Rekomendasi Saham Hari Ini: Ada PSAB hingga KETR

2 months ago  ·  4 min read
By William Moore - dailynesia.com
market-1780881579-1780881580212_169

Pasar Saham Indonesia Ditutup Turun, IHSG Berada di Level 5.594,76

Dailynesia.com – Pada Jumat (5/6), pasar saham Indonesia mengalami koreksi signifikan, menutup di bawah tekanan bearish yang memengaruhi seluruh sektor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 4,20% ke level 5.594,76, mencerminkan sentimen pasar yang cenderung negatif. Dalam suasana ini, beberapa saham dianggap sebagai penyangga utama, seperti PT Surya Citra Media Tbk (SMMA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Emas Antam Indonesia Tbk (EMAS), yang terus mempertahankan kekuatan meski pasar sedang melemah.

Sementara itu, aksi jual investor asing terus berlanjut, mencatatkan total Rp3,72 triliun di pasar reguler dan Rp3,73 triliun di seluruh pasar. Dalam Special Plan ini, analisis terhadap pergerakan IHSG menunjukkan bahwa tekanan eksternal dari koreksi global, seperti penurunan Indeks Dow Jones 1,35% ke 50.866, S&P 500 yang melemah 2,64% menjadi 7.388, dan Nasdaq yang terkoreksi 4,18% ke 25.709, berdampak luas pada pergerakan pasar lokal. Hal ini memperkuat kekhawatiran pelaku pasar tentang kinerja ekonomi dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Koreksi di Sektor Transportasi Terdalam

Sektor transportasi mengalami koreksi terbesar dalam pergerakan pasar hari ini, dengan penurunan hingga 5,97%. Perubahan ini didorong oleh faktor-faktor eksternal seperti kekhawatiran atas permintaan logistik yang stagnan dan fluktuasi harga bahan bakar. Dalam Special Plan analisis, koreksi di sektor ini dianggap sebagai sinyal awal pergerakan pasar yang lebih dalam, namun masih ada potensi rebound jika sentimen membaik.

Di sisi lain, saham-saham yang menjadi penyangga seperti SMMA, MDKA, dan EMAS menunjukkan kekuatan terbatas. SMMA, misalnya, tercatat bergerak turun 3,15% ke level Rp1.250 per saham, sementara MDKA dan EMAS masing-masing menurun 2,89% dan 3,47%. Meski demikian, perusahaan-perusahaan ini tetap menjadi pilihan dalam Special Plan karena memiliki fundamental yang stabil dan kapasitas likuiditas yang baik.

Analisis Ekonomi dan Pergerakan IHSG

Pergerakan IHSG hari ini juga dipengaruhi oleh data ekonomi yang dirilis lebih awal dalam minggu ini. Cadangan devisa Indonesia menurun menjadi US$146,20 miliar pada April 2026, dibandingkan US$148,15 miliar di bulan sebelumnya. Faktor ini menjadi perhatian utama dalam Special Plan karena berpotensi memengaruhi kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar rupiah. Jika tren ini berlanjut, perlu diwaspadai adanya tekanan terhadap inflasi dan kenaikan bunga yang bisa memperparah koreksi pasar.

Di sisi lain, ada sinyal positif dari beberapa emiten yang menerapkan strategi Special Plan. Misalnya, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berhasil mendapatkan pendanaan internasional sebesar US$477,87 juta setelah tiga proyek panas bumi diakui dalam Green Book 2026. Proyek tersebut, yaitu PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW), dan PLTP Lahendong Unit 7–8 (50 MW), diharapkan mampu memperkuat pertumbuhan energi terbarukan di Indonesia. Dua proyek pertama diperkirakan beroperasi komersial pada 2030, sementara yang ketiga ditargetkan pada 2032.

Kinerja Emiten dan Aksi Korporasi

Di sektor pertambangan, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mencuri perhatian karena membagikan dividen tunai sebesar Rp105 per saham, total Rp2,78 triliun. Dividen tersebut telah mendapat persetujuan pemegang saham dalam RUPST pada 3 Juni 2026, didukung oleh pertumbuhan penjualan sebesar 22,34% dan kenaikan laba bersih ke US$35,45 juta. Dalam Special Plan, PSAB dianggap sebagai salah satu pilihan investasi yang menawarkan return yang menarik, meski perlu diawasi fluktuasi harga komoditas logam.

Dari sisi keuangan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengumumkan rencana beli kembali saham dengan nilai maksimal Rp4 triliun. Aksi ini dilakukan dalam rangka meningkatkan rasio utang dan likuiditas perusahaan. Dengan posisi kas kuartal I-2026 mencapai Rp37,55 triliun, jika seluruh alokasi terealisasi, diperkirakan akan berkurang menjadi Rp33,55 triliun. Perubahan ini menjadi bahan pertimbangan dalam Special Plan karena menunjukkan komitmen manajemen untuk memperkuat kesehatan keuangan.

Dividen Tunai PSAB Dinilai Tinggi

Dalam Special Plan, dividen tunai yang dibagikan PSAB dinilai cukup menarik, terutama bagi investor yang mencari return pasif. Dengan harga penutupan Rp500 per saham, yield yang diberikan mencapai sekitar 21%, dianggap sebagai level yang kompetitif dibandingkan emiten lain di sektor pertambangan. Jadwal cum dividen ditetapkan pada 11 Juni 2026, dan pembayaran akan dilakukan pada 30 Juni 2026.

Analisis menunjukkan bahwa dividen PSAB menjadi salah satu faktor utama dalam strategi Special Plan untuk menarik minat investor. Pertumbuhan laba yang signifikan, sebesar 22,34% dari penjualan, serta stabilitas kinerja perusahaan dalam beberapa tahun terakhir menjadikannya pilihan yang matang. Meski terdapat risiko volatilitas harga, kekuatan dividen dan prospek pertumbuhan bisnis tetap menjadi pendorong utama untuk memasukkan PSAB dalam rekomendasi investasi.

Dalam Special Plan ini, rekomendasi saham yang diberikan mencakup beberapa emiten unggulan, termasuk PSAB, KETR, WINS, SRSN, dan INCO. Berikut analisis lengkapnya:

PSAB – Buy 490-496 | TP 505-515 | SL 470 WINS – Buy 478-482 | TP 488-496 | SL 450 INCO – Buy 4510-4530 | TP 4570-4650 | SL 4300 SRSN – Buy 57-60 | TP 61-62 | SL 5 KETR – Buy 110-115 | TP 120-125 | SL 100

Rekomendasi ini didasarkan pada proyeksi pertumbuhan pendapatan, fundamental keuangan yang kuat, dan potensi kenaikan harga saham dalam jangka pendek. Dalam Special Plan, investor disarankan untuk memanfaatkan momentum ini dengan memperhatikan level support dan resistance yang telah ditetapkan.

MORE FROM THIS CATEGORY