Menteri RI Ini Tak Punya Rumah & Hidup Miskin Meski Pimpin Megaproyek

1 month ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
4b794aa3-b17c-4f2a-9de0-ec1a903c290f_169

Solving Problems di Indonesia: Menteri Termiskin Hidup Miskin Meski Pimpin Megaproyek

Dailynesia.com – Dalam dunia politik dan pemerintahan, “Solving Problems” sering dianggap sebagai tantangan utama yang dihadapi pemimpin. Namun, ada seorang menteri yang membuktikan bahwa mengatasi kesulitan bisa menjadi cara untuk membangun negara. Ia adalah Sutami, mantan Menteri Pekerjaan Umum era Orde Baru, yang mengabdikan diri selama 14 tahun dalam delapan kabinet. Meski mengelola proyek-proyek besar, ia tetap memilih hidup sederhana hingga dijuluki “Menteri Termiskin” oleh publik. Kebiasaan ini tidak hanya menunjukkan kejujuran, tetapi juga menjadi bukti bagaimana “Solving Problems” bisa dilakukan melalui komitmen terhadap rakyat.

Eksplorasi Etos Hidup Sederhana

Etos kerja Sutami terkenal karena kebiasaan berjalan kaki ke berbagai wilayah, terutama daerah terpencil. Dengan metode ini, ia mampu melihat langsung kondisi masyarakat dan memastikan progres proyek berjalan sesuai rencana. Dalam buku Sutami Sosok Manusia Pembangunan Indonesia (1991), Hendropranoto, Staf Ahli Sutami, menjelaskan bahwa sikap ini memperkuat prinsip “Solving Problems” melalui keterlibatan langsung dengan kebutuhan rakyat. Tidak hanya efisien, cara ini juga meminimalkan biaya pengeluaran, sehingga biaya anggaran bisa dialihkan ke proyek yang lebih mendesak.

“Kebiasaan berjalan kaki bukan sekadar simbol kejujuran, tapi juga alat untuk mempercepat proses ‘Solving Problems’ di lapangan,” ujar salah satu kolega Sutami dalam wawancara terpisah.

Sutami dikenal sebagai pejabat yang tidak memperkaya diri dari dana negara. Ia memilih hidup di luar kemewahan, bahkan tidak memiliki rumah pribadi selama masa jabatannya. Hal ini membuatnya menjadi contoh nyata bahwa kekayaan material tidak selalu jadi ukuran keberhasilan seorang pemimpin. Meski hidup miskin, karyanya memberikan dampak jangka panjang bagi kemajuan Indonesia, terutama dalam bidang infrastruktur.

Kisah Proyek Megaproyek yang Menginspirasi

Proyek-proyek yang dibangun di bawah kepemimpinan Sutami, seperti Tol Jagorawi, Jembatan Semanggi, dan Jembatan Ampera, menjadi tulang punggung perekonomian dan transportasi masyarakat. Tol Jagorawi, misalnya, menghubungkan kota-kota besar di Jawa Barat dan menjadi langkah penting dalam mengatasi masalah aksesibilitas. Dengan cara ini, “Solving Problems” tidak hanya terbatas pada pemerintah, tetapi juga menjadi solusi bagi masyarakat yang terpinggirkan.

Sutami juga menggagas proyek-proyek kecil yang berdampak besar. Ia memastikan bahwa setiap progres infrastruktur disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Dalam sebuah wawancara, mantan rekan kerjanya menyebutkan bahwa “Solving Problems” dalam pekerjaannya selalu berfokus pada keadilan dan keberlanjutan. Hal ini membuat proyek yang ia pimpin tidak hanya menguntungkan pemodal, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup rakyat.

Di masa pensiun, Sutami masih menjaga etos hidup sederhana. Ia bahkan membeli properti secara cicilan bulanan dan memutus listrik rumahnya karena biaya tagihan yang tinggi. Penyakit liver kronis yang menyebabkan kematian ia pada 13 November 1980, berawal dari kelelahan akibat rutinitas berjalan kaki dan pola makan yang sederhana. Meski mengalami kesulitan, ia tetap memprioritaskan kebutuhan rakyat, bukan dirinya sendiri.

Faktor yang Membentuk Filosofi Pemimpin

Sutami memilih hidup miskin karena percaya bahwa “Solving Problems” harus dimulai dari kehidupan yang sejati. Ia mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mengerti pengorbanan yang dilakukan rakyat, sehingga kebijakan yang diambil lebih berimbang. Dengan menjalani hidup sederhana, ia menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak selalu diukur dari kekayaan, tetapi dari kemampuan mengatasi tantangan.

Kisah hidup Sutami menjadi bahan inspirasi bagi generasi pemimpin masa kini. Etos kerja yang ia bangun, melalui kejujuran dan keterlibatan langsung, memberikan contoh bagaimana “Solving Problems” bisa dijalankan dengan prinsip sederhana. Ia membuktikan bahwa jalan untuk mengatasi masalah adalah melalui kepercayaan pada rakyat dan komitmen untuk hidup dalam kesederhanaan. Jika hari ini masih ada pejabat yang menghabiskan anggaran untuk kehidupan mewah, Sutami menjadi bukti bahwa “Solving Problems” bisa dimulai dari rumah pribadi.

MORE FROM THIS CATEGORY