Ada 40 Spesies Hantavirus di Dunia – Ini Varian yang Muncul di RI

3 months ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
d871da94-37de-4995-8882-17416809c530-0

Ada 40 Spesies Hantavirus di Dunia – Ini Varian yang Muncul di RI

Dailynesia.com – Dunia kembali dibuat heboh oleh penyakit hantavirus yang terus menyebar, terutama setelah muncul laporan tiga kematian penumpang di kapal pesiar MV Hondius akibat infeksi virus ini. Dalam beberapa tahun terakhir, hantavirus menjadi sorotan karena risiko penularannya yang tinggi, terutama di Indonesia. Dengan total 40 spesies hantavirus yang dikenal secara global, beberapa dari varian ini telah terdeteksi di wilayah Indonesia, menunjukkan bahwa penyakit ini tidak hanya menjadi ancaman di Eropa, Asia, atau Afrika, tetapi juga berkembang di benua Asia.

Distribusi Global dan Variasi Hantavirus

Virus hantavirus termasuk dalam keluarga Bunyaviridae dan telah menginfeksi hewan pengerat seperti tikus, kelelawar, serta beberapa spesies lainnya. Sejak tahun 1900-an, para ilmuwan telah mengidentifikasi lebih dari 40 spesies hantavirus yang berbeda, dengan setiap spesies memiliki kekhasan dalam gejala, tingkat keparahan, dan mekanisme penyebaran. Di Asia, beberapa varian hantavirus yang berpotensi menyerang manusia sudah dikenal, seperti Hantavirus yang berada di Indonesia. Penyebaran virus ini biasanya terjadi melalui udara yang dihasilkan saat hewan pengerat membuang kotoran, cairan tubuh, atau menghirup kotoran yang bercampur dengan udara.

Ada 40 spesies hantavirus di dunia, yang masing-masing berkembang di wilayah geografis tertentu. Contohnya, varian Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) lebih umum terdapat di Amerika, sementara Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS) dominan di Eropa, Asia, dan Afrika. Di Indonesia, pengamatan terhadap hantavirus berupa kejadian penyakit yang disebabkan oleh varian lokal telah meningkat. Meski tidak semua spesies menyebar ke manusia, keberadaan beberapa varian ini menjadi perhatian khusus terutama karena potensi mereka untuk menimbulkan kejang-kejang, peradangan paru-paru, atau bahkan gagal ginjal berat.

Pelaku Penyebaran dan Pemicu Infeksi

Menurut penelitian dari Kementerian Kesehatan, hantavirus dapat menyebar ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan pengerat yang terinfeksi, baik secara langsung maupun melalui udara. Dalam kasus di kapal pesiar MV Hondius, seorang warga negara asing (WNA) tertular setelah berinteraksi dengan pasien yang meninggal akibat hantavirus. Pasien tersebut adalah seorang perempuan berusia 69 tahun, sedangkan WNA yang terpapar berada di Jakarta dan mengikuti penerbangan bersama. Infeksi dapat terjadi ketika virus menyebar melalui udara dari kotoran hewan pengerat, seperti tinja atau air liur.

“Pada 7 Mei 2026 pukul 21.55 WIB, IHR NFP Inggris menotifikasi Indonesia tentang satu kasus kontak erat yang berdomisili di Indonesia,”

kata dr. Andi Saguni, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan. Informasi ini memicu respons cepat dari Kemenkes untuk melakukan investigasi epidemiologi, terutama mengingat Indonesia sudah terdaftar sebagai salah satu negara dengan potensi penyebaran hantavirus yang tinggi. Varian yang muncul di Indonesia, meski tidak diketahui spesifiknya, menjadi indikator bahwa virus ini mungkin sudah menyebar ke berbagai bagian benua.

Perkembangan Kasus di Indonesia

Dari 2024 hingga 2026, data Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus hantavirus yang terkonfirmasi, dengan tiga kematian yang dilaporkan. Sebagian besar pasien menunjukkan gejala umum seperti demam tinggi, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, dan kekuningan pada kulit. Dari total 23 kasus, semua tergolong dalam tipe Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS), yang menandakan bahwa varian hantavirus di Indonesia lebih cenderung menyebabkan infeksi berat di ginjal daripada gangguan pernapasan. Dalam rentang waktu yang sama, terdapat 251 kasus suspek, dengan sebagian besar dinyatakan negatif setelah pemeriksaan.

Kasus hantavirus di Indonesia mencapai puncak pada 2025 dengan 17 kasus, diikuti 5 kasus pada 2026 hingga minggu ke-16. Distribusi geografisnya menyebar ke beberapa daerah, termasuk Jakarta (6), Yogyakarta (6), Jawa Barat (5), Jawa Timur, Banten, Sumatra Barat, NTT, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, dan satu wilayah lainnya. Pengamatan ini menunjukkan bahwa meskipun hantavirus adalah virus yang terdapat di lebih dari 40 spesies, penyebaran yang tercatat di Indonesia masih terbatas, tetapi harus diawasi secara intensif.

Kementerian Kesehatan terus menekankan pentingnya deteksi dini dan pencegahan hantavirus, terutama di daerah dengan populasi hewan pengerat yang tinggi. Cara mencegah penyebaran virus ini meliputi menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat, serta memperhatikan kebersihan area tempat tinggal. Dengan penyebaran hantavirus yang terus meningkat, upaya pengendalian kesehatan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi risiko penularan.

MORE FROM THIS CATEGORY