Sempat Dibuang, di Mana Naskah Proklamasi Tulisan Soekarno Sekarang?

3 days ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
presiden-soekarno-dok-anri-1758369221811_169

Sempat Dibuang di Mana Naskah Proklamasi Tulisan Soekarno Sekarang?

Dailynesia.com – Sempat Dibuang di Mana Naskah Proklamasi yang ditulis tangan oleh Sukarno menjadi pertanyaan yang selama puluhan tahun hanya dijawab oleh satu orang: B.M. Diah, wartawan kantor berita Domei. Pada dini hari 17 Agustus 1945, di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jakarta, kertas berisi rumusan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam tulisan tangan Sukarno ternyata dibuang setelah versi ketikan dianggap final. Tanpa disengaja, Diah melihat lembar kertas itu dan mengambilnya. Keputusan sederhana itulah yang membuat Indonesia masih memiliki dokumen langka tersebut hingga hari ini.

Konteks malam itu penting untuk dipahami. Beberapa jam sebelumnya, Sukarno dan Mohammad Hatta baru kembali dari Rengasdengklok setelah sempat ditahan oleh sekelompok pemuda. Sesampai di rumah Maeda, keduanya bersama Achmad Soebardjo langsung duduk menyusun rumusan Proklamasi. Sejumlah pemuda pengawal turut hadir di ruangan tersebut, termasuk Diah yang malam itu bertugas sebagai jurnalis Domei. Setelah rumusan disepakati, Sukarno menuliskannya dengan tangan sendiri. Naskah itu kemudian dibacakan di hadapan para tokoh yang hadir dan disetujui secara bulat.

Namun, naskah tulisan tangan tersebut bukan dokumen yang akan dibacakan keesokan paginya. Tugas mengetik ulang jatuh kepada Sayuti Melik. Setelah ketikan selesai, beberapa redaksi kecil dilakukan, lalu Sukarno dan Hatta menandatangani versi ketikan atas nama bangsa Indonesia. Dengan demikian, konsep tulisan tangan kehilangan fungsinya dan, tanpa disadari siapa pun, berakhir di tempat sampah.

Peran B.M. Diah dan Perjalanan Dokumen ke ANRI

Diah, yang malam itu berada di lokasi, menyadari bahwa lembar kertas itu bukan sekadar coretan biasa. “Naluri saya sebagai wartawan mengambil itu untuk diumumkan lewat suratkabar,” kenang Diah. Ia menyimpan naskah tersebut selama puluhan tahun. Perannya pada malam Proklamasi tidak berhenti di situ. Sebelum meninggalkan rumah Maeda, Hatta memberinya tugas khusus: menyebarkan berita kemerdekaan melalui jaringan Domei ke seluruh dunia. Dalam memoarnya, Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi (2011), Hatta menulis, “Saudara yang bekerja di Kantor Domei, kawatkan sedapat-dapatnya berita Proklamasi itu ke seluruh dunia yang dapat dicapai.”

Diah menjalankan perintah itu dengan membuat konsep pemberitaan dan membawanya ke Percetakan Siliwangi untuk diperbanyak. Sementara kabar kemerdekaan menyebar melalui pers dan radio, naskah tulisan tangan Sukarno tetap tersimpan rapi di tangan Diah. Baru pada 19 Mei 1992, ia menyerahkannya kepada Presiden Soeharto. Dokumen itu kemudian dialihkan ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan kini menjadi salah satu arsip paling bernilai dalam rekam jejak kelahiran Proklamasi.

“Ironisnya, dokumen yang kini bernilai sejarah tinggi itu sempat dianggap tidak diperlukan dan dibuang. Jika saat itu B.M. Diah tidak mengambilnya, Indonesia mungkin tidak lagi memiliki konsep tulisan tangan Sukarno tersebut.”

Perbandingan antara naskah ketikan yang dibacakan pada 17 Agustus 1945 dan konsep tulisan tangan memperlihatkan bagaimana teks tersebut pertama kali dirumuskan, termasuk perubahan redaksional yang dilakukan Sayuti Melik. Keduanya kini tersimpan di ANRI dan menjadi rujukan utama bagi peneliti sejarah kemerdekaan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Di mana naskah tulisan tangan Sukarno disimpan sekarang? Dokumen tersebut berada di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sejak diserahkan oleh B.M. Diah kepada Presiden Soeharto pada 19 Mei 1992.

Kapan dan di mana peristiwa pembuangan naskah itu terjadi? Peristiwa terjadi pada dini hari 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Tadashi Maeda, Jakarta, sesaat setelah rumusan Proklamasi selesai disusun oleh Sukarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo.

Siapa yang menyelamatkan naskah tersebut? B.M. Diah, wartawan kantor berita Domei yang kebetulan berada di lokasi, mengambil kertas yang telah dibuang dan menyimpannya selama puluhan tahun sebelum menyerahkannya kepada negara.

Apakah naskah tulisan tangan sama dengan naskah yang dibacakan pada 17 Agustus 1945? Tidak. Naskah yang dibacakan keesokan paginya adalah versi ketikan Sayuti Melik yang telah mengalami beberapa perubahan redaksional. Konsep tulisan tangan Sukarno merupakan draf awal sebelum pengetikan.

Frequently Asked Questions

What is Sempat Dibuang di Mana Naskah Proklamasi?

Sempat Dibuang di Mana Naskah Proklamasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sempat Dibuang di Mana Naskah Proklamasi matter?

Sempat Dibuang di Mana Naskah Proklamasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category