Frekuensi Latihan Lari yang Tepat Sebelum Race Menurut Dokter Olahraga

3 months ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
direktur-marketing-telkomsel-lionel-chng-saat-konferensi-pers-selasa-552026-1777986604555_169

Special Plan: Frekuensi Latihan Lari yang Tepat Sebelum Race Menurut Dokter Olahraga

Dailynesia.com – Adalah strategi latihan yang direkomendasikan oleh para ahli untuk meningkatkan kinerja pelari sebelum mengikuti kompetisi. Dalam beberapa minggu terakhir, lomba lari maraton dan half marathon di berbagai kota besar Indonesia semakin mendekat, sehingga pemahaman tentang intensitas dan frekuensi latihan menjadi kunci keberhasilan. Dr. Monica Harvriza, spesialis kedokteran olahraga, menegaskan bahwa banyak pelari masih belum mematuhi rencana latihan yang optimal karena mengabaikan konsistensi dan porsi jadwal.

Pola Latihan Terstruktur untuk Membangun Kondisi Fisik

Menurut Dr. Monica, latihan konsisten 3 hingga 4 kali dalam seminggu dengan intensitas sedang adalah dasar dari Special Plan. Ia menekankan bahwa keberhasilan dalam race bergantung pada kondisi fisik yang stabil, bukan sekadar kekuatan sejenak. “Ketika seseorang bisa berbicara sambil berlari, maka intensitasnya tepat,” jelasnya. Hal ini berarti latihan harus dirancang secara teratur, tidak hanya pada hari libur atau akhir pekan, tetapi juga mencakup tahapan pemanasan, inti, dan pendinginan yang seimbang.

Special Plan menggabungkan berbagai aspek seperti pembelajaran teknik berlari, pengaturan napas, dan peningkatan stamina. Konsistensi dalam berlatih sebelum race adalah faktor utama yang sering diabaikan, sehingga banyak pelari justru merasa kelelahan saat tiba hari pertandingan. Untuk mengoptimalkan kinerja, para pelari perlu memahami kapan sebaiknya meningkatkan jarak lari dan kapan harus menurunkan intensitas. “Jika latihan tidak disusun secara bertahap, risiko cedera akan meningkat,” tambah Monica.

Keseimbangan Intensitas dan Pemulihan dalam Special Plan

Dalam membangun Special Plan, penting juga untuk menyeimbangkan antara intensitas latihan dan pemulihan tubuh. Dr. Monica menyarankan para pelari tidak terlalu memaksakan diri selama 10-15 kilometer sekali dalam seminggu, karena itu bisa disebut sebagai “weekend warrior” yang kurang efektif. “Program latihan yang baik harus melibatkan istirahat yang cukup agar otot dapat memperbaiki diri dan stamina meningkat,” ujarnya.

Khususnya bagi pelari yang tetap aktif bekerja, menjadikan latihan sebagai bagian rutin harian atau setengah hari adalah langkah penting dalam Special Plan. Pemulihan tubuh bisa dilakukan melalui peregangan, yoga, atau aktivitas ringan seperti jalan kaki. “Jangan bandingkan kemampuan diri dengan orang lain, karena setiap tubuh merespons latihan secara berbeda,” tambah Monica. Ia juga menekankan bahwa waktu pemulihan harus diperhitungkan secara akurat untuk menghindari overtraining.

Strategi Khusus untuk Lomba Berjarak Panjang

Untuk lomba dengan jarak 21 km atau half marathon, Dr. Monica menyarankan penerapan Special Plan yang lebih intensif. “Dengan program latihan yang disusun oleh pelatih, pelari dapat memastikan fokus pada kardio, kekuatan otot, dan daya tahan mental,” jelasnya. Menurutnya, pelatih bisa membantu mengatur jadwal latihan agar tidak terlalu padat namun tetap mencapai target fisiologis.

Selain itu, penerapan Special Plan juga mencakup pengaturan nutrisi dan hidrasi yang tepat. Pelari harus memastikan asupan protein, karbohidrat, dan vitamin yang cukup selama masa persiapan. “Pemulihan fisik tidak hanya tentang istirahat, tetapi juga asupan nutrisi yang memadai,” tambah Monica. Ia menyarankan agar makanan sebelum dan setelah lari diatur dengan hati-hati untuk memaksimalkan performa dan mengurangi risiko kelelahan.

Keberhasilan dalam Special Plan juga bergantung pada pengukuran kemajuan secara berkala. Dr. Monica menekankan bahwa pelari perlu memantau denyut jantung, tingkat kelelahan, dan respons tubuh selama latihan. “Dengan pengawasan ini, kita bisa menyesuaikan rencana latihan sesuai kebutuhan individu,” pungkasnya. Ia juga memperingatkan untuk tidak mengikuti program latihan yang sama tanpa adaptasi, karena setiap tubuh memiliki kapasitas yang berbeda.

Para pelari yang ingin memperkuat Special Plan bisa menambahkan latihan khusus seperti interval training atau lari bertingkat. “Ini membantu meningkatkan daya tahan jantung dan kapasitas oksigen,” jelas Monica. Selain itu, ia menyarankan untuk mengatur waktu tidur dan istirahat agar tubuh tidak kelelahan secara berlebihan. “Kebugaran tidak hanya tentang fisik, tetapi juga keseimbangan mental dan emosional,” tutupnya.

MORE FROM THIS CATEGORY