IHSG Menguat, Saham Perbankan dan Telekomunikasi Menjadi Penopang
Dailynesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu, 21 Oktober, dengan kenaikan 0,94% dan berakhir pada posisi 5.328,36. Pergerakan positif tersebut terjadi ketika mayoritas sektor mencatat penguatan, meski investor asing masih membukukan penjualan bersih di pasar saham Indonesia.
Penguatan indeks antara lain didorong saham-saham berkapitalisasi besar. BBCA naik 1,44%, BREN melonjak 8,00%, sedangkan TLKM bertambah 2,91%. Rebound pada saham perbankan besar, termasuk BBCA dan BBRI, bersama kenaikan TLKM, memberi dukungan penting bagi arah IHSG sepanjang perdagangan.
Di sisi lain, sejumlah saham bergerak berlawanan dan membatasi kenaikan indeks. MORA turun 6,19%, EMAS melemah 5,47%, serta ENRG terkoreksi 6,36%.
Sembilan Sektor Menguat
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sembilan sektor berhasil berada di area positif. Sektor kesehatan menjadi yang paling menonjol dengan penguatan 3,35%. Sebaliknya, sektor teknologi mencatat penurunan terdalam, yaitu 1,12%.
Meski indeks ditutup hijau, aktivitas investor asing masih menunjukkan arus keluar. Nilai penjualan bersih asing di pasar reguler mencapai Rp527,80 miliar. Jika menghitung seluruh pasar, net sell asing tercatat sebesar Rp70,71 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan indeks tetap ditopang minat beli pada sejumlah saham tertentu, terutama emiten besar.
Perhatian pasar juga mengarah pada sentimen pembelian kembali saham. Selain itu, BNGA menjadi salah satu saham yang disorot setelah muncul kabar mengenai potensi delisting oleh CIMB Group, yang memicu spekulasi seputar kemungkinan aksi korporasi.
Instrumen yang merepresentasikan pasar Indonesia di luar negeri turut menguat. ETF EIDO naik 2,23%, sementara indeks MSCI Indonesia bertambah 1,26%.
Sentimen Global Turut Positif
Optimisme juga terlihat dari pasar saham Amerika Serikat. Dow Jones menguat 0,69% menjadi 52.856. S&P 500 naik 0,58% ke level 7.757, sedangkan Nasdaq bertambah 1,05% hingga mencapai 26.702.
Pergerakan bursa global menjadi salah satu konteks yang diperhatikan pelaku pasar domestik, khususnya saat saham-saham besar kembali bergerak positif. Namun, perbedaan arah antar saham dan sektor tetap perlu dicermati karena kenaikan IHSG tidak selalu berarti seluruh saham mengalami penguatan yang sama.
IPCC Catat Kenaikan Trafik, tetapi Pendapatan Masih Tertekan
PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) membukukan pertumbuhan trafik kargo konsolidasi sebesar 19,57% secara tahunan menjadi 1,37 juta unit hingga sembilan bulan pertama 2026. Jumlah kunjungan kapal juga meningkat 14,87% menjadi 2.958 kunjungan.
Pertumbuhan trafik terutama datang dari penguatan jaringan terminal satelit, terutama di Banjarmasin dan Makassar. Meski demikian, komposisi pertumbuhan volume menjadi faktor penting untuk memahami hasil keuangannya. Tambahan volume lebih banyak berasal dari segmen bertarif rendah, yakni truk dan bus yang meningkat 43,98%, serta kendaraan roda dua yang tumbuh 51,46%.
Di saat yang sama, kendaraan utuh atau completely built-up (CBU), yang memiliki tarif lebih tinggi, hanya bertambah 0,95% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, lonjakan jumlah unit belum otomatis menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang sebanding.
Pada semester I 2026, pendapatan IPCC turun 0,49% secara tahunan menjadi Rp413,50 miliar. Laba bersihnya juga menyusut 9,28% menjadi Rp103,28 miliar. Penurunan rata-rata pendapatan per unit, stagnasi relatif pada segmen CBU, serta tambahan beban dari ekspansi jaringan terminal satelit ikut menekan margin perseroan.
PGEO Menargetkan Kapasitas 1,8 GW pada 2034
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyiapkan ekspansi kapasitas pembangkit panas bumi yang dikelola langsung hingga 1,8 gigawatt pada 2034. Angka tersebut meningkat tajam dari kapasitas saat ini sebesar 727 megawatt. Dalam tahap menengah, perseroan menargetkan kapasitas mencapai 1 GW pada 2028.
Untuk menambah sekitar 1.073 MW sampai 2034, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai USD6,43 miliar atau setara Rp115,92 triliun. Estimasi tersebut mencerminkan biaya pembangunan sekitar USD5 juta hingga USD6 juta per MW.
Sumber pendanaan direncanakan berasal dari modal internal, sisa dana IPO, fasilitas green financing, dan penerbitan green bond yang menawarkan biaya pendanaan lebih kompetitif. PGEO juga menyiapkan kerja sama joint venture dengan PLN untuk membagi risiko sekaligus porsi investasi.
Rencana pengembangan mencakup proyek pemanfaatan air panas berkapasitas 30 MW di Ulubelu dan PLTP Lumut Balai Unit 3. Lumut Balai Unit 3 ditargetkan memasuki operasi komersial pada 2029.
DMAS Bagikan Dividen Interim Rp29 per Saham
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp29 per saham. Total dana yang dialokasikan mencapai Rp1,40 triliun.
Keputusan tersebut menyusul laba bersih sembilan bulan pertama 2026 senilai Rp1,49 triliun, naik 183,81% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai dividen interim itu setara dengan dividend payout ratio 93,81% terhadap laba bersih 9M26.
Saham DMAS ditutup pada harga Rp208 per saham pada perdagangan Rabu, 21 Oktober. Dengan harga tersebut, dividen interim Rp29 per saham merepresentasikan dividend yield 13,94%.
Cum date dividen untuk pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 28 Oktober 2026. Pembayaran dividen direncanakan berlangsung pada 13 November 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
SGER: buy pada area 745-755, dengan target harga 765-775 dan batas risiko atau stop loss di 700.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is IHSG Parkir di Zona Hijau Ini 5?
IHSG Parkir di Zona Hijau Ini 5 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does IHSG Parkir di Zona Hijau Ini 5 matter?
IHSG Parkir di Zona Hijau Ini 5 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

