Perang Iran-AS Tak Kunjung Usai, Harga Minyak Naik Lagi ke US$94
Kenaikan Harga Minyak Dunia Berlanjut
Dailynesia.com – Pada perdagangan Rabu (3/6/2026) pagi, harga minyak global kembali mengalami peningkatan. Menurut data Refinitiv, harga kontrak Brent tercatat naik 0,85% menjadi US$96,82 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,96% ke US$94,66 per barel. Kenaikan ini melanjutkan tren positif yang berlangsung sejak awal pekan lalu. Jika dibandingkan dengan harga penutupan di akhir Mei, Brent mencatat kenaikan hampir 5,8%, sedangkan WTI mengalami kenaikan lebih dari 8,4%. Pergerakan harga minyak dalam dua pekan terakhir tergolong volatil, terutama setelah beberapa peristiwa konflik yang memicu ketidakpastian di kawasan Teluk Persia.
Konflik Iran-AS yang Belum Berakhir
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memperkuat dampaknya pada pasar energi. Pasar kini kembali terkejut dengan intensifikasi serangan rudal Iran terhadap negara-negara tetangga, seperti Bahrain dan Kuwait. Pernyataan militer AS yang menyebutkan berhasil menggagalkan beberapa serangan ini memperjelas bahwa konflik belum menemui titik stabil. Selain itu, Washington juga mengungkapkan telah menembak jatuh drone Iran yang menargetkan kapal sipil serta pasukan AS di Kuwait. Serangan ini berlangsung di Pulau Qeshm, dekat Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi minyak global.
“Negosiasi masih berlangsung meski kita belum mencapai kesepakatan akhir,” kata Presiden Donald Trump dalam pernyataan terbaru.
Sejak awal Juni, harga minyak terus mengalami pergerakan naik, meskipun pasokan fisik global belum mengalami gangguan besar. Kenaikan ini dipicu oleh ketidakpastian terkait perang yang memasuki bulan keempat, yang membuat investor tetap waspada terhadap risiko geopoltik. Media Iran melaporkan komunikasi antara Teheran dan Washington sempat terhenti selama beberapa hari terakhir, memperparah ketegangan yang menggoyang pasar. Hal ini menunjukkan bahwa gencatan senjata yang diumumkan sebelumnya belum membuahkan hasil yang memadai.
Strategi dan Tantangan Negosiasi
Di tengah upaya mencapai kesepakatan, pihak-pihak terlibat masih memiliki kepentingan yang berbeda. Pemerintah AS menegaskan bahwa pelonggaran sanksi hanya akan diberikan jika Iran menghentikan aktivitas nuklirnya. Sebaliknya, Teheran menuntut akses kembali ke pendapatan minyak yang sempat terhambat, serta pelonggaran ekspor mentah, pembukaan blokade pelabuhan, dan pengaruh tetap atas jalur energi kritis seperti Selat Hormuz. Ketegangan ini berdampak pada keputusan pasar yang tetap mempertahankan ekspektasi peningkatan harga minyak.
Perusahaan pelayaran terbesar dunia, MSC, melaporkan bahwa salah satu kapalnya di pelabuhan Umm Qasr, Irak, menjadi korban serangan dua proyektil. Kejadian ini menegaskan bahwa ancaman terhadap pelayaran terus meningkat, meskipun belum ada gangguan besar pada pasokan fisik global. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa keamanan Selat Hormuz akan tetap menjadi alat tekanan selama konflik belum menemui resolusi.
“Kita mengklaim menyerang beberapa target penting yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan,” kata IRGC dalam pernyataannya.
Kontribusi Selat Hormuz pada Harga Minyak
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, tetap menjadi fokus utama bagi investor. Jalur laut sempit ini dikenal sebagai salah satu urat nadi global karena sekitar 20% dari perdagangan minyak dan LNG dunia melewati kawasan ini sebelum perang pecah akhir Februari. Meskipun gangguan lalu lintas kapal belum sepenuhnya menghentikan aliran minyak, premi risiko geopolitik tetap tinggi. Negara-negara lain mulai mempertimbangkan skenario terburuk jika ketegangan meluas.
Kondisi ini menyebabkan pasar energi terus mempertahankan sikap beli. Meski perang telah berlangsung lebih dari tiga bulan, harga minyak masih bertahan di kisaran US$94 hingga US$96 per barel. Peningkatan harga yang relatif stabil mencerminkan ketidakpastian yang masih menghiasi negosiasi antara Iran dan AS. Bahkan, meskipun tidak ada lonjakan harga setajam awal konflik, kenaikan bertahap terjadi karena kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi minyak.
Analisis Pasar dan Prospek Mendatang
Pelaku pasar kesulitan memprediksi kapan premi risiko perang akan menghilang dari harga minyak. Peningkatan ketegangan militer, seperti serangan terhadap kapal dan basis operasional AS, terus memperkuat tekanan psikologis terhadap investasi. Di sisi lain, pelaku pasar juga memantau kemungkinan perubahan kebijakan AS terkait sanksi dan perlambatan aktivitas nuklir Iran. Jika ada kesepakatan yang menyelesaikan konflik, harga minyak bisa kembali ke level yang lebih rendah, tetapi jika ketegangan memuncak, harga bisa terus menanjak.
Dengan kondisi yang masih tidak pasti, investor terus mengawasi langkah-langkah diplomatik dan militer. Penyesuaian harga minyak juga dipengaruhi oleh dinamika pasokan, permintaan global, dan ekspektasi dari produsen utama seperti OPEC. Namun, faktor terbesar saat ini tetap berasal dari konflik antara Iran dan AS. Selama jalur energi utama dunia tidak sepenuhnya aman, pasar akan terus mempertahankan kehati-hatian, meskipun komoditas minyak tetap menjadi aset yang menarik.
Pengaruh Ekonomi Global
Kenaikan harga minyak yang terjadi saat ini berpotensi memengaruhi inflasi di berbagai negara, terutama yang bergantung pada impor energi. Untuk negara-negara berkembang, biaya produksi dan distribusi meningkat, sementara negara-negara industri mulai mempertimbangkan cadangan minyak dan kebijakan moneter untuk mengurangi tekanan. CNBC Indonesia melaporkan bahwa keadaan ini menciptakan ketidakstabilan di pasar keuangan global, mengingat ketergantungan ekonomi terhadap harga minyak yang tinggi.

