Saat 3 WNI Jadi Korban Bom Atom di Jepang: Kulit Terbakar-Nyaris Tewas

5 hours ago  ·  4 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
bom-hiroshima-dan-nagasaki-ap-photo-file_169

Tiga Mahasiswa Indonesia yang Bertahan Hidup dari Bom Atom Hiroshima

Dailynesia.com – Pada 6 Agustus 1945, ledakan dahsyat di Hiroshima menewaskan 120 ribu jiwa dan melukai jutaan orang lainnya. Di antara para korban bencana tersebut, terdapat tiga pemuda Indonesia yang keberadaannya sempat terancam nyawa akibat radiasi mematikan. Mereka adalah Sjarif Adil Sagala, Arifin Bey, dan Hasan Rahaya, para penerima beasiswa pemerintah Jepang yang dikenal dengan sebutan Nanpo Tokubetsu Ryogakusei atau Nantoku.

Menurut catatan sejarawan Aiko Kurasawa dalam bukunya Sisi Gelap Perang Asia terbitan 2023, program beasiswa ini dirancang khusus oleh pemerintah Jepang untuk menarik minat generasi muda Indonesia agar menempuh pendidikan dan pada akhirnya berkontribusi membangun negara tercinta.

Momen Saat Ledakan Terjadi

Semua rencana berubah drastis pada pagi hari itu. Ketiganya menjalani rutinitas sehari-hari tanpa mengetahui bencana besar sedang mengintai. Arifin Bey saat itu sedang mengikuti perkuliahan fisika ketika tiba-tiba kilatan cahaya menyambar dari arah jendela kelasnya.

Tiba-tiba dari arah jendela kelas kelihatan cahaya menyambar ibarat kilat. Tapi, tak membawa bunyi apa pun,

Ungkapan tersebut terucap dari Arifin Bey dalam memoarnya yang berjudul Bom Atom di Atas Hiroshima: Suatu Pengalaman Nyata terbitan 1986. Beberapa detik setelah kilatan itu, gelombang panas menghantam ruangan. Dinding kelas runtuh dan Arifin kehilangan kesadaran.

Sementara itu, di tempat berbeda, Sagala juga mendengar suara pesawat yang kemudian diikuti cahaya menyilaukan. Belakangan diketahui bahwa pesawat tersebut adalah Enola Gay B-29 yang menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima.

Tiba-tiba terdengar suara aneh dan…. sraatt, sinar berkilau, dengan dahsyat dan mengejutkan!

Kutipan ini berasal dari memoar Sagala yang berjudul Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang, Sekitar Perang Pasifik 1942-1945 terbitan 1990. Ketika sadar, Sagala mendapati tubuhnya hangus terbakar panas ledakan, namun tubuhnya masih terjepit reruntuhan bangunan.

Hiroshima Menjadi Lautan Api

Arifin Bey melihat pemandangan mengerikan saat ia membuka mata. Kota Hiroshima telah berubah menjadi lautan api dengan korban bergelimpangan di mana-mana. “Seakan-akan sudah maghrib,” kenangnya.

Dalam kekacauan tersebut, Arifin bertemu dengan Hasan Rahaya yang baru saja berhasil menarik Sagala dari tumpukan puing yang masih membara. Ketiganya kemudian berusaha menyelamatkan diri dari lokasi bencana.

Selama proses evakuasi, Arifin menyaksikan banyak korban mengalami luka bakar parah hingga kulit tangan mereka mengelupas. Fenomena ini dijelaskan oleh Arifin Bey dalam memoarnya tahun 1990:

Rupanya cahaya yang menyambar itu telah ‘menguliti’ bagian tangannya yang tidak tertutup lengan baju, dan kulit tangan itu menggantung sehingga tampak seperti mengenakan sarung tangan,

Kengerian yang sama juga diingat oleh Kurihara Meiko, seorang penyintas yang diselamatkan oleh para mahasiswa Indonesia. Ia bercerita kepada NHK seperti yang dikutip pada Kamis, 6 Agustus 2026:

Situasinya sungguh buruk. Di dekat kami, jasad-jasad bertumpukan dan terbakar. Baunya aneh-seperti ikan terbakar,

Perjuangan Melawan Radiasi

Keselamatan dari ledakan bukan berarti akhir dari penderitaan. Setelah dievakuasi ke Tokyo, para dokter menemukan bahwa ketiga mahasiswa tersebut terpapar radiasi dalam kadar sangat tinggi. Jumlah sel darah putih mereka turun drastis hingga di bawah 4.000 per mikroliter darah, jauh lebih rendah dari kisaran normal yang berkisar antara 4.000 hingga 11.000.

Kondisi ketiganya dinyatakan kritis. Sagala bahkan disebut memiliki peluang hidup yang sangat kecil. Para dokter akhirnya mengaku tidak sanggup lagi memberikan pengobatan lebih lanjut. Para penyintas diminta menandatangani surat pernyataan bahwa mereka tidak akan menuntut dokter apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.

Pernyataan itu ditandatangani dan pasrah,

Ungkapan ini juga berasal dari memoar Arifin Bey yang berjudul Bom Atom di Atas Hiroshima terbitan 1989.

Beruntung, ketiga mahasiswa tersebut berhasil melewati masa kritis setelah sekitar satu pekan. Selama lima tahun berikutnya, kondisi kesehatan mereka terus dipantau secara ketat sebelum akhirnya mereka diperbolehkan kembali ke Indonesia.

Warisan Sejarah

Setelah pulang dari Jepang, setiap orang menempuh jalan hidup yang berbeda. Sagala mendirikan perusahaan mi instan pertama di Indonesia dengan merek Supermie pada tahun 1969. Hasan Rahaya menjadi seorang wirausahawan, sedangkan Arifin Bey berkarier sebagai akademisi dan diplomat.

Kini, nama ketiganya tercatat dalam sejarah sebagai hibakusha (被爆者), yaitu sebutan bagi para penyintas ledakan bom atom Hiroshima yang telah melewati penderitaan luar biasa dan melanjutkan kehidupan dengan penuh makna.

Frequently Asked Questions

What is Saat 3 WNI Jadi Korban Bom Atom?

Saat 3 WNI Jadi Korban Bom Atom is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Saat 3 WNI Jadi Korban Bom Atom matter?

Saat 3 WNI Jadi Korban Bom Atom matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

MORE FROM THIS CATEGORY