15 Menteri Terdekat Presiden RI Ditangkap Polisi – Ini Kasusnya

3 months ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
237bca54-5401-45dd-8c3d-70e1025d7abb-0

15 Menteri Terdekat Presiden RI Ditangkap Polisi, Ini Kasusnya

Dailynesia.com – Dalam sejarah Indonesia, terjadi peristiwa yang mengejutkan ketika 15 menteri terdekat Presiden RI ditangkap oleh polisi dalam waktu singkat setelah dilantikkan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1966, tepatnya dalam masa pemerintahan Presiden Soekarno, yang memicu perubahan signifikan dalam dinamika politik dan kekuasaan. Kabinet Dwikora, yang dibentuk pada 12 Februari 1966, menjadi sasaran tindakan tegas dari militer dalam beberapa minggu setelah dibentuk. Peristiwa ini terjadi di tengah situasi politik dan ekonomi yang kritis, yang dipengaruhi oleh gerakan 30 September 1965.

Latar Belakang Gerakan 30 September

Gerakan 30 September 1965, yang dikenal juga sebagai Gerakan Pemuda 30 September atau G30S, menjadi pemicu utama perubahan kekuasaan di Indonesia. Peristiwa ini mengguncang stabilitas politik dan memicu kekhawatiran terhadap partai-partai komunis, khususnya Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam konteks ini, 15 menteri terdekat Presiden RI ditangkap karena dianggap terlibat dalam peristiwa tersebut. Meski tidak semua menteri terbukti secara langsung terlibat, tindakan ini menunjukkan upaya untuk menegakkan kembali kontrol kekuasaan di tangan Soekarno.

Kebijakan ekonomi yang tidak stabil sebelumnya juga memperparah ketegangan. Menurut buku “Zaman Peralihan” oleh Soe Hok Gie, harga bahan pokok melonjak hingga ratusan persen pada akhir tahun 1965, dengan harga bahan bakar minyak naik dari Rp400 menjadi Rp1.000 per liter. Kenaikan ini memicu aksi demonstrasi besar-besaran oleh para mahasiswa di Jakarta, yang menuntut perubahan kebijakan pemerintah. Meski Soekarno menyangkal bahwa reshuffle kabinet dilakukan karena tekanan dari aksi mahasiswa, situasi ini mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.

Proses Penangkapan dan Dampaknya

Dalam beberapa minggu setelah pembentukan Kabinet Dwikora, pada 18 Maret 1966, 15 menteri terdekat Presiden RI ditangkap oleh polisi militer. Para menteri yang ditahan termasuk Subandrio, Chaerul Saleh, dan Achadi, yang dianggap memiliki hubungan dekat dengan Soekarno. Dalam surat perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan nasional. Dengan dikeluarkannya perintah ini, Soeharto mulai mengambil alih kebijakan politik dan mengubah struktur pemerintahan.

Penangkapan ini tidak hanya memengaruhi status kekuasaan Soekarno, tetapi juga membuka jalan bagi konsolidasi kekuasaan Soeharto. Dalam bukunya “Militer dan Politik di Indonesia”, Harold Crouch menjelaskan bahwa Soeharto membagi para menteri yang ditahan menjadi tiga kelompok: 1) mereka yang memiliki hubungan kuat dengan PKI, 2) mereka yang dianggap tidak jujur dalam mendukung Presiden, dan 3) mereka yang dinilai hidup mewah sementara rakyat mengalami kesulitan ekonomi. Penyebab penangkapan ini beragam, mulai dari hubungan politik hingga isu ekonomi.

Kasus penangkapan 15 menteri terdekat Presiden RI ini menjadi bagian penting dari pergeseran kekuasaan yang terjadi pada akhir 1965 hingga awal 1966. Menteri-menteri yang ditangkap sebagian besar berasal dari partai-partai nasionalis yang didukung Soekarno, sehingga tindakan ini dianggap sebagai langkah untuk mengurangi pengaruh PKI dan memperkuat kembali kekuasaan pemerintah. Selain itu, kejadian ini menjadi sinyal awal bahwa Soeharto akan mengambil alih peran sentral dalam pemerintahan Indonesia.

Dengan penangkapan 15 menteri terdekat Presiden RI, Soeharto berhasil menghapus potensi ancaman terhadap kekuasaannya. Peristiwa ini juga meningkatkan kredibilitas militer sebagai pihak yang dianggap lebih stabil dalam menghadapi krisis. Kabinet Dwikora yang baru dibentuk akhirnya dinyatakan tidak stabil, dan Soeharto mempercepat proses reshuffle kabinet untuk memperkuat pengaruh militer dalam pemerintahan. Selain itu, tindakan ini memperkuat kelompok-kelompok yang dianggap pro-Soeharto, seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), dalam menegakkan kebijakan baru.

Kasus penangkapan 15 menteri terdekat Presiden RI ini menunjukkan bagaimana kekuasaan berpindah tangan dalam suasana politik yang memanas. Para menteri yang ditahan tidak hanya menjadi simbol penentangan terhadap PKI, tetapi juga menjadi korban perubahan struktur kekuasaan yang terjadi. Sejarawan Ricklefs dalam bukunya “Sejarah Indonesia Modern” (1999) menekankan bahwa Supersemar adalah titik balik yang memicu kebijakan militer untuk mengambil alih pemerintahan. Dengan penangkapan ini, Soeharto semakin meyakinkan publik bahwa ia adalah sosok yang mampu menegakkan keamanan dan stabilitas di Indonesia.

MORE FROM THIS CATEGORY