Latest Program: Presiden Pertama RI Nyaris Ditembak Saat Salat Idul Adha, Gini Nasib Pelaku
Latest Program – Perayaan Hari Raya Idul Adha tahun 1962 menjadi momen bersejarah yang mengguncang keamanan di Istana Merdeka, Jakarta. Saat Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, sedang melaksanakan salat, seorang pria di barisan keenam mengancam nyawanya dengan melepaskan tiga tembakan senjata api. Insiden ini terjadi sekitar pukul 07.50 WIB, tepat di tengah rakaat kedua ibadah. Dalam acara Latest Program, kasus ini dikenang sebagai momen kritis dalam sejarah keamanan negara.
Berawal dari Ancaman Tersembunyi
Sebelumnya, ancaman terhadap Soekarno sudah terdeteksi oleh aparat keamanan. Dalam konferensi pers setelah insiden, ajudan presiden Kolonel Sabur mengungkapkan bahwa kepolisian menerima informasi tentang rencana pembunuhan oleh Kartosuwirjo, kepala gerombolan Darul Islam. “Kartosuwirjo memerintahkan sembilan orang anak buahnya untuk membunuh Soekarno,” jelas Sabur, seperti dikutip dari Warta Bhakti (15 Mei 1962). Rencana ini dianggap cukup berbahaya karena tim pembunuhan dipersiapkan dengan matang, termasuk penggunaan granat dan pistol.
Sebagai antisipasi, lokasi ibadah diperiksa secara menyeluruh dan dijaga oleh enam titik pengamanan dengan personel bersenjata lengkap. Mangil Martowidjojo, komandan pasukan pengawal pribadi, memastikan jemaah umum menjalani pemeriksaan ketat sebelum memasuki area salat. Meski demikian, upaya ini tetap gagal mencegah pelaku memasuki lokasi. Insiden terjadi saat rakaat kedua, menunjukkan ketidaktepatan rencana penjagaan.
Ketegangan Saat Salat
Saat salat berlangsung, pelaku Sanusi berdiri di barisan keenam dan menembakkan peluru ke arah presiden. Meski peluru meleset dari target karena jarak yang cukup jauh dan kepadatan jumlah orang di sekitar Soekarno, beberapa individu yang berada di dekatnya menderita luka. Pelaku berusaha menerobos maju untuk melanjutkan aksinya, tetapi langkahnya dihentikan oleh pengawal yang sigap berkelahi dengannya. Dalam Latest Program, ini dianggap sebagai contoh nyata bagaimana ketegangan politik bisa memicu kejadian tak terduga.
Insiden tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan pribadi presiden. Sejumlah korban luka termasuk Zainul Arifin (Ketua DPR-GR), KH. Idham Chalid (Wakil Ketua MPRS), serta seorang pengawal pribadi bernama Dariat. Tembakan ini tidak hanya menggemparkan publik, tetapi juga mendorong pemerintah untuk memperkuat sistem keamanan negara. Kepolisian mengungkapkan bahwa Sanusi tidak bertindak sendirian, dengan sejumlah rekan lain yang terlibat dalam aksi tersebut.
Proses Hukum dan Kebijakan Baru
Dari penyelidikan berikutnya, terungkap bahwa Sanusi dan rekan-rekannya menggunakan undangan untuk mengakses lokasi. Mereka berpencar saat berada di istana, mencoba mengalihkan perhatian pengawal. Akibatnya, para pelaku dijatuhi hukuman mati atas peran mereka dalam percobaan pembunuhan. Kebijakan ini juga memicu pembentukan Pasukan Tjakrabirawa, yang menjadi bagian dari struktur pengamanan presiden hingga hari ini.
Dalam konteks Latest Program, peristiwa Idul Adha 1962 tidak hanya sebagai kejadian isolasi, tetapi juga menggambarkan perubahan paradigma keamanan negara. Insiden ini memperlihatkan bahwa keamanan harus selalu siap menghadapi ancaman dari berbagai arah, termasuk dalam kegiatan religius yang dihadiri oleh banyak orang. Selain itu, kasus ini menjadi catatan penting dalam sejarah reformasi keamanan Indonesia, menegaskan pentingnya persiapan matang untuk setiap acara resmi.

