Visit Agenda: Cerita Ajudan Presiden RI Kencan Saat Kunjungan Kerja di Luar Negeri

4 days ago  ·  4 min read
By Christopher Moore
kota-wina_169

Cerita Ajudan Presiden RI Kencan Saat Kunjungan Kerja di Luar Negeri

Visit Agenda – Di era modern, bermain-main dengan acara kencan saat melakukan kunjungan kerja mungkin dianggap sebagai tindakan yang cukup berani. Namun, di masa lalu, kisah serupa pernah menjadi bahan tertawaan dalam rangkaian kegiatan diplomatik Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Cerita unik ini diungkapkan oleh Mayor Bambang Widjanarko, ajudan yang mengikuti rombongan Soekarno ke Wina, Austria, pada tahun 1963. Saat itu, Bambang diberi tugas khusus oleh presiden yang dikenal humoris dan penuh semangat itu.

Kunjungan Medis ke Wina

Kunjungan ke Wina merupakan bagian dari rangkaian perjalanan Soekarno yang bertujuan untuk menjalani pengobatan penyakit ginjal. Rombongan presiden berada di sana selama sekitar seminggu, dengan agenda utama berupa sesi medis. Namun, selama waktu senggang, Soekarno kerap menambahkan aktivitas santai untuk merilekskan diri. Mayor Bambang, sebagai ajudan, pun jadi sasaran candaan dari presiden dalam kesempatan tersebut.

Dalam sebuah momen, Soekarno menanyakan apakah Bambang sudah menikmati suasana klub malam di Wina. Bambang menjawab bahwa belum. Mendengar itu, presiden memutuskan memberi tugas yang cukup menantang. “Tapi ada syaratnya, Mbang: pertama, kamu harus cari partner seorang gadis lokal, gadis Austria. Kedua, besok pagi kamu harus menceritakan seluruh pengalamannya di waktu makan pagi seperti ini,” pesan Soekarno, seperti tercatat dalam autobiografi Bambang yang berjudul Sewindu Dekat Bung Karno (1988).

Komedi dalam Pekerjaan

Rombongan langsung tertawa mendengar permintaan itu. Mereka memahami bahwa Soekarno sedang bermain-main dengan ajudannya. Candaan itu semakin menggelitik ketika Agus Dasaad, seorang pengusaha dalam rombongan, mengomentar bahwa Bambang mungkin tidak memiliki cukup uang untuk menghabiskan malam di klub malam. Soekarno pun segera memperbaiki situasi dengan masuk ke kamar dan kembali sambil memberikan uang.

Presiden menyerahkan lima puluh dolar kepada Bambang. Dasaad, yang dikenal punya modal ekonomi cukup besar, segera menambahkan bahwa jumlah uang itu hanya cukup untuk membeli satu botol champagne. “Harga satu botol 50 dollar. Nah, Bambang toh tidak dapat hanya duduk sendiri menghabiskan sebotol champagne itu? Kalau begitu, ceritanya besok pagi kurang menarik,” kata Dasaad dalam dialog yang diulas oleh Bambang.

Tak lama kemudian, Soekarno meminta Dasaad untuk memberikan uang tambahan. Presiden tahu bahwa temannya itu memiliki modal yang cukup untuk memenuhi syarat. Malam harinya, Bambang pun memulai tugasnya. Dia berkenalan dengan seorang wanita bernama Renata yang awalnya ia anggap sebagai gadis asli Austria.

“Renata orangnya manis, berambut pirang, dan suka bergurau,” kisah Bambang dalam memoirnya.

Renata ditemui Bambang di klub malam yang menjadi tujuan utamanya. Selama malam itu, keduanya mengobrol akrab. Tapi, saat Renata menyebut dirinya lahir di tempat bernama “Clateen” di Jawa, Bambang langsung merasa bingung. Ia mengulik riwayat hidup Renata, tetapi akhirnya menyadari bahwa nama tersebut sebenarnya adalah Klaten, sebuah kota di Jawa Tengah.

Kejutan yang Menggembirakan

Kisah itu menjadi bahan tertawaan untuk rombongan. Bambang, yang tak menyangka akan mengalami momen ini, berusaha menjelaskan kebingungannya. “Jadi kamu adalah seorang gadis Belanda yang lahir di Pulau Jawa. Itu termasuk Indonesia, negaraku, dan kamu bukan lahir di Clateen tetapi Klaten di Jawa Tengah,” kenang Bambang dalam pengakuanannya.

Di pagi hari, Bambang kembali ke sarapan bersama Soekarno dan rombongan. Ia mengaku tidak memenuhi tugas dengan baik. “Pak, saya agak malu menceritakannya. Saya tidak dapat 100% memenuhi tugas Bapak yang diberikan,” ungkap Bambang. Soekarno, yang senang dengan cerita lucu, menegaskan bahwa kisah tersebut justru menambah kesan menarik.

Dalam cerita tersebut, Bambang juga menyebutkan bahwa ia sempat berkenalan dengan sejumlah wanita dari negara-negara lain, seperti Yugoslavia, Italia, Yunani, dan Jerman. Namun, yang menjadi sorotan adalah Renata, yang ternyata memiliki akar budaya Indonesia. Kebingungan Bambang saat memahami nama kota yang disebut Renata mencerminkan kenyataan bahwa kehidupan diplomatik di luar negeri bisa penuh dengan kejutan yang tidak terduga.

Keberanian dan Kekocakan

Kisah ini tidak hanya menunjukkan sisi humor Soekarno, tetapi juga menegaskan bahwa bahkan dalam kondisi serius seperti pengobatan penyakit, presiden tetap menjaga semangat dan keakraban dengan ajudannya. Bambang, yang dikenal setia dan pekerja keras, pun menjadi bahan tertawaan karena kekhilafannya memandang Renata sebagai gadis Austria, padahal ia justru berasal dari Jawa Tengah.

Di balik kejenakaannya, cerita ini mencerminkan bagaimana Soekarno melibatkan ajudan dalam kegiatan sosial. Dengan meminta Bambang untuk melakukannya, presiden memberi ruang bagi ajudannya untuk menunjukkan keberaniannya. Meski akhirnya menemui jalan buntu, kisah itu tetap menjadi kenangan yang tak terlupakan dalam catatan Bambang.

Presiden pertama RI sering memadukan formalitas dan kecerdasan pribadi dalam berbagai situasi. Dalam kunjungan ke Wina, ia menunjukkan sisi manusiawi dengan mengajak ajudannya untuk mengeksplorasi suasana lokal. Meski nyaris menjadi bahan lelucon, momen ini menggambarkan hubungan antara Soekarno dan ajudannya yang hangat serta penuh kepercayaan.

Kisah Bambang dan Renata menjadi cerminan kehidupan diplomatik era awal republik, di mana persahabatan dan keakraban bisa muncul di tengah tugas yang serius. Dengan membawa suasana yang lebih santai, Soekarno mampu membangun ikatan yang lebih kuat antara dirinya dengan para ajudan. Cerita ini pun sampai sekarang masih menjadi bahan bacaan yang menghibur dan menginspirasi.

MORE FROM THIS CATEGORY