Apakah Hantavirus “The Next Covid”? Ini Penjelasan WHO
Dailynesia.com – Apakah Hantavirus The Next Covid ini bisa menjadi wabah global yang mengancam seperti pandemi virus corona? Pertanyaan tersebut menjadi topik hangat setelah kapal pesiar MV Hondius kembali menjadi sorotan internasional karena wabah hantavirus yang menewaskan tiga korban. Hingga saat ini, total delapan kasus konfirmasi dan beberapa kasus dugaan infeksi terkait perjalanan di atas kapal tersebut telah tercatat. Singapura melakukan isolasi terhadap dua warga negaranya yang diduga terpapar, sementara Israel melaporkan satu kasus. Situasi ini memicu kekhawatiran mengenai potensi hantavirus untuk menyebarkan diri secara masif, mirip dengan virus corona yang memicu pandemi di seluruh dunia.
Penjelasan WHO: Pertimbangan tentang Risiko Global
Dalam konferensi pers pada Kamis (7/5), organisasi kesehatan dunia (WHO) menyampaikan bahwa hantavirus memiliki masa inkubasi hingga enam minggu. Ini berarti individu yang terpapar virus bisa menunjukkan gejala setelah periode waktu yang cukup lama, yang membuat pelacakan dan isolasi menjadi lebih kompleks. Maria Van Kerkhove, ahli epidemiologi dari WHO, menegaskan bahwa wabah ini bukan tanda awal pandemi baru, melainkan contoh penyebaran yang terjadi secara lokal. Namun, ia menyoroti bahwa keberhasilan penularan dari manusia ke manusia, meski langka, memicu kecurigaan bahwa hantavirus bisa menjadi ancaman global jika tidak dikendalikan.
Perbedaan Hantavirus dengan Virus Corona
Van Kerkhove menjelaskan bahwa hantavirus tidak menyebar melalui cara yang sama dengan virus corona. Penularan terjadi melalui kontak dekat dan intim, seperti pernapasan, kontak langsung, atau menyentuh permukaan terkontaminasi yang kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut. Di sisi lain, virus corona menyebar lebih cepat melalui droplet yang dihembuskan saat batuk atau bersin. Meski demikian, WHO masih memantau dengan cermat apakah hantavirus bisa memicu penyebaran masal, terutama dalam lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Perbedaan ini penting karena menentukan strategi pencegahan yang diperlukan.
“Ini bukan awal pandemi seperti yang kita alami dengan virus corona, tetapi kita harus memahami potensi penyebaran hantavirus di lingkungan tertentu,” kata Van Kerkhove, seperti dilansir dari Euronews.
Kasus di MV Hondius menunjukkan bahwa hantavirus bisa menyebar dalam kondisi tertentu, meski tidak seefektif virus corona. Penelitian WHO menemukan bahwa strain hantavirus yang menyebabkan wabah ini mungkin memiliki kecenderungan untuk menular antar manusia, terutama jika individu yang terinfeksi berada dalam kontak erat. Hal ini mengubah perspektif mengenai virus yang sebelumnya dianggap terutama menular dari hewan pengerat ke manusia. Jika pola ini berlanjut, hantavirus bisa menjadi perhatian baru dalam bidang kesehatan global.
Cara Penyebaran Hantavirus
Hantavirus memang secara alami menyebar dari hewan pengerat, terutama tikus, ke manusia. Namun, dalam kasus MV Hondius, ada kemungkinan virus menyebar melalui manusia ke manusia. Penelitian menunjukkan bahwa hantavirus bisa tertular melalui urin, feses, atau air liur tikus yang menguap dan terhirup. Paparan ini umumnya terjadi di area tertutup, seperti gudang, loteng, atau rumah kosong yang pernah dihuni tikus. Selain itu, kontak langsung dengan permukaan terkontaminasi, seperti benda-benda di sekitar kamar tidur atau toilet, juga bisa memicu infeksi. Gigitan tikus, meski langka, juga menjadi jalur penyebaran tambahan.
“Penyebaran hantavirus tergantung pada kondisi lingkungan dan intensitas interaksi manusia, sehingga memerlukan penanganan yang berbeda dari pandemi corona,” tambah Van Kerkhove.
Gejala dan Komplikasi
Gejala hantavirus awalnya serupa dengan flu biasa, seperti demam, menggigil, nyeri otot, dan sakit kepala. Namun, pada strain tertentu, infeksi bisa memicu komplikasi paru-paru yang parah, seperti kesulitan bernapas, penumpukan cairan, atau gangguan fungsi jantung. WHO mengingatkan bahwa gejala yang muncul secara perlahan bisa menyebabkan kejang, pusing, atau bahkan gangguan mental jika tidak segera diatasi. Karena gejala ini mirip dengan penyakit lain, diagnosis dini menjadi kunci untuk mengurangi risiko penyebaran.
Untuk memastikan penyebaran terkontrol, pihak berwenang berusaha mengidentifikasi sumber infeksi awal. Di MV Hondius, kasus-kasus yang tercatat menunjukkan bahwa individu pertama yang terinfeksi kemungkinan telah tertular sebelum menaiki kapal. Hal ini menggarisbawahi pentingnya surveilans dan pengendalian vektor, seperti tikus, dalam mencegah wabah baru. WHO juga menekankan bahwa keberhasilan pengendalian hantavirus akan bergantung pada kombinasi pencegahan dan respons cepat.
Dengan memahami bagaimana hantavirus bekerja dan perbedaannya dari virus corona, masyarakat bisa lebih waspada terhadap ancaman kesehatan baru. Sebagai bagian dari upaya global, WHO terus melakukan penelitian dan memantau kasus di berbagai negara, termasuk Afrika Selatan dan Swiss, yang telah mengidentifikasi strain hantavirus yang berpotensi menyebar antar manusia. Jika wabah ini terus berkembang, maka “Apakah Hantavirus The Next Covid?” menjadi pertanyaan yang perlu dijawab dengan lebih dalam dalam beberapa bulan ke depan.

