Ternyata Ini Alasan Pilot Dilarang Menahan Kentut Saat Terbang

3 months ago  ·  4 min read
By David Williams - dailynesia.com
ilustrasi-pesawat-baru-1741588097642_169

Latest Program: Ternyata Ini Alasan Pilot Dilarang Menahan Kentut Saat Terbang

Dailynesia.com – Membuka wawasan tentang kebiasaan unik yang dijalani para pilot pesawat selama penerbangan. Salah satu aturan menarik yang sering diabaikan oleh banyak orang adalah larangan menahan kentut saat terbang. Ternyata, kebijakan ini memiliki dasar ilmiah dan penting dalam menjaga keselamatan terbang. Fakta menarik ini diungkapkan oleh seorang pramugari Argentina, Barbara Bacilieri, yang juga dikenal sebagai Barbie Bac di media sosial. Dengan hampir 5 juta pengikut, ia sering membagikan informasi menarik seputar dunia penerbangan, termasuk aturan yang tidak banyak orang tahu.

Perubahan Tekanan Udara dan Dampak pada Tubuh Pilot

Dalam penerbangan, ketinggian sekitar 30.000 kaki menyebabkan perubahan tekanan udara yang signifikan. Perubahan ini memengaruhi sistem pencernaan manusia, termasuk peningkatan volume gas di dalam tubuh. Menurut penjelasan Barbie Bac, kentut yang menumpuk dapat mengganggu fokus pilot selama penerbangan. “Latest Program ini mengingatkan bahwa pilot harus fokus pada tugas utamanya, bukan pada rasa tidak nyaman akibat gas berlebih,” tambahnya. Hal ini diperkuat oleh studi gastroenterologi dari Denmark dan Inggris pada tahun 2013, yang menyebutkan bahwa melepaskan gas bisa meningkatkan kenyamanan dan kesehatan para kru.

“Latest Program ini menjelaskan bahwa penumpang dan pilot tidak boleh mengabaikan aturan kecil seperti melepaskan gas,” tulis Yahoo dalam laporan Selasa (19/5/2026). “Karena gas yang terperangkap dapat memengaruhi konsentrasi dan reaksi cepat di kokpit.”

Penerapan Aturan Makanan Berbeda: Untuk Mengurangi Risiko Keracunan

Besides menahan kentut, ada aturan lain yang diikuti oleh para pilot, yaitu memilih makanan berbeda antara kapten dan kopilot. Rule ini bertujuan mengurangi risiko keracunan makanan yang bisa mengganggu proses penerbangan. Menurut Barbie Bac, kebiasaan ini sering diterapkan oleh maskapai untuk memastikan kedua kru tetap dalam kondisi optimal. “Latest Program ini juga menyebutkan bahwa kapten dan kopilot biasanya memilih menu yang berbeda. Misalnya, satu memilih ayam dan satunya lagi memilih pasta,” terang pramugari tersebut.

Dalam praktiknya, sistem ini dimulai saat pilot dan kopilot menentukan menu makanan mereka sebelum takeoff. Namun, tidak semua maskapai masih memegang aturan ini secara ketat. Seorang pilot Boeing Dreamliner, Charlie Page, mengatakan bahwa standar kebersihan makanan kini lebih tinggi, sehingga beberapa perusahaan mulai melonggarkan kebijakan ini. Meski demikian, aturan makanan berbeda tetap diterapkan di sebagian besar maskapai besar, terutama pada fase kritis seperti takeoff atau landing.

Konteks Kebiasaan Pilot dalam Menjaga Kesehatan Selama Terbang

Latest Program juga menjelaskan bahwa kebiasaan menahan kentut dan memilih makanan berbeda adalah bagian dari upaya untuk menjaga kesehatan fisik para pilot selama terbang. Dalam lingkungan udara dingin dan tekanan rendah, tubuh manusia mengalami perubahan metabolisme yang berbeda. Faktor ini bisa menyebabkan gas terperangkap dalam perut, sehingga membuat para kru merasa tidak nyaman. Selain itu, diet yang tepat dianggap penting untuk menghindari gangguan pencernaan yang berpotensi memengaruhi performa di udara.

Para pilot terkadang diwajibkan mengonsumsi makanan khusus yang telah diuji coba untuk mengurangi risiko gas berlebihan. Makanan seperti nasi, daging, atau sayuran dipilih karena kecepatan pencernaannya lebih stabil dibandingkan makanan berlemak atau tinggi serat. Menurut penjelasan Charlie Page, makanan lokal yang dikonsumsi sebelum terbang bisa menyebabkan gangguan pencernaan, terutama bagi pilot yang tidak terbiasa dengan jenis makanan tersebut. “Latest Program ini juga memberi contoh bahwa adaptasi makanan adalah bagian dari kesehatan para kru penerbangan,” katanya.

Manfaat Aturan Menahan Kentut untuk Keselamatan Terbang

Aturan menahan kentut saat terbang bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari protokol keselamatan. Dalam kondisi ketinggian, gas yang menumpuk bisa memicu rasa sakit perut yang mengganggu konsentrasi. Selain itu, kentut yang tidak segera dikeluarkan bisa menyebabkan tekanan dalam perut, yang berpotensi mengurangi kemampuan pilot untuk menangani situasi darurat. “Latest Program ini menjelaskan bahwa setiap kecil hal bisa berdampak besar pada keselamatan penerbangan,” kata seorang ahli gastroenterologi dari maskapai besar.

Studi yang dilakukan pada 2013 juga menemukan bahwa melepaskan gas secara berkala selama penerbangan dapat mengurangi risiko migrain atau gangguan pernapasan akibat tekanan udara. Para pilot yang mengikuti aturan ini mengaku lebih nyaman dan fokus dalam menjalankan tugas. “Latest Program ini membantu meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya kebiasaan sederhana dalam kehidupan penerbangan,” tambah Barbara Bacilieri. Aturan ini juga menjadi bagian dari pelatihan awal pilot, yang diterapkan di banyak sekolah penerbangan internasional.

Contoh Kebiasaan Serupa di Dunia Penerbangan

Latest Program tidak hanya mengungkap aturan menahan kentut, tetapi juga menyoroti kebiasaan serupa di industri penerbangan lainnya. Misalnya, sejumlah maskapai mewajibkan para kru untuk tidak mengonsumsi makanan ringan yang mengandung banyak gas sebelum terbang. Kebiasaan ini dilakukan untuk mengurangi risiko gas berlebihan yang bisa memengaruhi sistem pencernaan. “Latest Program ini memperlihatkan bahwa kehidupan penerbangan memiliki banyak detail yang perlu dipahami,” kata seorang pilot yang sudah berpengalaman.

Beberapa maskapai juga mengaplikasikan aturan ini dengan memberi panduan makanan tertentu kepada para pilot. Makanan yang dipilih biasanya mengandung serat rendah dan lemak terkontrol, sehingga meminimalkan penumpukan gas di dalam tubuh. Selain itu, pilot terkadang dianjurkan untuk minum air dalam jumlah yang cukup untuk menjaga fungsi pencernaan. “Latest Program ini memberi penjelasan bahwa aturan kecil seperti ini justru penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang para kru penerbangan,” tulis artikel di media sosial.

MORE FROM THIS CATEGORY