kebijakan moneter AS masih mendominasi.
Para ekonom mengingatkan bahwa kebijakan moneter mandiri BOJ mungkin tidak cukup untuk mengubah tren pelemahan yen. Perbedaan besar antara suku bunga BOJ dan The Fed menjadi faktor utama, karena kenaikan suku bunga AS dinilai lebih efektif menarik aliran investasi ke luar negeri. Dalam Latest Program, BOJ mempertahankan suku bunga acuan hanya 1%, yang dinilai masih terlalu rendah untuk bersaing dengan imbal hasil dolar AS.
“Intervensi bisa memperlambat penurunan, menekan spekulasi berlebihan, serta memberi sinyal ketidaknyamanan resmi. Namun, intervensi tidak mampu membatalkan prinsip matematika,” kata Christy Tan, spesialis strategi investasi global di Franklin Templeton Institute, yang dikutip Kamis (2/7/2026).
Dalam Latest Program, BOJ juga meninjau kembali kebijakan keuangan dan pasar valuta asing. Pemulihan nilai yen dinilai kurang efektif karena aliran dana masuk yang diharapkan tidak terwujud secara signifikan. Selain itu, pelemahan yen memperkuat praktik carry trade, di mana investor meminjam dana dalam yen untuk berinvestasi di mata uang lain yang lebih menguntungkan. Kondisi ini menekan nilai tukar yen hingga keluar dari pasar domestik.
Ekonomi Jepang dan Pemulihan Yen
Pelemahan yen juga memengaruhi kebijakan ekonomi Jepang. Meski secara tidak langsung memberikan manfaat bagi korporasi besar, seperti meningkatkan pendapatan luar negeri, pelemahan ini menimbulkan dilema bagi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Kebijakan moneter yang diambil dalam Latest Program mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyebabkan kenaikan harga barang impor, menguras anggaran belanja rumah tangga, dan memicu ekspektasi inflasi yang memperparah tekanan.
Analisis menunjukkan bahwa Latest Program harus diimbangi dengan kebijakan fiskal yang lebih agresif. Pemerintah Jepang perlu mengalokasikan dana tambahan untuk mengurangi dampak inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi. Selain itu, kebijakan ini juga harus disesuaikan dengan kondisi pasar global, terutama di tengah dominasi dolar AS yang terus menguat.
“Investor terus memanfaatkan keuntungan dari carry trade selama mereka bisa meminjam dengan murah dalam yen dan menghasilkan keuntungan lebih besar dalam dolar,” tambah Christy Tan. “Tokyo ingin menguatkan yen tanpa sepenuhnya menerima biaya dari kebijakan yang diambil dalam Latest Program.”
Dalam upaya mengatasi pelemahan yen, BOJ juga mempertimbangkan intervensi multilateral dengan dukungan AS. Strategi ini dianggap lebih efektif untuk menciptakan perubahan permanen, karena menggabungkan kebijakan moneter dan politik luar negeri. Perbandingan dengan mata uang lain, seperti euro-yen yang hanya turun 0,9% tahun ini, menunjukkan bahwa yen masih memiliki peluang untuk pulih jika Latest Program diterapkan secara konsisten.

