Lifestyle

Riset Ungkap Pengguna “Narkoba” Tertua Ada di Indonesia

biji-pinang-dokpixabay-1789348860827_169

Jejak Penggunaan Pinang Purba di Sulawesi Mengubah Catatan Sejarah Zat Psikoaktif

Dailynesia.com – Jejak kebiasaan manusia memakai tanaman yang dapat memengaruhi tubuh dan saraf ternyata telah berlangsung sangat lama di wilayah Indonesia. Penelitian terbaru menemukan indikasi bahwa pemburu-peramu di Sulawesi telah memanfaatkan pinang untuk efek psikoaktifnya sejak sekitar 25.000 tahun silam.

Bukti itu bukan berasal dari wadah, sisa makanan, atau alat pengolahan, melainkan dari gigi manusia purba. Pola kerusakan dan keausan pada dua individu yang ditemukan di Sulawesi mengarah pada praktik menyimpan serta mengisap biji pinang di dalam mulut dalam waktu panjang.

Dalam pengertian modern yang luas, temuan tersebut dapat dikaitkan dengan penggunaan zat neuroaktif atau “narkoba”, yakni bahan alami yang mengandung senyawa psikoaktif. Namun, konteksnya sangat berbeda dengan istilah narkoba dalam percakapan masa kini, karena praktik kuno ini diduga berkaitan pula dengan kebutuhan pengobatan dan pereda rasa sakit.

Penelitian pada dua individu pemburu-peramu

Studi bertajuk Betel nut sucking is the earliest recorded evidence for the habitual use of a neuroactive plant drug diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada September 2026. Riset ini melibatkan tim dari BRIN, Griffith University, Charles Sturt University, dan University of Florida.

Para peneliti memeriksa sisa dua manusia pemburu-peramu dari Sulawesi. Individu pertama diperkirakan hidup pada rentang 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Individu kedua berasal dari masa yang lebih muda, sekitar 7.600 sampai 6.300 tahun lalu.

Keduanya meninggal pada usia yang relatif lanjut. Kondisi ini penting bagi analisis karena pemakaian gigi untuk kebiasaan tertentu secara berulang akan lebih jelas terlihat pada seseorang yang menjalani praktik itu dalam jangka panjang.

“Kedua individu juga telah berusia relatif lanjut ketika meninggal sehingga lebih mungkin menunjukkan bukti kelainan gigi dan perubahan morfologis akibat kebiasaan penggunaan gigi dalam jangka panjang,” ungkap tim riset gabungan dari BRIN, Griffith University, Charles Sturt University dan University of Florida.

Pemeriksaan menunjukkan adanya pola aus berbentuk melingkar yang tidak lazim. Keausan tersebut tidak cocok dijelaskan semata-mata oleh cara mengunyah makanan sehari-hari. Bentuknya justru menyerupai dampak menahan objek keras dan bulat secara berulang di antara gigi.

Ukuran bekas gigi sesuai dengan biji pinang

Untuk menguji dugaan itu, tim melakukan serangkaian eksperimen. Hasilnya memperlihatkan ukuran pola keausan pada gigi purba sejalan dengan ukuran biji pinang. Temuan ini menguatkan kemungkinan bahwa benda yang berulang kali berada di dalam rongga mulut mereka adalah biji pinang utuh yang telah dikupas.

“Dengan kata lain, individu tersebut menyimpan biji pinang utuh yang telah dikupas di dalam rongga mulut, menjepitnya di antara gigi, lalu terus menggerakkan lidah dan otot mulut di sekitar benda keras dan abrasif tersebut dan/atau menggigitnya secara perlahan dalam waktu lama,” tulis tim riset.

Proses demikian dapat menjelaskan mengapa kerusakan terjadi pada bagian tertentu dari gigi. Biji pinang yang keras dan abrasif, ketika terus-menerus ditekan, digerakkan, atau digigit perlahan, dapat membentuk perubahan fisik yang khas pada permukaan gigi.

Peneliti juga mendeteksi arekolin pada gigi dari temuan tersebut. Arekolin merupakan senyawa neuroaktif dalam buah pinang yang diketahui memengaruhi sistem saraf. Keberadaan senyawa ini memberikan dukungan kimiawi atas dugaan bahwa pinang memang dikonsumsi, bukan hanya digunakan sebagai alat atau benda lain di dalam mulut.

Efek fisiologis tanpa harus dikunyah habis

Eksperimen pada masa kini turut memperlihatkan bahwa mengisap biji pinang utuh saja dapat melepaskan arekolin dalam jumlah yang cukup untuk menghasilkan efek fisiologis. Artinya, praktik menahan pinang di dalam mulut tidak harus melibatkan pengunyahan penuh untuk membuat senyawa aktifnya bekerja.

Aspek ini menjadikan temuan Sulawesi sangat penting dalam kajian sejarah perilaku manusia. Kebiasaan tersebut dinilai sebagai bukti tertua yang diketahui tentang penggunaan rutin tumbuhan neuroaktif. Usianya melampaui sejumlah temuan lain mengenai pemakaian zat psikoaktif pada masa prasejarah.

Sebagai perbandingan, bukti konsumsi minuman beralkohol berbahan barley di kawasan Israel telah ditemukan dari sekitar 13.000 tahun lalu. Jejak penggunaan pinang di Sulawesi, khususnya pada individu tertua dalam studi ini, memiliki rentang waktu yang jauh lebih lama.

Kemungkinan fungsi pengobatan dan dampak pada kesehatan gigi

Penggunaan pinang oleh komunitas pemburu-peramu tersebut tidak serta-merta dipahami sebagai upaya mencari sensasi. Tim peneliti menduga tanaman itu mungkin memiliki fungsi pengobatan, termasuk membantu meredakan rasa sakit. Arekolin juga dikenal memiliki efek analgesik, sehingga kemungkinan tersebut relevan dengan sifat senyawa yang ditemukan.

Walau demikian, kebiasaan itu tampaknya membawa konsekuensi serius bagi kesehatan mulut. Penggunaan objek keras secara berulang menyebabkan kerusakan gigi yang berat. Pada temuan tersebut juga terlihat penyakit periodontal, sementara salah satu individu mengalami kerusakan hingga ke bagian dalam gigi.

Temuan ini menunjukkan bahwa manusia purba tidak hanya mengenal sumber pangan dari tumbuhan, tetapi kemungkinan juga memahami tanaman tertentu melalui pengaruhnya terhadap kondisi fisik dan mental. Pengetahuan itu berkembang jauh sebelum munculnya istilah modern untuk obat, zat psikoaktif, atau narkoba.

Dari Sulawesi, bukti pada gigi purba kini membuka gambaran baru tentang sejarah panjang hubungan manusia dengan tanaman neuroaktif. Praktik mengisap pinang yang tampak sederhana ternyata menyimpan informasi penting: masyarakat pemburu-peramu di Indonesia telah berinteraksi dengan senyawa yang memengaruhi tubuh dan otak sejak puluhan ribu tahun lalu.

Frequently Asked Questions

What is Riset Ungkap Pengguna Narkoba Tertua Ada?

Riset Ungkap Pengguna Narkoba Tertua Ada is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Riset Ungkap Pengguna Narkoba Tertua Ada matter?

Riset Ungkap Pengguna Narkoba Tertua Ada matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *