News

Crazy Rich Ngamuk Beli Vila Malah Ambruk, Langsung Gugat Pengembang

ilustrasi-bendera-vietnam-ist-1_169

Taipan 80 Tahun Menangi Sebagian Gugatan atas Kerusakan Vila Mewah

Dailynesia.com – Seorang pengusaha perempuan berusia 80 tahun di Vietnam, Tran Thi Toan, memperoleh kemenangan sebagian dalam sengketa properti mewah yang melibatkan proyek Ba Son Central Complex. Pengadilan Rakyat Wilayah 1 Vietnam memerintahkan Elegance Real Estate Investment Company membayar biaya perbaikan setelah pembangunan proyek di dekat vila-vila milik Toan dinilai mempercepat penurunan tanah.

Putusan itu muncul dari gugatan ganti rugi non-kontrak yang diajukan Toan terhadap Elegance sebagai investor Ba Son Central Complex dan Masterise Real Estate Development sebagai pengembang proyek. Sengketa ini berpusat pada enam vila berdekatan di kawasan Vinhomes Golden River Ba Son, salah satu area hunian elite di Vietnam.

Toan dikenal sebagai pendiri dan pengelola Toan Thang Co. Ltd., perusahaan yang memiliki usaha tambang batu putih serta hotel mewah. Pada 2017, ia menarik perhatian setelah membeli enam unit vila sekaligus di kawasan tersebut. Nilai keseluruhan properti itu kini disebut mencapai triliunan dong Vietnam, setara sekitar US$38,5 juta atau Rp685,3 miliar.

Pembangunan Gedung Tinggi Memicu Sengketa

Persoalan mulai berkembang pada 2020, saat Elegance memulai pembangunan gedung pencakar langit Ba Son Central Complex tepat di sisi deretan vila milik Toan. Pemilik properti itu menyatakan pekerjaan konstruksi membuat bangunan mengalami retakan dan penurunan struktur.

“Pembangunan proyek tersebut menyebabkan vila-vila mewah ini retak dan amblas,” tutur Toan.

Kerusakan tersebut, dalam gugatan Toan, tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik bangunan. Ia juga menyatakan keadaan vila membuatnya kesulitan menjalankan kewajiban pada perjanjian sewa yang telah dibuat dengan penyewa. Empat vila kemudian dilaporkan kosong dan tidak digunakan.

“Kerusakan ini membuat saya tidak dapat memenuhi sewa yang ditandatangani, sehingga empat vila kosong terbengkalai.”

Atas dasar itu, Toan menuntut total kompensasi dalam dua kelompok. Pertama, ia meminta US$150.000 atau sekitar Rp2,67 miliar untuk membiayai perbaikan properti. Kedua, ia menagih US$1,58 juta, setara Rp28,12 miliar, sebagai penggantian pendapatan sewa yang dinilai hilang.

Perbedaan Pandangan soal Penyebab Kerusakan

Elegance membantah tuntutan tersebut. Perusahaan menyatakan tidak memiliki hubungan perjanjian langsung dengan Toan dan menolak menanggung seluruh klaim yang diajukan. Pihak investor juga berpendapat bahwa kondisi alam berperan besar karena vila-vila itu berdiri di atas tanah dengan karakteristik lunak.

Selain menolak tanggung jawab atas kerusakan, Elegance meminta agar bukti terkait pendapatan sewa tidak dipertimbangkan. Perusahaan menilai dokumen penghasilan yang diajukan dalam persidangan diperoleh dengan cara yang tidak sah.

Masterise, yang menjadi tergugat pendamping, mengambil posisi berbeda. Perusahaan menegaskan bahwa perannya dalam proyek terbatas sebagai pengembang, bukan investor. Karena itu, Masterise meminta dibebaskan dari seluruh proses dan tanggung jawab perkara tersebut.

Dalam perjalanan sidang, Toan juga menolak kesimpulan Saigon Construction Inspection JSC yang mengevaluasi penyebab kerusakan bangunan. Ia sempat meminta persidangan ditunda agar dapat menyerahkan penilaian dari firma independen pilihannya.

Pengadilan Nilai Konstruksi Mempercepat Penurunan Tanah

Majelis hakim akhirnya tidak mengabulkan seluruh permintaan Toan, tetapi menetapkan Elegance tetap memiliki kewajiban membayar sebagian biaya pemulihan. Jumlah yang harus ditanggung perusahaan itu sebesar US$65.384, sekitar Rp1,16 miliar.

Catatan pemeriksaan kondisi vila sebelum pembangunan dimulai menunjukkan bahwa sejumlah masalah memang telah ada sebelumnya. Di antaranya retakan halus pada dinding perimeter, keretakan pada pilar pagar, serta penurunan di beberapa titik bangunan. Kondisi tanah lunak di kawasan tersebut dipandang sebagai salah satu faktor yang telah memengaruhi properti sebelum proyek gedung tinggi berjalan.

Meski demikian, pengadilan menyimpulkan kegiatan pembangunan di sekitar lokasi turut memperburuk keadaan. Pemompaan air tanah dan penggunaan peralatan berat dalam proyek Ba Son Central Complex dinilai mempercepat proses penurunan tanah di area vila.

“Kerusakan pada vila 16 dan 17 terutama berasal dari dampak pembangunan proyek Ba Son Central Complex,” paparnya.

Artinya, pengadilan membedakan kondisi masing-masing vila, bukan menyamaratakan seluruh kerusakan sebagai akibat proyek konstruksi. Tanggung jawab Elegance dikaitkan secara khusus dengan kerusakan pada vila nomor 16 dan 17.

Sementara itu, kerusakan pada vila nomor 14, 15, 18, dan 19 dinilai berhubungan dengan penurunan alami pada infrastruktur bangunan dan lingkungan sekitarnya. Bagian klaim untuk empat unit tersebut tidak ditempatkan sebagai akibat langsung pembangunan Ba Son Central Complex.

Klaim Pendapatan Sewa Tidak Dikabulkan

Pengadilan juga membebaskan Masterise dari tanggung jawab. Pertimbangan utamanya adalah posisi perusahaan tersebut sebagai pengembang proyek, bukan pihak investor yang dinilai terkait dengan dampak konstruksi dalam perkara ini.

Kontraktor pembangunan disebut berpotensi memikul tanggung jawab bersama Elegance. Namun, Toan tidak memasukkan kontraktor itu sebagai tergugat dalam perkara yang sedang diperiksa. Putusan tersebut tetap membuka peluang bagi Toan untuk mengajukan gugatan perdata terpisah terhadap kontraktor di kemudian hari.

Bagian terbesar dari tuntutan Toan justru tidak diterima, yakni kompensasi US$1,58 juta untuk kehilangan pendapatan sewa. Majelis menilai bukti yang disampaikan belum cukup menunjukkan adanya kerugian nyata dalam jumlah tersebut.

Pengadilan juga tidak menemukan pembuktian yang memadai mengenai hubungan langsung antara kerusakan vila dan berakhirnya kontrak para penyewa. Dengan kata lain, kondisi bangunan belum terbukti sebagai penyebab utama batal atau putusnya perjanjian sewa yang menjadi dasar tuntutan pendapatan hilang.

Kasus ini memperlihatkan pentingnya membedakan kerusakan yang telah ada akibat karakteristik lahan dengan dampak tambahan dari aktivitas konstruksi di sekitarnya. Dalam perkara properti bernilai tinggi, pembuktian mengenai kondisi awal bangunan, perubahan lingkungan, penyebab kerusakan, hingga kerugian ekonomi menjadi faktor yang menentukan hasil gugatan.

Frequently Asked Questions

What is Crazy Rich Ngamuk Beli Vila Malah?

Crazy Rich Ngamuk Beli Vila Malah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Crazy Rich Ngamuk Beli Vila Malah matter?

Crazy Rich Ngamuk Beli Vila Malah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *