Sistem Rujukan JKN Dirombak, Biaya Pengobatan Bisa Turun Hingga 50%

2 hours ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
bpjs-kesehatan-1753502822433_169-1

Reformasi Sistem Rujukan JKN: Potensi Penghematan Biaya Hingga Separuh

Dailynesia.com – Jakarta – Perubahan mendasar pada mekanisme rujukan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diproyeksikan mampu memangkas durasi pelayanan serta pengeluaran biaya pengobatan secara substansial. dr. Mohammad Andi Yassin, Sp.JP, FIHA, selaku Direktur Utama RS Jantung Jakarta, menjelaskan bahwa transisi dari sistem rujukan berjenjang konvensional menuju model rujukan berbasis kompetensi atau kapabilitas fasilitas kesehatan sedang berlangsung.

Sebelumnya, pasien umumnya diwajibkan melewati fasilitas kesehatan tingkat pertama terlebih dahulu sebelum dialihkan secara bertahap ke rumah sakit sesuai kelas atau tipenya, mulai dari tipe D, C, B, hingga A. Namun, pendekatan baru ini memungkinkan fasilitas tingkat pertama melakukan pemilahan kebutuhan pasien lebih akurat dan mengarahkan mereka langsung ke fasilitas yang memiliki kompetensi sesuai kondisi medis yang dihadapi.

Timeline Implementasi dan Dampak Waktu

Andi Yassin menyoroti bahwa pada tahun 2026, beberapa rumah sakit telah mulai ditunjuk sebagai pusat rujukan langsung. “Sekarang di tahun 2026 sudah mulai ditunjuk beberapa rumah sakit dan nanti akan go live, Insya Allah, di 2027 bahwa semua rujukan itu akan langsung berdasarkan kebutuhan layanan pasien,” ujarnya dalam acara Profit CNBC Indonesia pada Kamis (6/8/2026).

Perubahan ini dinilai krusial karena sistem rujukan berjenjang lama sering kali memperpanjang perjalanan pasien dalam mendapatkan pengobatan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dikutipnya, pasien dalam sistem lama bisa membutuhkan waktu lebih dari dua minggu sejak memulai proses pelayanan hingga pengobatan selesai.

“Dulu dengan rujukan berjenjang itu satu pasien secara waktu bisa sampai dua minggu lebih untuk mendapatkan selesai pengobatan,” ujarnya.

Dengan penerapan rujukan berbasis kompetensi, estimasi waktu tersebut dipangkas menjadi kurang dari satu minggu. Pasien yang membutuhkan penanganan khusus, misalnya di rumah sakit jantung dengan kemampuan layanan tertentu, tidak perlu lagi berpindah dari satu jenjang ke jenjang berikutnya.

Efisiensi Pembiayaan BPJS Kesehatan

Selain efisiensi waktu, transformasi ini juga berpotensi menciptakan penghematan besar bagi pembiayaan BPJS Kesehatan. Dalam sistem berjenjang, terdapat biaya tambahan yang harus dikeluarkan pada setiap tahapan pelayanan yang dilalui pasien. Dengan mengarahkan pasien langsung ke pusat layanan yang sesuai, sejumlah tahapan tersebut dapat dipangkas.

“Dengan memotong langsung ke center yang memang tujuannya demikian, itu bisa memotong cost hingga 50%,” katanya.

Penghematan ini menjadi sangat signifikan ketika diterapkan pada jumlah pasien yang besar, khususnya untuk penyakit jantung yang saat ini termasuk penyakit dengan beban pembiayaan kesehatan tertinggi.

Tantangan Rumah Sakit dalam Efisiensi

Di sisi lain, rumah sakit juga menghadapi tantangan untuk tetap memberikan pelayanan berkualitas di tengah tuntutan efisiensi pembiayaan kesehatan. Andi Yassin menegaskan bahwa penghematan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan mutu maupun keselamatan pasien.

“Kami dari sisi rumah sakit juga harus, tahap pertama dari semua itu adalah harus survive tanpa mengorbankan kualitas. Jangan pasiennya jadi korban,” ujarnya.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah menerapkan lean management dan kaizen, yakni mencari bagian-bagian dalam operasional rumah sakit yang dapat dibuat lebih efisien tanpa menurunkan kualitas pelayanan. Efisiensi, menurutnya, tidak dapat dilakukan dengan sekadar memangkas seluruh komponen biaya secara seragam.

“We have to carefully, surgically remove. Yang ini bisa kita kurangi 5%, kita bisa kurangkan yang ini 5%. Dan dari semua itu kalau kita add up, itu akan sangat menimbulkan impact dari sisi efisiensi,” jelasnya.

Efisiensi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari pemilihan obat generik yang sesuai, memperpendek lama rawat pasien hingga memperbaiki alur pelayanan. Pada saat bersamaan, paradigma pelayanan kesehatan juga mulai bergeser dari volume based care menuju value based healthcare.

Dalam konsep tersebut, rumah sakit tidak lagi sekadar mengejar banyaknya tindakan medis, tetapi juga mempertimbangkan kualitas pelayanan, hasil pengobatan, kepuasan dan keselamatan pasien serta kesesuaian tindakan dengan pedoman medis.

“Kalau rumah sakit Anda memang mampunya level dasar, level madya, kerjakan level dasar madya. Kalau memang penyakit tersebut butuh dirujuk ke rumah sakit yang lebih tinggi, maka harus dirujuk. Sekali lagi semuanya demi pasien, outcome yang baik,” pungkas Andi.

Frequently Asked Questions

What is Sistem Rujukan JKN Dirombak Biaya Pengobatan?

Sistem Rujukan JKN Dirombak Biaya Pengobatan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sistem Rujukan JKN Dirombak Biaya Pengobatan matter?

Sistem Rujukan JKN Dirombak Biaya Pengobatan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category