Video: Candi Hindu di Tengah Universitas Islam, Simbol Toleransi

3 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
0071110e-8609-4d3d-8ab7-09b679bc2b36-0

New Policy: Candi Hindu di Universitas Islam Menjadi Simbol Toleransi

Dailynesia.com – Dalam rangka mendorong keberagaman dan kerukunan antaragama, new policy terbaru yang diterapkan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mencuri perhatian. Di tengah kampus UII, sebuah candi kuno yang bernama Candi Kimpulan atau Candi Pustakasala berdiri sebagai bukti nyata harmoni antara budaya Hindu dan Islam. Kehadiran candi ini tidak hanya menjadi wisata religi, tetapi juga menjadi representasi dari komitmen universitas dalam menjaga toleransi di tengah masyarakat. New policy ini bertujuan untuk memperkuat identitas keagamaan yang berbeda, sekaligus mengajarkan nilai-nilai kesatuan kepada generasi muda.

Sejarah dan Makna Candi Hindu di Kampus UII

Candi Kimpulan, yang dibangun pada abad ke-11 oleh Raja Kusuma dan putrinya, Purnawati, adalah salah satu dari sekian banyak peninggalan sejarah yang terletak di lingkungan UII. Candi ini memiliki arsitektur khas yang memadukan elemen budaya Hindu dengan lingkungan pendidikan Islam. Dalam new policy terbaru, UII memperkuat upaya perlindungan situs bersejarah ini sebagai bagian dari program keberagaman yang lebih luas. “Kami ingin menunjukkan bahwa agama tidak saling mengeksklusi, tetapi saling melengkapi,” kata Rektor UII, Fathul Wahid, dalam wawancara eksklusif dengan CNBC Indonesia.

Situs candi Hindu ini juga menjadi tempat diadakannya acara budaya bersama, seperti upacara adat dan diskusi keagamaan, yang melibatkan mahasiswa dari berbagai latar belakang. New policy tersebut mencakup pula pengintegrasian sejarah keagamaan dalam kurikulum, sehingga para mahasiswa lebih paham tentang peran agama dalam masyarakat modern. “Toleransi bukan sekadar slogan, tapi praktik sehari-hari yang kami tanamkan melalui pendidikan,” tambah Wahid.

Komitmen UII dalam Mewujudkan Toleransi

Dalam new policy UII, kampus ini menjadi contoh nyata bagaimana institusi pendidikan dapat memperkuat keberagaman. Selain Candi Kimpulan, UII juga memiliki beberapa peninggalan budaya lain yang dipertahankan sebagai bagian dari identitas kampus. “Kita memiliki sejarah yang mengajarkan kerja sama antaragama, dan kita ingin menjaga hal itu,” jelas Wahid. Keberadaan candi di tengah lingkungan akademik Islam menunjukkan bahwa keduanya dapat coexist tanpa konflik.

Pendekatan UII dalam new policy ini tidak hanya fokus pada simbol-simbol fisik, tetapi juga pada pendidikan dan sosialisasi. Program seperti ‘Power Lunch’ yang diadakan CNBC Indonesia membahas lebih lanjut tentang bagaimana kampus ini menjalankan kebijakan toleransi sehari-hari. “Kami menggabungkan nilai-nilai keagamaan dalam setiap kegiatan, baik di dalam maupun di luar kelas,” ujar salah satu dosen UII. Ini mencerminkan bahwa new policy tidak hanya berupa regulasi, tetapi juga budaya yang hidup.

Impact of New Policy on Campus Life

Keberhasilan new policy UII dalam menjaga harmoni antaragama telah terasa dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa. Banyak yang menyebut bahwa kampus ini menjadi ruang yang nyaman untuk menjalankan aktivitas keagamaan, seperti ibadah, pengajian, atau festival budaya. “Saya merasa bebas untuk menjalankan ritual Hindu di sini tanpa rasa tertekan,” kata seorang mahasiswa. Selain itu, new policy ini juga mendorong inisiatif ekstra kurikuler yang menyatukan perbedaan, seperti kelompok diskusi keagamaan bersama.

Dalam wawancara eksklusif, Rektor UII menekankan bahwa kebijakan ini dirancang untuk menampung berbagai komunitas di dalam kampus. “Kami ingin bahwa setiap individu merasa dihargai, baik sebagai Muslim, Hindu, atau agama lain,” jelas Wahid. Ia menambahkan bahwa new policy ini juga berdampak pada hubungan antar-teman sejawat, karena mereka belajar untuk menghargai perspektif berbeda. Dengan ini, UII mengharapkan bahwa kampusnya menjadi pusat keberagaman yang berkelanjutan.

“Candi ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat dialog antaragama. New policy kami menginspirasi masyarakat sekitar untuk menjaga sikap inklusif.” – Rektor UII, Fathul Wahid

Keberagaman di kampus UII tidak hanya terwujud melalui keberadaan candi, tetapi juga melalui upaya new policy yang mencakup pelatihan untuk staf dan mahasiswa tentang manajemen konflik dan pemahaman lintas agama. “Kami juga menyoroti bagaimana new policy ini dapat menjadi contoh bagi institusi pendidikan lain di Indonesia,” kata Wahid. Dengan fokus pada pendidikan dan pengakuan terhadap keberagaman, UII berharap menciptakan lingkungan yang mendorong toleransi di luar kampus.

New policy UII menjadi salah satu inisiatif penting dalam meningkatkan kesadaran akan kerukunan antaragama. Sebagai bagian dari program lebih besar, kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat identitas keagamaan tanpa menghilangkan ruang bagi perbedaan. Dengan adanya candi Hindu di tengah kampus, UII menunjukkan bahwa keberagaman bukan hanya diakui, tetapi juga dipromosikan sebagai bagian dari kehidupan akademik. Dalam konteks ini, new policy menjadi sarana untuk menjaga toleransi di tengah masyarakat yang semakin heterogen.

MORE FROM THIS CATEGORY