Emiten Sawit Tanggapi Sorotan Kebakaran Lahan dan Kabut Asap
Dailynesia.com – Sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang memiliki kegiatan di Indonesia menyampaikan penjelasan setelah Singapore Exchange Regulation (SGX RegCo) meminta klarifikasi mengenai kemungkinan keterkaitan mereka dengan kebakaran hutan, lahan, dan gambut yang memicu kabut asap lintas negara.
Permintaan tersebut muncul ketika kabut asap masih menjadi perhatian kawasan. Isu ini tidak hanya menyangkut dampak lingkungan, tetapi juga menempatkan kebijakan pembukaan lahan, pengawasan konsesi, kesiapan pemadaman, dan tanggung jawab rantai pasok perusahaan di bawah sorotan.
Golden Agri Tekankan Kebijakan Tanpa Bakar
Golden Agri-Resources menyatakan tidak mengetahui adanya informasi yang menunjukkan kegiatan maupun operasionalnya menjadi penyebab atau penyumbang kabut asap dalam kejadian terbaru.
Perusahaan menyebut kebijakan tanpa pembakaran telah diterapkan sejak 1997. Selain itu, Golden Agri-Resources menjalankan kebijakan tanpa penggunaan lahan gambut sejak 2010. Kedua ketentuan tersebut disebut berlaku pula bagi pemasok perusahaan.
Kebijakan semacam ini penting dalam industri perkebunan karena penggunaan api untuk membuka atau menyiapkan lahan dapat memperbesar risiko kebakaran, terutama ketika kondisi lahan kering. Lahan gambut juga menjadi perhatian khusus karena api dapat menyebar di bawah permukaan dan sulit dipadamkan sepenuhnya.
Wilmar Sebut Aktivitas Tanam Baru Berhenti Sejak 2013
Wilmar International menyatakan larangan pembakaran diberlakukan secara ketat di seluruh operasionalnya sejak 2006. Larangan itu mencakup penggunaan api untuk pembukaan, persiapan, serta pengembangan lahan.
“Wilmar tidak melakukan penanaman kelapa sawit baru di perkebunan milik Wilmar di Indonesia sejak 2013.”
Perusahaan menjelaskan bahwa sejak saat itu aktivitas lapangannya di Indonesia dibatasi pada penanaman kembali di areal yang sebelumnya sudah ditanami. Proses tersebut dilakukan secara mekanis tanpa memakai api.
Wilmar juga mengakui adanya kebakaran di beberapa titik kecil di sejumlah konsesinya di Indonesia. Namun, hasil pemeriksaan lapangan perusahaan menyimpulkan api tersebut datang dari luar batas perkebunan atau dari lahan yang dikelola masyarakat di dalam wilayah terkait, lalu meluas ke area grup.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengendalian kebakaran di kawasan perkebunan tidak semata-mata bergantung pada praktik di dalam konsesi. Perambatan api dari wilayah sekitar dapat menjadi persoalan ketika kondisi cuaca dan vegetasi mendukung penyebaran kebakaran.
Salim Ivomas Pantau Hotspot dengan Data Satelit
PT Salim Ivomas Pratama, anak usaha Indofood, menyatakan tetap menerapkan larangan pembakaran secara konsisten. Pembukaan lahan pada area perkebunan tidak produktif, kata perusahaan, dilakukan melalui metode mekanis.
Untuk mendeteksi risiko lebih dini, Salim Ivomas menggunakan data titik panas dari satelit yang dikelola Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA, serta Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat atau NASA. Data tersebut dipakai untuk membantu identifikasi dan respons terhadap potensi kebakaran di areal perkebunan.
Perusahaan menyatakan karhutla yang terjadi belakangan ini tidak memberikan dampak material terhadap aktivitas usaha maupun kelangsungan operasionalnya.
First Resources dan Bumitama Soroti El Niño
First Resources dan Bumitama Agri, dua produsen minyak sawit yang tercatat di Bursa Singapura, mengaitkan insiden kebakaran tahun ini dengan fenomena El Niño serta api yang merambat dari daerah di luar wilayah operasional mereka.
First Resources menyebut terdapat sejumlah peristiwa kebakaran yang bermula di luar area perusahaan sebelum meluas ke wilayah yang dikelolanya. Perusahaan menilai sebagian kejadian sangat besar dan menyebar dengan kecepatan tinggi, sehingga tidak seluruhnya dapat dikendalikan meski upaya pemadaman telah dilakukan.
“Berdasarkan pengamatan internal dan hasil penyelidikan awal yang saat ini tersedia bagi grup, belum ditemukan bukti yang menghubungkan kegiatan operasional grup dengan awal terjadinya kebakaran yang sedang diselidiki maupun dengan kabut asap yang dimaksud,” kata Lim Gunawan Hariyanto, Chairman Eksekutif sekaligus CEO Bumitama Agri.
El Niño dapat berkaitan dengan periode lebih kering di sejumlah wilayah, yang pada akhirnya meningkatkan kerentanan vegetasi dan lahan terhadap api. Dalam situasi tersebut, kecepatan deteksi titik panas, akses pemadaman, serta koordinasi di sekitar area konsesi menjadi faktor penting untuk membatasi penyebaran kebakaran.
Sorotan Greenpeace dan Langkah Singapura
First Resources dan Bumitama Agri, bersama First Borneo Plantations, tercantum dalam publikasi Greenpeace pada 5 Oktober. Ketiganya disebut terkait dengan entitas pemilik konsesi perkebunan yang dinilai berkontribusi pada kabut asap.
Di sisi lain, Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura Grace Fu menyampaikan bahwa Singapura akan mengirim pemberitahuan tindakan pencegahan kepada tujuh perusahaan di Indonesia yang dinilai bertanggung jawab atas kebakaran pemicu kabut asap saat ini. Pemberitahuan tersebut merupakan hasil penyelidikan Singapura dan akan diterbitkan oleh Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura atau NEA.
Tujuh perusahaan yang disebut adalah PT Bumi Andalas Permai, PT Bumi Mekar Hijau, PT Paramitra Mulia Langgeng, PT Sumatera Alam Anugerah, PT SBA Wood Industries, dan PT Hutan Lestari Ra.
Klarifikasi dari emiten menjadi penting bagi investor, masyarakat, dan pihak berwenang karena persoalan kabut asap memiliki konsekuensi lintas batas. Perusahaan-perusahaan yang disorot pada dasarnya menyampaikan posisi bahwa mereka telah menjalankan kebijakan pencegahan kebakaran, sementara penyebab serta asal api dalam berbagai kejadian masih menjadi bagian dari pemeriksaan yang berlangsung.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Golden Agri hingga Wilmar Angkat Bicara?
Golden Agri hingga Wilmar Angkat Bicara is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Golden Agri hingga Wilmar Angkat Bicara matter?
Golden Agri hingga Wilmar Angkat Bicara matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

