Cuaca Ekstrem Picu Lonjakan Penyakit, IDAI Minta Orang Tua Waspada

2 months ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
suasana-anak-anak-beraktifitas-di-sekolah-prestasi-global-pancoran-mas-depok-senin-482025-1754289457704_169

Key Issue: Cuaca Ekstrem Memicu Lonjakan Penyakit, IDAI Minta Orang Tua Waspada

Dailynesia.com – Dalam kesehatan anak semakin menjadi perhatian serius, terutama di tengah dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Organisasi kesehatan IDAI mengingatkan orang tua bahwa cuaca ekstrem, seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas, berpotensi memicu peningkatan berbagai penyakit pada anak. Fluktuasi suhu udara, kualitas polusi yang memburuk, serta ketidakstabilan sumber daya air bersih menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi kesehatan mereka.

“Anak-anak rentan terhadap dampak cuaca ekstrem karena sistem kekebalan dan perkembangan organ tubuh mereka masih dalam tahap pertumbuhan,” kata Dr. dr. Riyadi, Sp.A. Subsp.Inf.P.T(K), M.Kes, anggota Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian orang tua terhadap pola penyakit yang berubah akibat kondisi iklim yang tidak menentu.

Key Issue ini mencakup berbagai jenis penyakit, mulai dari infeksius hingga non-infeksius. Suhu tinggi yang sering terjadi dapat menyebabkan dehidrasi berat dan gangguan pernapasan, sementara banjir dan hujan deras meningkatkan risiko leptospirosis serta infeksi kulit. Selain itu, fluktuasi musim juga mempercepat penyebaran penyakit menular, khususnya yang ditularkan melalui nyamuk seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.

Perubahan Iklim dan Peningkatan Penyakit pada Anak

Dokter Riyadi menyoroti bahwa perubahan iklim bukan hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga langsung berdampak pada kesehatan anak. Faktor-faktor seperti kekeringan berkepanjangan dan kemarau ekstrem mengurangi akses makanan bergizi, yang bisa memicu masalah gizi dan memperlemah daya tahan tubuh. Di sisi lain, banjir dan hujan deras meningkatkan risiko kontaminasi air, yang mempercepat penyebaran penyakit infeksius.

Key Issue ini juga mengungkapkan bahwa kekacauan cuaca memengaruhi perilaku hidup sehat anak. Misalnya, suhu udara yang tidak stabil memaksa anak lebih sering menangis atau mengalami kelelahan, sehingga memperburuk kondisi mereka. Selain itu, kondisi cuaca ekstrem membuat sanitasi lingkungan lebih rentan terganggu, meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan dan pencernaan.

Strategi Penanganan untuk Mencegah Dampak Negatif

Untuk menghadapi Key Issue ini, IDAI menyarankan beberapa langkah yang bisa diambil oleh orang tua. Pertama, tetap memantau kondisi cuaca dan kualitas udara melalui aplikasi digital. Jika terjadi kondisi cuaca ekstrem, batasi aktivitas anak di luar rumah. Kedua, pastikan anak terus terhidrasi dengan air minum yang bersih dan seimbang, terutama saat suhu tinggi atau musim kemarau.

Key Issue juga menekankan kebiasaan hidup sehat seperti cuci tangan pakai sabun dan penggunaan pengasapan di rumah. Orang tua dianjurkan untuk terapkan pola kebersihan yang konsisten, terutama selama musim hujan atau kekeringan. Selain itu, vaksinasi dasar dan tambahan, termasuk untuk penyakit seperti pneumonia dan influenza, harus tetap menjadi prioritas agar daya tahan anak tetap optimal.

Key Issue ini terutama berdampak pada anak usia di bawah 5 tahun, yang lebih rentan terhadap efek kesehatan dari cuaca ekstrem. Dokter Riyadi menambahkan bahwa kekacauan cuaca juga memengaruhi sistem imun anak, sehingga kelelahan dan stres lingkungan bisa meningkatkan risiko penyakit. Selain itu, pola makan dan pola tidur anak perlu dijaga agar tubuh mereka tetap sehat di tengah perubahan iklim.

Untuk memperkuat upaya pencegahan, IDAI menyarankan agar orang tua terus memantau kondisi kesehatan anak secara berkala. Mereka juga bisa memanfaatkan informasi dari instansi kesehatan lokal untuk memahami risiko penyakit tertentu di wilayah masing-masing. Selain itu, kebersamaan dalam mengambil langkah pencegahan menjadi penting, karena Key Issue ini tidak hanya memengaruhi anak, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga dalam menjaga lingkungan sehat.

MORE FROM THIS CATEGORY