Terungkap! Israel Sudah Kuasai 60% Wilayah Gaza, Segera 70%

2 months ago  ·  4 min read
By David Williams - dailynesia.com
38f26743-2eef-4228-bf20-39423eda44d5-0

Israel Kuasai 60% Wilayah Gaza, Target Meningkatkan Hingga 70%

Kontrol Militer Israel Meluas, Pemimpin Hamas Jadi Sasaran Utama

Dailynesia.com – Kontrol militer Israel atas Jalur Gaza terus mengalami peningkatan, dengan pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negara tersebut telah menempati 60% wilayah Palestina tersebut. Langkah ini diambil dalam konteks operasi militer yang semakin ganas, meski ada upaya gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS). Dalam konferensi yang diadakan di permukiman Tepi Barat yang diduduki Israel, Netanyahu menyampaikan arahan untuk terus memperluas area yang dikendalikan oleh pasukan negara itu, segera menuju 70%.

“Kami berada di angka 50%, lalu meningkatkan hingga 60%. Instruksi saya adalah terus melangkah maju. Mari kita lakukan secara bertahap,” ujar Netanyahu, seperti dilaporkan Reuters pada Jumat (29/5/2026).

Kontrol yang lebih luas tersebut terjadi setelah perang yang berlangsung sejak serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023. Menurut laporan militer, sekitar 64% Jalur Gaza kini berada di bawah pengawasan Israel, dengan zona terlarang yang terus diperluas. Peta militer yang dirilis Maret lalu menunjukkan pergeseran batas yang mengakibatkan sebagian besar wilayah Palestina terkurung di bawah tekanan militer.

Perubahan Garis Kuning dan Strategi “Zona Penyangga”

Sebelumnya, dalam kesepakatan gencatan senjata yang dipimpin AS pada Oktober 2023, Israel seharusnya menarik pasukan ke Garis Kuning sebagai batas kontrol antara kedua pihak. Namun, Reuters melaporkan bahwa Israel secara sepihak memindahkan blok beton yang menjadi penanda batas tersebut, menggeser garis ke wilayah yang semula dijaga oleh Hamas. Perubahan ini dianggap sebagai bagian dari strategi untuk memperluas pengaruh militer di Gaza.

Netanyahu menjelaskan bahwa area yang direbut Israel di Gaza, Suriah, dan Lebanon disebut sebagai “zona penyangga” guna mencegah serangan dari kelompok militan di masa depan. Ia menekankan bahwa pasukan akan menekan lawan dari segala arah, sebelum menyelesaikan tugas akhir mereka.

Kritik dari Warga Palestina dan Krisis Kemanusiaan

Di sisi lain, warga Palestina menilai perluasan wilayah Israel sebagai bagian dari rencana jangka panjang untuk mengusir mereka secara permanen dari Gaza. Kekhawatiran ini semakin memuncak setelah Menteri Pertahanan Israel, Katz, menekankan konsep “migrasi sukarela” sebagai langkah untuk mengalihkan populasi ke daerah lain. Pernyataan tersebut memicu kritik dari berbagai pihak yang khawatir akan meningkatnya tekanan terhadap masyarakat sipil.

Krisis kemanusiaan di Gaza kembali memburuk ketika serangan militer Israel meningkat. Selasa lalu, Israel mengklaim telah membunuh kepala sayap bersenjata Hamas, hanya 10 hari setelah membunuh pendahulunya. Pada Rabu malam, serangan tambahan mengakibatkan kematian 10 orang, termasuk lima anak-anak, dan melukai 18 warga. Serangan ini terjadi saat warga Palestina sedang merayakan Iduladha, di tengah kondisi pengungsian dan reruntuhan bangunan akibat perang.

“Kami keluar sambil mendengar suara ledakan. Kami duduk selama satu jam sebelum bisa melewati puing-puing dan menemukan jalan keluar dari tenda,” kata Etidal Al-Za’im, seorang warga Gaza.

Warga lainnya, Abu Azam, menyatakan bahwa situasi di wilayah itu kini tidak lagi aman. “Seseorang di Gaza bisa tertembak di jalan, di rumah, di rumah sakit, atau bahkan saat berbelanja di pasar,” ujarnya. Kondisi ini semakin memperparah ketegangan, dengan banyak korban yang terus bertambah.

Replikasi Kontrol dan Tantangan di Depan

Kontrol Israel atas Gaza bukan hanya terkait dengan wilayah fisik, tetapi juga mencakup pengaturan logistik dan keamanan. Dengan menguasai 60% wilayah, Israel mengontrol akses ke sumber daya penting seperti air, makanan, dan transportasi, yang menjadi perhatian utama bagi warga setempat. Meski terdapat upaya untuk menegosiasikan gencatan senjata, PM Netanyahu mempertahankan fokus pada peningkatan kontrol militer.

Menurut laporan, perluasan zona terlarang telah membatasi kebebasan gerak warga Palestina. Banyak pemukiman dan daerah yang sebelumnya dianggap aman kini menjadi sasaran operasi. Selain itu, serangan terbaru mengarah pada pencarian pemimpin senior Hamas, yang dinilai sebagai ancaman utama bagi kestabilan wilayah tersebut. Perang ini telah mengakibatkan ribuan korban, termasuk ratusan anak-anak, dan menghancurkan infrastruktur kota.

Ketegangan di Gaza kini tidak hanya terbatas pada pertarungan di medan perang, tetapi juga mengarah pada perlombaan pengasingan warga. Dengan kondisi yang terus memburuk, banyak yang menilai bahwa tindakan Israel bertujuan untuk menciptakan situasi yang memaksa warga Palestina meninggalkan kamp pengungsian mereka. Keputusan ini memicu kecaman internasional, dengan berbagai lembaga menilai bahwa krisis kemanusiaan akan semakin parah jika tidak ada intervensi yang lebih cepat.

Perjalanan Pemimpin Hamas dan Impak Serangan Terbaru

Selama beberapa minggu terakhir, Israel melakukan operasi intens untuk menangkap tokoh-tokoh Hamas. Pada Selasa, mereka mengklaim telah membunuh kepala sayap bersenjata Hamas, menjadikan anggota kelompok itu sebagai sasaran utama. Serangan tersebut dilakukan dalam rangka memastikan bahwa ancaman dari Hamas dapat diatasi sebelum terjadi serangan skala besar.

Kontrol yang semakin luas atas wilayah Gaza tidak hanya menambah tekanan pada warga sipil, tetapi juga memperkuat dominasi militer Israel. Banyak yang mengkhawatirkan bahwa strategi ini akan berujung pada pembentukan wilayah yang terpisah dari kekuasaan Hamas, mengubah status quo politik dan sosial di area itu. Meski demikian, Netanyahu tetap yakin bahwa perluasan 70% adalah langkah penting untuk menciptakan keamanan jangka panjang.

Di tengah situasi ini, warga Palestina terus mengeluhkan kondisi yang memburuk. Mereka mengatakan bahwa kehidupan sehari-hari menjadi berisiko tinggi, dengan serangan yang bisa terjadi kapan saja. Peta militer dan pergeseran garis batas menjadi bukti nyata bahwa Israel sedang bergerak untuk mengubah struktur wilayah Gaza secara permanen.

Kebijakan Israel ini menjadi topik pembicaraan utama di berbagai forum internasional, dengan kritik terhadap upaya menggusur populasi Palestina. Namun, PM Netanyahu berpegang pada pandangan bahwa perluasan kontrol adalah jalan untuk menstabilkan keamanan dan mencegah krisis lebih lanjut. Dengan angka 70% sebagai target, langkah ini diharapkan menjadi bagian dari strateg

MORE FROM THIS CATEGORY