Skandal Riset Palsu Asal RI: Siapa Penelitinya?
Dailynesia.com – Menyoroti isu kontroversi yang terjadi di konferensi Internasional Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026. Dugaan kecurangan dalam riset dari peneliti Indonesia memicu reaksi luas di media sosial. Epidemiolog Wa Ode Dwi Diningrat, yang hadir mewakili Oxford University, menjadi tokoh utama dalam menyuarakan kecurigaan terhadap data yang dipresentasikan oleh dua peneliti bernama “Dimas” dan “Riana”.
Kontroversi di Konferensi Internasional
Awalnya, Dwi hanya membaca ringkasan penelitian secara singkat, tetapi setelah memeriksa ulang, ia menemukan beberapa ketidaksesuaian yang memicu rasa skeptis. Dalam sesi presentasi, Topics Covered menyoroti keanehan dalam cara pengumpulan data primer yang diklaim dilakukan di wilayah dataran tinggi Andes, Peru, tanpa melibatkan kolaborator lokal. Hal ini dianggap tidak mungkin dalam riset internasional, karena biasanya melibatkan kerja sama dengan peneliti di lokasi penelitian.
“Mereka mengumpulkan data di Andes, tapi tidak ada kolaborator lokal sama sekali. Itu mustahil dilakukan di negara orang, jadi itu salah satu keanehan yang paling mencolok,”
kata Dwi, mengutip Detikcom, Kamis (28/5/2026).
Kontroversi semakin memuncak ketika identitas pemateri terungkap tidak konsisten. Seorang wanita mempresentasikan penelitian dengan judul “Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability” atas nama “Riana Dwi Kurniawati”, tetapi 10 menit kemudian, ia muncul kembali dengan nama “Dimas Fajar Prasetyo” setelah berpakaian jilbab. Perubahan identitas ini menciptakan kebingungan di kalangan peserta.
Penelusuran dan Langkah Pihak Terkait
Setelah investigasi lebih lanjut, terungkap bahwa pemateri tersebut bernama Prihantini. Namun, nama Prihantini tidak muncul sebagai penulis dalam kedua penelitian yang dipresentasikannya. Situs resmi ISPPD menyebutkan bahwa Prihantini bekerja sama dengan Rifaldy Fajar dan Rini Winarti dalam empat penelitian, semuanya menggunakan institusi yang sama, yaitu AI-Biomedicine Research Group, IMCDS Biomed Research Foundation, Jakarta.
Penelusuran terhadap latar belakang peneliti menunjukkan bahwa Prihantini, Rifaldy Fajar, Rini Winarti, dan Riana Dwi Kurniawati sebenarnya lulusan dari almamater yang sama, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Prihantini adalah lulusan Matematika angkatan 2015, Rifaldy dari jurusan yang sama angkatan 2014, sementara Rini berasal dari Biologi angkatan 2014, dan Riana dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2015.
Kemudian, Rifaldy, Prihantini, dan Riana pernah terlibat dalam tim Departemen Pengembangan Kreativitas Mahasiswa BEM KM UNY yang meraih medali emas dalam The 2nd World Invention and Innovation Forum (WIIF) pada 22-25 November 2017 di Foshan, Tiongkok. Dalam konteks Topics Covered, hal ini menimbulkan pertanyaan apakah penghargaan yang mereka terima mencerminkan kualitas riset mereka atau terkait dengan strategi promosi yang lebih besar.
Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Prof Nur Hidayanto, mengatakan pihaknya sedang menyelidiki lulusan yang terlibat dalam kasus ini. Namun, hingga saat ini, detikEdu belum menerima konfirmasi langsung dari para pihak terkait. Rifaldy sebelumnya mengunggah pernyataan di akun Threads dan Instagram pribadinya mengenai persiapan klarifikasi, tetapi postingan itu hilang setelah akun media sosialnya ditutup.
Kontroversi ini memberikan pembelajaran penting mengenai pentingnya transparansi dalam riset ilmiah. Dengan Topics Covered yang menyoroti proses verifikasi data, kasus ini menjadi contoh bagaimana kerja sama internasional bisa terganggu karena ketidakjujuran dalam presentasi. Banyak yang menyarankan agar lembaga penelitian melakukan pemeriksaan lebih ketat terhadap identitas dan alamat institusi yang digunakan dalam penelitian.

