Video: Temui Prabowo, Purbaya Bawa Daftar 10 Eksportir Under Invoicing

3 months ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
temui-prabowo-purbaya-bawa-daftar-10-eksportir-pelaku-under-invoicing-1779356039110_169

Key Strategy: Purbaya Temui Prabowo, Sampaikan Daftar 10 Eksportir Under Invoicing

Dailynesia.com – Pada 21 Mei 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan pertemuan strategis dengan Presiden Prabowo Subianto dalam acara Closing Bell CNBC Indonesia. Dalam sesi tersebut, Purbaya membawa daftar 10 eksportir yang diduga melakukan under invoicing, strategi yang menjadi fokus utama dalam upaya menegakkan kebijakan fiskal yang lebih transparan. Pertemuan ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengupas tuntas isu keuangan, tetapi juga menggarisbawahi komitmen pemerintah dalam menekan praktik ekonomi gelap yang merugikan negara.

Under Invoicing: Penyebab Kerugian Negara yang Tidak Boleh Diabaikan

Under invoicing, atau pengurangan nilai faktur ekspor, adalah praktik yang sering dilakukan oleh perusahaan untuk menghindari pajak. Dalam skenario ini, nilai barang yang dijual ke luar negeri diatur lebih rendah dari harga pasar, sehingga mengurangi pajak yang harus dibayarkan. Purbaya menekankan bahwa under invoicing telah menjadi ancaman serius bagi penerimaan negara, terutama dalam konteks penguatan anggaran tahun 2026. “Key Strategy kami adalah memastikan setiap transaksi ekspor diakui secara lengkap untuk menghindari penipuan pajak,” jelasnya dalam wawancara terbatas. Ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas data ekonomi dan memastikan keadilan dalam sistem pungutan pajak.

Strategi Purbaya: Menegakkan Transparansi dalam Perdagangan Internasional

Dalam pertemuan dengan Prabowo, Purbaya menyoroti pentingnya melakukan audit menyeluruh terhadap eksportir yang diduga melakukan under invoicing. Langkah ini dirancang untuk menemukan titik temu antara kebijakan fiskal dan pertumbuhan ekonomi. “Key Strategy kita adalah memperkuat pengawasan terhadap transaksi ekspor agar tidak ada keuntungan tidak sah yang diambil dari pemerintah,” ujarnya. Di samping itu, ia juga mengungkapkan rencana untuk memperkenalkan teknologi digital dalam pelaporan ekspor, yang diharapkan dapat meningkatkan akurasi data dan mempercepat proses pemeriksaan. Purbaya menyatakan bahwa inisiatif ini akan menjadi pilar utama dalam memperbaiki sistem keuangan nasional.

Praktik Under Invoicing: Pengaruh pada Penerimaan Pajak dan Pertumbuhan Ekonomi

Under invoicing bukan hanya masalah pajak, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Dengan memperkecil nilai faktur, perusahaan mampu mengurangi beban biaya mereka, termasuk pajak penghasilan dan pajak nilai tambah. Namun, praktik ini juga mengakibatkan hilangnya pendapatan negara yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan. Purbaya menekankan bahwa ini adalah tantangan yang harus diatasi dengan Key Strategy yang terintegrasi, mulai dari pengawasan internal hingga kerja sama dengan lembaga internasional. “Kita perlu memastikan bahwa semua ekspor dilaporkan secara benar, karena itu menjadi bagian dari kebijakan fiskal yang terstruktur,” tambahnya. Ia juga menyoroti peran inspeksi keuangan dalam menindaklanjuti temuan ini.

Langkah Konservatif: Memangkas Pengeluaran Tanpa Mengorbankan Pertumbuhan

Sebagai bagian dari Key Strategy, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan tetap memprioritaskan pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan kebocoran pajak. “Kita tidak ingin mengorbankan investasi, tetapi harus memastikan setiap dolar yang masuk ke negara digunakan dengan efisien,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa daftar 10 eksportir yang diungkapkan akan menjadi dasar untuk evaluasi lebih lanjut, termasuk insentif pajak yang diberikan kepada perusahaan yang kompeten. Purbaya juga meminta kerja sama dari para pengusaha untuk memahami manfaat dari transparansi dan kejujuran dalam pelaporan ekspor.

Harapan dan Tantangan di Tahun 2026: Key Strategy untuk Ekonomi yang Lebih Kuat

Pertemuan ini diharapkan menjadi awal dari perbaikan sistem keuangan nasional. Purbaya menyatakan bahwa Key Strategy yang diterapkan akan mencakup pelatihan bagi petugas pajak, penerapan sistem digital, dan kerja sama dengan lembaga internasional untuk memantau transaksi. Namun, tantangan terbesar adalah mengubah budaya bisnis yang masih mengutamakan keuntungan jangka pendek. “Kita perlu membangun kesadaran kolektif bahwa kejujuran ekonomi adalah investasi untuk masa depan,” ujarnya. Dengan Key Strategy yang konsisten, pemerintah menargetkan peningkatan pendapatan pajak hingga 5% pada akhir tahun 2026.

“Key Strategy ini adalah langkah yang penuh keberanian, karena kita harus menyeimbangkan antara ketatnya regulasi dan kepercayaan investor,” tutur Purbaya dalam wawancara terbatas setelah pertemuan.

Dengan mengungkap daftar eksportir under invoicing, Purbaya dan Prabowo menunjukkan komitmen untuk menjaga integritas sistem keuangan. Pertemuan ini juga menjadi momentum untuk menyelaraskan langkah kebijakan antara pemerintah dan sektor ekonomi. Key Strategy yang diusung tidak hanya mengarah pada keberhasilan kini, tetapi juga mendorong pembangunan yang berkelanjutan. Harapan besar menyelimuti langkah ini, baik dari pemerintah maupun masyarakat yang ingin melihat penerapan regulasi yang lebih efektif dan transparan.

MORE FROM THIS CATEGORY