News

Bahlil Usulkan Anggaran Kementerian ESDM di 2027 Rp27,3 Triliun

menteri-esdm-bahlil-lahadalia-saat-raker-dengan-komisi-xii-dpr-ri-senin-3182026-youtubetvr-parlemen-1788172453375_169

Pagu Anggaran Rp 27,37 Triliun Jadi Kendali Kebijakan Energi Nasional 2027

Dailynesia.com – Di tengah tekanan fiskal yang masih membayangi belanja negara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengajukan pagu anggaran senilai Rp 27,37 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Angka ini bukan sekadar baris angka dalam dokumen perencanaan; ia menjadi instrumen utama bagi pemerintah untuk mengejar kedaulatan energi sekaligus menjangkau lapisan masyarakat yang selama ini tertinggal dari akses layanan dasar. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan langsung usulan tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Mayoritas Dana Ditarik ke Program Kerakyatan

Yang paling menonjol dari struktur anggaran ini adalah porsi besar yang diarahkan ke program kerakyatan. Dari total Rp 27,37 triliun, sebanyak 82%—setara Rp 22,51 triliun—dialokasikan untuk kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan warga, mulai dari penyediaan jaringan gas rumah tangga hingga elektrifikasi wilayah pedesaan. Keputusan ini mencerminkan pergeseran prioritas: bukan lagi sekadar pembangunan infrastruktur skala besar yang berorientasi ekspor, melainkan distribusi manfaat energi ke seluruh pelosok negeri.

“Kementerian ESDM memperoleh pagu anggaran sebesar Rp 27,37 triliun. Saya juga terima kasih ini atas bantuan Bapak Ibu anggota Komisi 12 yang memperjuangkan agar anggaran kita ini cukup kenaikannya cukup baik,” ungkap Bahlil dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Bahlil kemudian merinci bagaimana dana kerakyatan itu akan bekerja di lapangan. Ia menegaskan bahwa alokasi tersebut akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur energi yang melayani publik secara langsung, mencakup jaringan gas hingga elektrifikasi desa.

“Nah untuk ini, saya ingin melaporkan kepada Bapak Ibu semua bahwa dari total Rp 27,37 triliun, kita akan memberikan program alokasi untuk program kerakyatan sebesar Rp 22,51 triliun atau setara dengan 82%,” paparnya.

Pipa Gas Sumatra–Jawa: Mengurangi Beban Impor LPG

Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) menjadi penerima alokasi terbesar dalam struktur anggaran ini, yakni Rp 11,34 triliun. Salah satu proyek unggulan yang didanai dari pos tersebut adalah pembangunan pipa transmisi gas yang membentang dari Sumatra hingga Jawa. Proyek ini bukan hanya soal infrastruktur fisik; ia merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi domestik dan menekan ketergantungan pada impor elpiji (LPG) yang selama bertahun-tahun membebani neraca fiskal negara.

“Ini kita akan bangun pipa gas dari Sumatra sampai Jawa, kemudian kita akan bikin jargas. Ini dalam rangka mengurangi impor LPG kita,” lanjutnya.

Implikasinya signifikan. Setiap kilogram LPG yang berhasil digantikan oleh gas pipa domestik berarti penghematan devisa dan pengurangan subsidi yang harus ditanggung APBN. Dalam konteks harga energi global yang masih volatil, langkah ini menjadi bantalan penting bagi stabilitas ekonomi rumah tangga.

Elektrifikasi Desa: Menutup Kesenjangan 1.250 Lokasi

Di sektor kelistrikan, Kementerian mengalokasikan Rp 10,44 triliun melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan. Targetnya jelas: memastikan seluruh desa di Indonesia teraliri listrik. Bahlil menyebut program infrastruktur listrik desa (Lisdes) yang menyasar 1.250 lokasi sebagai wujud konkret keadilan sosial—prinsip konstitusional yang selama ini sulit diukur secara kuantitatif, namun kini mendapat angka anggaran yang spesifik.

“Infrastruktur Lisdes untuk tahun anggaran 2027-2028, serta konsultan pengawas untuk 1.250 lokasi sebesar Rp 9,67 triliun,” tambahnya.

Angka Rp 9,67 triliun untuk 1.250 lokasi berarti rata-rata sekitar Rp 7,7 miliar per titik. Biaya tersebut mencakup pembangunan gardu, jaringan transmisi dan distribusi, serta jasa konsultan pengawas yang menjamin mutu konstruksi. Bagi masyarakat pedesaan yang selama ini bergantung pada genset diesel atau belum tersentuh jaringan sama sekali, kehadiran listrik berarti akses ke penerangan, pendingin, komunikasi, dan pada akhirnya, peluang ekonomi yang lebih luas.

Alokasi Non-Fisik dan Belanja Operasional

Sisanya dari total anggaran dialokasikan untuk dua kategori. Pertama, 5% atau Rp 1,31 triliun diperuntukkan bagi pembangunan infrastruktur publik non-fisik—meliputi sistem informasi, riset, dan pengembangan kapasitas kelembagaan. Kedua, 13% atau Rp 3,56 triliun digunakan untuk belanja operasional rutin serta layanan manajemen kementerian.

“Program strategis berupa pembangunan infrastruktur sebesar Rp 1,31 triliun atau 5% untuk kegiatan publik non-fisik dan sebesar 3,56 triliun sebesar 13% untuk belanja operasional serta layanan manajemen,” tandasnya.

Rincian Pagu per Unit Kerja

Secara keseluruhan, distribusi anggaran RAPBN 2027 untuk lingkungan Kementerian ESDM terbagi sebagai berikut:

Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi memperoleh porsi terbesar, Rp 11,34 triliun, diikuti Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan dengan Rp 10,44 triliun. Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) mendapat Rp 1,81 triliun. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) ESDM dialokasikan Rp 874,90 miliar, sementara Badan Geologi menerima Rp 774,83 miliar.

Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) memperoleh Rp 702,53 miliar. Sekretariat Jenderal mendapat Rp 537,91 miliar, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Rp 474,43 miliar, dan Inspektorat Jenderal Rp 122,46 miliar. Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) dialokasikan Rp 109,3 miliar, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Rp 89,38 miliar, dan Sekretariat Dewan Energi Nasional (DEN) Rp 81,47 miliar.

Struktur ini memperlihatkan bahwa lebih dari 78% total anggaran terkonsentrasi pada dua direktorat utama—Migas dan Ketenagalistrikan—yang secara langsung mengoperasikan proyek-proyek infrastruktur energi berskala nasional. Konsentrasi dana tersebut sekaligus menjadi indikator bahwa pemerintah menempatkan transisi dari ketergantungan impor ke pemanfaatan sumber daya domestik sebagai prioritas tertinggi dalam siklus anggaran 2027.

Frequently Asked Questions

What is Bahlil Usulkan Anggaran Kementerian ESDM di 2027?

Bahlil Usulkan Anggaran Kementerian ESDM di 2027 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bahlil Usulkan Anggaran Kementerian ESDM di 2027 matter?

Bahlil Usulkan Anggaran Kementerian ESDM di 2027 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *