Anak Muda RI Hobi ‘Gali Lubang Tutup Lubang’, Bos OJK Lakukan Ini

2 months ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
kepala-eksekutif-pengawas-perilaku-usaha-jasa-keuangan-edukasi-dan-perlindungan-konsumen-ojk-dicky-kartikoyono-saat-konferensi-1775443573025_169-1

Anak Muda RI Hobi ‘Gali Lubang Tutup Lubang’, Bos OJK Lakukan Ini

Dailynesia.com – Jakarta, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan perhatian terhadap tingginya risiko utang yang dialami generasi muda Indonesia. Perilaku “gali lubang tutup lubang” atau “pinjaman berulang” menjadi isu utama yang perlu diatasi. Dicky Kartikoyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, menyoroti perluasan upaya pengedukasian masyarakat muda untuk menghindari terpapar utang berlebihan. Menurutnya, fenomena ini muncul karena banyak pemuda menggunakan berbagai sumber pinjaman untuk memenuhi gaya hidup yang seringkali melebihi kemampuan finansial mereka.

Strategi Edukasi Berbasis Teknologi

Dicky mengatakan OJK telah merancang strategi edukasi keuangan yang mencakup pendekatan pencegahan sejak awal. Salah satu langkah utama adalah memanfaatkan teknologi untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. “Kami menekankan penggunaan berbagai platform digital agar pendekatan edukasi bisa diakses secara mudah dan terus menerus,” terangnya. Selain itu, OJK memiliki Sistem Manajemen Pembelajaran (LMS) yang memungkinkan penggunaan materi edukasi kapan saja, 24 jam sehari. Sistem ini dirancang untuk membantu masyarakat memahami prinsip-prinsip kewaspadaan dalam pengelolaan keuangan, termasuk konsep rasio penggunaan penghasilan yang aman untuk melunasi utang, sebagai dasar kapasitas pembayaran.

“Sistem ini bisa terus dimanfaatkan untuk memahami berbagai prinsip kehati-hatian, serta cara mengelola keuangan, khususnya peran disposable income dalam memperkuat kemampuan pembayaran,” ujar Dicky dalam Konferensi Pers RDKB April 2026, Jumat (5/6/2026).

Dicky menambahkan, OJK juga berencana mengenalkan pendekatan baru dalam menentukan proporsi pendapatan yang bisa dialokasikan untuk melunasi utang. Contohnya, konsep Debt to Income Ratio (DIT) atau Debt to Burden Ratio (DBR) yang membantu mengukur beban keuangan secara lebih jelas. “Biasanya kami memberikan rumusan bahwa disposable income yang paling aman sekitar 30-50% digunakan untuk pembayaran utang, sehingga menjadi acuan dalam kapasitas pemenuhan kewajiban,” jelasnya.

Colaborasi Industri dan Pengawasan Multi-Borrowing

Strategi kedua yang diterapkan OJK adalah sinergi dengan industri jasa keuangan untuk memantau perluasan pinjaman. Dicky menyebut bahwa pihaknya bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk memantau keseluruhan eksposur utang yang terus bertambah. “Ini penting agar tidak ada penumpukan utang yang berlebihan, terutama dari sisi industri yang berperan dalam menyediakan dana,” katanya. Dicky juga menekankan bahwa kualitas skor kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) sedang ditingkatkan untuk memastikan keputusan peminjaman lebih akurat.

“Sinergi kolaborasi dengan pelaku industri dan tentunya mereka juga harus melihat bahwa kapasitas pembayaran ini menjadi dasar untuk menjaga stabilitas ekonomi,” papar Dicky.

Dicky menambahkan bahwa proses penguatan teknologi dan pengawasan memerlukan waktu serta persiapan. Namun, langkah ini dianggap penting agar risiko kredit yang terus meningkat dapat dikendalikan. “Tidak hanya itu, kami juga mendorong industri untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang,” imbuhnya. Langkah ini mencakup penerapan standar transparansi dalam mengungkapkan bunga, biaya, dan eksposur risiko, sehingga masyarakat bisa lebih memahami konsekuensi dari pengambilan pinjaman.

Penguatan Literasi Keuangan dan Stabilitas Ekonomi

Menurut Dicky, OJK telah melakukan berbagai program edukasi secara masif ke berbagai komunitas. “Kami berupaya menyelaraskan upaya pencegahan utang berlebihan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan dana secara bijak,” katanya. Selain itu, para pelaku usaha jasa keuangan diharapkan menerapkan prinsip-prinsip kehati-hatian dalam pemberian pinjaman. “Ketentuan transparansi dalam bunga dan biaya menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi,” jelasnya.

“Terutama masa seperti sekarang ini, di mana kondisi ekonomi tidak dalam kondisi yang kira-kira bisa berlebihan untuk memberikan pinjaman, ini tentunya harus diikuti dengan manajemen risiko yang kuat,” terang Dicky.

Dicky Kartikoyono menekankan bahwa generasi muda tidak boleh dianggap sebagai sasaran utama utang tanpa adanya pendekatan yang komprehensif. “Kami percaya bahwa edukasi dan literasi keuangan harus menjadi pondasi utama dalam mencegah peningkatan utang yang tidak terkendali,” ujarnya. Selain itu, OJK juga memperkenalkan metode evaluasi risiko yang lebih detail, seperti mengukur rasio utang terhadap penghasilan dan beban keuangan, agar masyarakat bisa membuat keputusan yang lebih matang.

OJK berupaya membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai inisiatif. Salah satunya adalah memperkenalkan konsep “pinjaman berkelanjutan” yang mengedepankan kehati-hatian dalam penggunaan dana. “Kami ingin memastikan bahwa setiap peminjam memahami batas kemampuan mereka sebelum mengambil utang,” jelas Dicky. Dengan memperkuat sistem edukasi dan kolaborasi dengan industri, OJK berharap mampu menekan kecenderungan generasi muda terpapar utang secara berlebihan.

Langkah-langkah ini tidak hanya fokus pada pencegahan, tetapi juga pada pengendalian eksposur utang. Dicky meny

MORE FROM THIS CATEGORY