Indonesia Dorong Perikanan Skala Kecil Berkelanjutan di Forum FAO
Dailynesia.com – Penguatan nelayan kecil kembali menjadi fokus Indonesia dalam agenda pembangunan kelautan yang berkelanjutan. Dalam Sidang ke-37 Komite Perikanan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO Committee on Fisheries (COFI) di Roma, Italia, Senin (7/9), Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan arah kebijakan Indonesia untuk menjaga laut, memperkuat pasokan pangan, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir.
Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia membuat pengelolaan perikanan memiliki arti strategis. Laut bukan hanya ruang produksi, melainkan juga sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat yang hidup dari aktivitas penangkapan, pengolahan, hingga perdagangan hasil perikanan.
“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tetap berkomitmen penuh terhadap perikanan berkelanjutan yang melindungi laut, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan,” ujar Trenggono.
Nelayan kecil menjadi tulang punggung
Sekitar 90% nelayan di Indonesia berada dalam kategori nelayan skala kecil. Kelompok ini memberi kontribusi besar bagi hasil perikanan tangkap nasional, sekaligus menjadi bagian penting dalam kehidupan ekonomi di banyak kawasan pantai dan pulau-pulau kecil.
Karena perannya yang luas, kebijakan perikanan tidak cukup hanya berorientasi pada volume produksi. Penguatan akses, kelembagaan, keterampilan, pasar, dan perlindungan sumber daya perairan perlu berjalan bersamaan agar kegiatan melaut dapat tetap menopang kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.
Komitmen tersebut diterjemahkan melalui Rencana Aksi Nasional Perikanan Skala Kecil atau National Plan of Action for Small-Scale Fisheries (NPOA-SSF). Dokumen ini menjadi bentuk penerapan Pedoman Sukarela FAO untuk Perikanan Skala Kecil yang Berkelanjutan.
Indonesia termasuk dalam kelompok terbatas anggota FAO yang telah menyusun rencana aksi nasional tersebut. Di kawasan Asia, Indonesia dan Filipina tercatat sebagai negara yang telah mempunyai NPOA-SSF. Kehadiran rencana aksi ini memperlihatkan upaya Indonesia untuk memperkuat tata kelola sekaligus mendorong kesejahteraan nelayan kecil secara lebih terarah.
KNMP sebagai program di tingkat masyarakat
Dalam forum internasional itu, Trenggono menekankan bahwa keberpihakan kepada nelayan kecil harus terlihat dalam program yang memberi dampak langsung. Salah satu instrumen yang disiapkan pemerintah adalah Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
KNMP dirancang sebagai pengembangan kawasan nelayan yang terintegrasi. Cakupannya tidak terbatas pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga penguatan organisasi dan koperasi nelayan, perluasan akses pasar, peningkatan kemampuan masyarakat, pengembangan rantai nilai produk perikanan, serta keterlibatan warga dalam menjaga kelestarian laut.
Pendekatan tersebut penting karena nilai hasil tangkapan tidak hanya ditentukan saat ikan dibawa ke darat. Pengelolaan pascapanen, kemampuan menjangkau pembeli, kerja sama antarwarga, dan penguatan kelembagaan juga memengaruhi manfaat ekonomi yang bisa diterima nelayan dan keluarganya.
“KNMP adalah salah satu contoh bagaimana komitmen Indonesia terhadap perikanan skala kecil diterjemahkan dari kebijakan nasional menjadi aksi nyata di tingkat masyarakat,” kata Trenggono.
Pada 2025, pemerintah telah membangun 100 KNMP di berbagai daerah Indonesia. Pengembangannya ditargetkan menjangkau hingga 5.000 desa pada 2029. Target tersebut menempatkan kampung nelayan sebagai salah satu bagian penting dalam agenda peningkatan kesejahteraan pesisir dan penguatan sektor perikanan nasional.
Program di tingkat desa juga memperlihatkan bahwa perlindungan ekosistem dan kepentingan ekonomi tidak harus diposisikan sebagai dua tujuan yang saling bertentangan. Laut yang dikelola secara berkelanjutan dapat mendukung ketersediaan sumber daya, sementara masyarakat memperoleh ruang lebih besar untuk mengembangkan penghidupan yang layak.
Apresiasi untuk agenda Transformasi Biru FAO
Selain membahas nelayan kecil, Indonesia menyampaikan apresiasi terhadap agenda Blue Transformation atau Transformasi Biru yang didorong FAO. Agenda tersebut dipandang sejalan dengan arah Ekonomi Biru Indonesia, yang menekankan pengelolaan sumber daya laut dan perairan secara berkelanjutan sambil menciptakan manfaat sosial dan ekonomi.
“Indonesia mengapresiasi agenda Transformasi Biru FAO. Semangatnya sejalan dengan ekonomi biru Indonesia, yaitu bagaimana sumber daya laut dan perairan dapat dikelola secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat,” ujar Trenggono.
Keterkaitan antara Transformasi Biru dan Ekonomi Biru memberi kerangka yang lebih luas bagi kebijakan perikanan. Tujuannya mencakup keberlanjutan sumber daya perairan, ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, serta perbaikan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada laut.
Di tengah karakter Indonesia sebagai negara maritim, nelayan kecil memegang posisi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir. Mereka berhadapan langsung dengan kondisi laut, musim, hasil tangkapan, dan kebutuhan pasar. Karena itu, penguatan perikanan skala kecil memiliki dampak yang melampaui sektor penangkapan semata.
NPOA-SSF dan pelaksanaan KNMP menjadi dua contoh bagaimana kebijakan nasional diarahkan hingga ke level komunitas. Indonesia juga memandang pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi negara lain dalam menerjemahkan komitmen internasional tentang perikanan skala kecil menjadi program yang nyata dan dapat dirasakan masyarakat.
Apresiasi atas komitmen Indonesia turut muncul dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Perikanan Skala Kecil atau Small-Scale Fisheries Summit pada 6 September 2026. Dukungan dari sejumlah negara dan organisasi nonpemerintah menandai relevansi agenda ini dalam percakapan global tentang masa depan perikanan yang inklusif.
Melalui penguatan tata kelola, pemberdayaan komunitas, serta pengembangan kampung nelayan, Indonesia berupaya menunjukkan bahwa kesejahteraan nelayan dan perlindungan laut dapat bergerak dalam arah yang sama. Tantangan pelaksanaannya akan berada pada konsistensi program di lapangan, namun arah yang dibawa menempatkan masyarakat pesisir sebagai bagian utama dari pembangunan perikanan berkelanjutan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Indonesia Perkuat Perikanan Skala Kecil melalui?
Indonesia Perkuat Perikanan Skala Kecil melalui is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Indonesia Perkuat Perikanan Skala Kecil melalui matter?
Indonesia Perkuat Perikanan Skala Kecil melalui matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

