Kesalahan Pakai Sunscreen yang Masih Sering Dilakukan Warga Indonesia

3 months ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
5f4691ea-f44c-48fc-b18b-e9e25261da0e-0

Kesalahan Pakai Sunscreen yang Masih Sering Dilakukan Warga Indonesia

Dailynesia.com – Kesadaran masyarakat Indonesia soal penggunaan sunscreen terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Produk ini kini menjadi pilihan wajib bagi banyak orang sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Meski demikian, Dr. Eddy Widjaja, Direktur Eva Mulia Clinic, mengingatkan bahwa pemilihan sunscreen tidak bisa hanya mengikuti kepopuleran atau terpaku pada angka SPF yang tinggi. Menurutnya, banyak konsumen masih berpikir bahwa SPF semakin tinggi, perlindungannya semakin optimal. Namun, hal itu belum tentu benar.

“Bukan berarti SPF tinggi proteksinya paling bagus. Yang penting cocok dengan kulit dan digunakan sesuai kebutuhan,” kata Dr. Eddy kepada wartawan di Eva Mulia Clinic Prority Tebet, Jumat (22/5/2026).

Menurut Dr. Eddy, SPF atau Sun Protection Factor sebenarnya hanya menggambarkan durasi kulit bisa terlindungi dari sinar matahari sebelum mengalami kemerahan. Ia menjelaskan, misalnya, seseorang dengan kulit rentan terbakar dalam satu menit bisa terlindungi lebih lama dengan sunscreen SPF 30 atau SPF 50. Namun, ia mempertanyakan apakah orang benar-benar terpapar sinar matahari selama waktu yang disebutkan.

“Kalau cuma nyebrang atau aktivitas biasa, SPF 30 menurut saya sudah cukup,” ujarnya.

Dokter menyebut bahwa warga Indonesia yang umumnya memiliki kulit sawo matang cenderung lebih tahan terhadap paparan UV dibandingkan beberapa negara lain. Meski demikian, perlindungan tetap penting, terutama saat cuaca ekstrem sering terjadi. “Indonesia UV index-nya lumayan tinggi. Jadi tetap hindari paparan yang tidak perlu, pakai baju menutupi, dan gunakan sunscreen,” tambahnya.

Selain faktor SPF, Dr. Eddy juga menyoroti kesalahan dalam memilih produk yang sesuai dengan jenis kulit. Ia mengatakan, salah satu kebiasaan umum adalah memaksakan penggunaan produk tertentu hanya karena sedang viral. “Ada pasien yang bilang sunscreen ini terlalu berat, menyebabkan jerawat, atau membuat kulit iritasi. Jadi kita cari lagi yang cocok,” jelasnya.

“Beda-beda tiap individu. Ada yang langsung merah, ada yang iritasi, ada yang jerawatan,” kata Dr. Eddy.

Dokter Eva Mulia Clinic, dr. Lie Man, menambahkan bahwa masyarakat sering tergoda produk instan yang menjanjikan kulit glowing dalam waktu singkat. “Kalau bicara produk instan, biasanya cerahnya cepat. Dalam beberapa hari atau seminggu sudah glowing banget,” katanya. Namun, kondisi tersebut bisa menjadi tanda penggunaan produk berlebihan atau over treatment.

“Tanda-tandanya kulit jadi sensitif, mudah merah, atau muncul bentol-bentol,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, penggunaan sunscreen dengan kandungan tidak jelas bisa memicu kerusakan pada skin barrier. Hal ini bisa menyebabkan kondisi seperti ochronosis, yakni kulit menghitam dengan warna seperti logam. “Yang paling bahaya tentu risiko kanker kulit,” lanjut Dr. Eddy.

Pemakaian Ulang Jadi Faktor Penting

Dalam hal pemakaian sunscreen, Dr. Eddy juga menekankan bahwa reapply adalah kunci. Banyak orang merasa aman hanya karena mengaplikasikan sunscreen sekali di pagi hari. “Kalau dari pagi sampai sore aktif di luar, satu kali apply itu tidak cukup,” katanya.

“Yang penting pas pulang dibersihkan dengan benar,” ujarnya.

Selain itu, tren sunscreen spray semakin populer karena dianggap lebih praktis untuk digunakan di atas makeup. Dr. Eddy mengingatkan bahwa kesehatan kulit harus dimulai dari gaya hidup sehat, bukan hanya skincare. “Urutannya itu hidup sehat dulu, kedua basic skincare seperti sunscreen dan pelembap, baru kalau memang kurang bisa masuk treatment,” ujarnya.

Tren Perawatan Kulit Tak Lagi Kejar Wajah “Palsu”

Dr. Eddy menyebut bahwa perubahan tren perawatan kulit mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir. Kesadaran masyarakat tentang kesehatan kulit semakin meningkat, sehingga fokus perawatan bergeser dari hanya menyembuhkan jerawat ke tampilan prima setiap saat. “Kalau dulu Eva Mulia terkenal untuk curing, menyembuhkan jerawat. Pokoknya acne expert. Tapi sekarang pasien maunya tampil prima setiap saat,” katanya.

Dia menambahkan bahwa tren seperti filler atau tana (mungkin typo dari ‘tanning’) masih mendominasi pada periode 2010 hingga 2015. Namun, kini penekanan lebih pada kebutuhan yang seimbang dan alami.

MORE FROM THIS CATEGORY