Bos BEI Buka Suara Usai IHSG Anjlok Sampai 4% Hari Ini

3 months ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
b5c23f48-1384-443c-a91b-0f2dccf0cd98-0

Bos BEI Buka Suara Usai IHSG Anjlok Sampai 4% Hari Ini

Dailynesia.com –

Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (18/5/2026) yang mencapai lebih dari 4% memicu respons dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memperkenalkan new policy untuk mengatasi volatilitas pasar. Dalam wawancara dengan wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Jeffrey Hendrik, PJS Direktur Utama BEI, menjelaskan bahwa kebijakan baru ini bertujuan memperkuat stabilitas pasar keuangan nasional di tengah tekanan eksternal yang signifikan.

New policy kami dirancang untuk menjawab dinamika pasar yang terpengaruh oleh kondisi global dan Asia, terutama selama masa libur perdagangan. Meski IHSG turun hingga 4%, penyesuaian ini justru menunjukkan keberhasilan kebijakan dalam menghadapi volatilitas yang tidak terduga,”

ujarnya.

Analisis Kebijakan Baru dan Kondisi Global

Jeffrey Hendrik menyoroti bahwa penurunan IHSG tidak terlepas dari fluktuasi pasar internasional yang berlangsung sebelumnya. Kebijakan baru yang diterapkan BEI mencakup penyesuaian mekanisme transaksi dan peningkatan pengawasan terhadap aktivitas investor. Dalam konteks ini, new policy diharapkan dapat menstabilkan ekspektasi pasar serta mengurangi dampak negatif dari koreksi global. “Kami juga menegaskan komitmen untuk melindungi investor dari risiko yang berpotensi merugikan, terutama dalam situasi ketidakpastian tinggi,” tambahnya.

Selain itu, new policy mencakup upaya penguatan keterlibatan investor ritel yang menjadi tulang punggung pasar modal Indonesia. Dengan jumlah investor ritel yang terus bertambah, BEI menganggap kebijakan ini penting untuk menjamin pertumbuhan ekosistem pasar yang sehat dan berkelanjutan. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah investor ritel domestik telah mencapai 27 juta dengan identitas tunggal (SID), termasuk 9,7 juta pemegang saham. Angka ini memperlihatkan bahwa sektor pasar saham dalam negeri masih memiliki daya tahan dan potensi pertumbuhan, meski saat ini sedang mengalami tekanan.

Fluktuasi IHSG dan Aktivitas Investor

Dalam perdagangan Senin (18/5/2026), IHSG bergerak antara 6.398,79 dan 6.631,28, dengan titik terendah di 6.398,79. Indeks tersebut sempat turun hingga 4% pada pukul 15.48 WIB, menunjukkan adanya kekhawatiran yang terkumpul dalam sektor keuangan. Dari total 715 emiten yang terdaftar, 715 di antaranya mengalami penurunan, sedangkan hanya 90 emiten yang menguat. Kebutuhan new policy semakin mendesak karena IHSG memasuki masa kritis pasca koreksi dua hari berturut-turut.

Ketidakpastian pasar juga dipengaruhi oleh keaktifan investor bulanan yang stabil. Meski IHSG turun, jumlah investor aktif di bursa mencapai lebih dari satu juta setiap bulannya. Jeffrey Hendrik menekankan bahwa new policy akan memberikan ruang bagi investor untuk menyesuaikan strategi berdasarkan risiko yang mereka bawa. “Kami yakin kebijakan ini dapat memperkuat kepercayaan pasar dan mengarahkan aliran investasi lebih efektif ke sektor-sektor yang berpotensi,” kata Jeffrey.

Peluncuran new policy menjadi langkah strategis BEI dalam menangani keadaan pasar yang tidak pasti. Selain itu, kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi investor asing yang masih menjadi penentu utama dinamika pasar modal Indonesia. Jeffrey Hendrik mengatakan bahwa new policy akan dilengkapi dengan langkah-langkah penguatan infrastruktur bursa dan perbaikan regulasi untuk menarik lebih banyak investor. “Kami juga akan memperkenalkan inisiatif penguatan transparansi dan kehati-hatian dalam pengambilan keputusan investasi,” tambahnya.

Analisis menyebutkan bahwa new policy ini bukan hanya respons terhadap volatilitas IHSG, tetapi juga langkah pencegahan terhadap risiko krisis lebih lanjut. BEI juga berharap kebijakan ini bisa memberikan ruang bagi emiten untuk memperkuat fundamental perusahaan mereka. Selain itu, new policy akan menyesuaikan dengan tuntutan pasar yang lebih dinamis di tengah globalisasi keuangan. “Kami melihat adanya peluang untuk mengembangkan pasar modal Indonesia menjadi lebih resilien dan berkelanjutan,” tutup Jeffrey.

MORE FROM THIS CATEGORY