Kesiapan Air dan Listrik Jadi Syarat Utama Pengembangan Data Center
Dailynesia.com – Pertumbuhan pusat data di Indonesia perlu berjalan seiring dengan kemampuan daerah menyediakan listrik dalam skala besar dan air yang cukup. Pemerintah menempatkan dua kebutuhan tersebut sebagai pertimbangan penting ketika menilai lokasi maupun rencana pembangunan fasilitas data center.
Perhatian ini muncul di tengah kekhawatiran warga mengenai kemungkinan berkurangnya ketersediaan air di kawasan yang menjadi lokasi operasional pusat data. Fasilitas digital berskala besar memang membutuhkan pasokan daya yang stabil untuk menjalankan server dan sistem pendukungnya, sementara air dapat dibutuhkan dalam proses pengelolaan suhu serta operasional lainnya.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa pembangunan data center harus disesuaikan dengan kondisi infrastruktur serta daya dukung sumber daya di wilayah tujuan. Pertimbangan itu mencakup potensi kelistrikan dan kemampuan pasokan air setempat.
“Data center itu kan membutuhkan dua, itu listrik besar itu dan juga ketersediaan air. Jadi ya kita juga melihat itu pengembangan data center itu sesuai dengan itu potensi listrik dan ketersediaan air,” ujar Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan investasi data center tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lahan, akses internet, atau kedekatan dengan pasar. Keandalan jaringan listrik dan kecukupan air menjadi fondasi yang menentukan apakah fasilitas tersebut dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa menambah tekanan berlebihan terhadap kebutuhan masyarakat sekitar.
PLTN Berpeluang Menjadi Salah Satu Opsi
Selain isu air, kebutuhan energi untuk data center menjadi perhatian utama. Operasional pusat data berlangsung terus-menerus sehingga memerlukan sumber listrik yang stabil dan berkapasitas besar. Dalam konteks itu, Yuliot membuka peluang pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN sebagai salah satu pilihan energi untuk mendukung beban listrik industri digital.
“Mungkin,” kata Yuliot saat ditanya peluang PLTN sebagai salah satu opsi sumber energi bagi data center.
Jawaban tersebut menunjukkan bahwa opsi energi bersih untuk menopang industri digital tetap terbuka. Namun, pengembangan sumber daya listrik bagi data center pada akhirnya perlu mempertimbangkan kesiapan sistem ketenagalistrikan, karakteristik wilayah, serta kebutuhan jangka panjang dari fasilitas yang dibangun.
Bagi industri pusat data, pasokan listrik yang tidak andal dapat mengganggu layanan digital yang bergantung pada server aktif sepanjang waktu. Karena itu, ketersediaan pembangkit, jaringan transmisi, dan kemampuan memenuhi permintaan daya merupakan aspek yang tak terpisahkan dari rencana pembangunan fasilitas baru.
Potensi Energi Terbarukan Indonesia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengajak investor untuk mengembangkan data center di Indonesia. Ia menilai Indonesia memiliki sumber energi yang besar dan beragam untuk mendukung kebutuhan industri tersebut, termasuk potensi energi hijau yang relevan dengan arah perkembangan pusat data global.
Salah satu potensi tenaga air yang disorot berada di Sungai Mamberamo, Papua, dengan kapasitas sekitar 23 gigawatt atau GW. Sementara itu, potensi pembangkit listrik tenaga air di Sungai Kayan, Kalimantan, diperkirakan mencapai sekitar 12 GW.
“Kita tahu bahwa di beberapa negara sekarang kebutuhan terhadap energi sudah mulai ngos-ngosan, apalagi energi baru terbarukan. Data center, wah, ini banyak sekali. Bapak-Ibu semua, para investor tidak perlu ragu kalau mau membangun data center di Indonesia,” ujar Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, dikutip Kamis (24/9/2026).
Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan sumber energi yang tersebar di berbagai daerah. Pilihannya meliputi tenaga surya, air, panas bumi, dan angin. Keragaman ini memberi ruang bagi pengembangan infrastruktur energi yang disesuaikan dengan karakter setiap wilayah.
“Ada yang mau membangun di Kalimantan, ada yang di Sumatra. Kalau ada yang butuh tenaga air, PLTA di Papua, di Sungai Mamberamo itu potensinya 23 gigawatt. Kalau di Kalimantan, di Kayan, kurang lebih sekitar 12 gigawatt. Banyak sekali,” jelasnya.
Ketersediaan energi rendah emisi semakin penting bagi pelaku industri data center yang memperhatikan penggunaan listrik hijau. Kebutuhan komputasi, penyimpanan data, layanan cloud, dan sistem digital lain terus menambah permintaan daya. Dalam situasi tersebut, negara yang mampu menyediakan listrik bersih dan andal memiliki peluang lebih besar menarik investasi infrastruktur digital.
Target Pembangkitan dan Transisi Energi
Pemerintah menyatakan komitmen untuk mengejar emisi nol bersih atau net zero emission pada rentang 2050 hingga 2060. Arah tersebut diterjemahkan ke dalam sejumlah program penyediaan energi, termasuk Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2025-2034.
RUPTL 2025-2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Sebanyak 70% dari tambahan kapasitas itu direncanakan berasal dari energi baru terbarukan. Di saat bersamaan, pemerintah juga mempercepat program Pembangkit Listrik Tenaga Surya 100 GW yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun.
“Ini bukan hanya sekadar tema, tetapi langsung dibuat program yang konkret,” tegas Bahlil.
Pengembangan data center, dengan demikian, perlu dipandang sebagai pertemuan antara pertumbuhan ekonomi digital dan tata kelola sumber daya. Investasi dapat membawa kebutuhan baru terhadap listrik dan air, tetapi perencanaan lokasi yang matang diperlukan agar manfaatnya berjalan sejalan dengan ketahanan pasokan bagi daerah. Pemetaan potensi energi serta ketersediaan air akan menjadi bagian penting dalam menentukan kawasan yang layak menampung fasilitas pusat data berskala besar.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Data Center Sedot Banyak Air dan Energi?
Data Center Sedot Banyak Air dan Energi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Data Center Sedot Banyak Air dan Energi matter?
Data Center Sedot Banyak Air dan Energi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

