Cerita Kader Posyandu Didatangi ‘Preman’ Demi Imunisasi Anak
Dailynesia.com – Di Indonesia, hingga saat ini masih ada sekitar 2,3 juta anak yang belum menyelesaikan imunisasi secara lengkap. Angka ini menunjukkan bahwa tantangan dalam penjangkauan vaksinasi masih terus menghimpit, yang dipengaruhi oleh faktor geografis, kepercayaan masyarakat, serta dinamika sosial. Di Kota Bandung, para kader Posyandu tidak hanya berusaha meyakinkan orang tua agar anaknya mau menjalani program imunisasi, tetapi juga sering kali menghadapi rintangan, bahkan terkadang dihimpit oleh bentakan dari warga.
Peran Kader Posyandu dalam Mengatasi Hambatan
Kader Posyandu Tela 9 Kota Bandung, Rini Sasri, menceritakan bahwa dirinya dan tim Puskesmas terus melakukan pemantauan serta kunjungan ke rumah warga yang memiliki anak kategori zero-dose. Namun, proses ini tidak selalu mudah. Beberapa orang tua menolak vaksinasi karena khawatir anak demam setelah menerima suntikan, sementara ada juga yang menolak karena misinformasi tentang efek samping imunisasi. “Facing Challenges, kami terus berusaha menjangkau mereka dengan cara yang santai dan penuh empati,” ujar Rini dalam acara media briefing penjangkauan anak zero-dose di Bandung.
Rini pernah mendatangi rumah warga bersama petugas kesehatan untuk memberikan imunisasi langsung. Namun, situasi di lapangan sering kali membuat petugas merasa cemas. “Sampai Bidan Pena itu ketakutan, ‘Ini katanya yang kita datangi preman atau apa’,” kata Rini sambil tertawa. Dalam beberapa kasus, kader Posyandu juga harus menemani orang tua ke puskesmas untuk memastikan anaknya tidak menolak vaksinasi. “Karena kebanyakan orang tua hanya setengah hati, kita harus berikan penjelasan yang jelas dan penuh kepercayaan,” tambahnya.
Strategi Meningkatkan Partisipasi Anak dalam Imunisasi
Dante Saksono Harbuwono, Wakil Menteri Kesehatan, menjelaskan bahwa cakupan imunisasi di Indonesia sempat menurun selama pandemi karena layanan kesehatan lebih fokus pada penanganan virus Corona. “Facing Challenges, penurunan cakupan vaksinasi ini menyebabkan risiko peningkatan kasus penyakit yang sebelumnya terbendung,” ujarnya. Menurut Dante, anak zero-dose adalah mereka yang belum menerima vaksin campak, polio, atau DPT. Hal ini membuat tubuh mereka rentan terhadap penyakit karena tidak memiliki perlindungan. “Mereka tidak pernah mendapatkan imunisasi campak, polio, DPT, sehingga badan mereka seperti telanjang,” jelas Dante.
Dante menyoroti bahwa hoaks dan kesalahpahaman tentang efek samping vaksin menjadi tantangan besar. “Beberapa informasi di media membuat orang tua ragu untuk mengizinkan anaknya diimunisasi,” tambahnya. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah menggalakkan pendekatan langsung melalui kader Posyandu. “Kalau kita mengandalkan puskesmas yang 10 ribu itu gak akan bisa mencapai ujung-ujung. Yang paling bisa sampai di ujung-ujung adalah Posyandu,” ujar Dante saat meninjau Posyandu di Bandung.
Dalam upaya meningkatkan partisipasi, kader Posyandu juga berperan sebagai penghubung antara masyarakat dan pemerintah. Mereka sering kali menghadapi situasi yang memicu kecemasan, seperti ketika orang tua menolak karena takut akan rasa sakit atau merasa vaksinasi merupakan beban tambahan. “Facing Challenges, kami berusaha menjelaskan bahwa imunisasi adalah bentuk investasi kesehatan jangka panjang,” katanya. Selain itu, kader Posyandu juga terlibat dalam pendampingan anak-anak yang merasa takut menjalani prosedur suntikan.
Menyadari pentingnya peran kader Posyandu, pemerintah kini mengandalkan mereka sebagai ujung tombak penjangkauan masyarakat. “Kalau kita mengandalkan puskesmas yang 10 ribu itu gak akan bisa mencapai ujung-ujung. Yang paling bisa sampai di ujung-ujung adalah Posyandu,” ujar Dante saat meninjau Posyandu di Bandung. Program ini juga menekankan kebutuhan pendekatan yang humanis, karena di tengah tantangan tersebut, kepercayaan masyarakat menjadi faktor kunci dalam keberhasilan vaksinasi.
Sebagai bentuk apresiasi, pemerintah memberikan penghargaan kepada kader Posyandu berprestasi melalui acara peringatan Hari Kesehatan Nasional. Dante memuji dedikasi para kader yang bekerja sukarela. “Mereka bekerja di sini secara sukarela. Ini luar biasa gerakan dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat,” tambahnya. Dengan adanya kader Posyandu, diharapkan bisa mengatasi tantangan penjangkauan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi untuk kesehatan anak.

