Luhut Cs Ingatkan Prabowo Soal Risiko Harga Naik Imbas Dolar Rp 18.000

2 months ago  ·  2 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
anggota-dewan-ekonomi-nasional-den-chatib-basri-saat-menyampaikan-keterangan-kepada-media-usai-melakukan-pertemuan-dengan-pres-1781010546418_169

Luhut Cs Ingatkan Prabowo Soal Risiko Inflasi Akibat Dolar Rp 18.000

Dailynesia.com – Menjadi fokus utama dalam pertemuan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di Istana Merdeka, di mana Luhut Binsar Pandjaitan dan anggota lainnya memberikan analisis mendalam mengenai ancaman inflasi yang mungkin terjadi akibat pelemahan nilai tukar Rupiah. Kehadiran DEN ini bertujuan untuk menyusun strategi nasional yang lebih efektif dalam menghadapi tekanan ekonomi global, termasuk kemungkinan kenaikan harga yang dipicu oleh Rupiah yang melemah hingga mencapai Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat.

Analisis Risiko Harga Naik

Dalam pertemuan tersebut, Luhut menyampaikan bahwa pelemahan Rupiah tidak hanya menurunkan daya beli masyarakat, tetapi juga mengancam stabilitas harga di pasar dalam negeri. “Penting untuk menyadari bahwa setiap pelemahan nilai tukar mata uang lokal bisa mengakibatkan kenaikan harga bahan pokok, terutama pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah,” katanya. Ia menekankan bahwa Key Strategy dalam mengelola inflasi memerlukan kebijakan yang lebih transparan dan responsif terhadap perubahan ekonomi global.

Pendapat Chatib Basri dan Firman Hidayat

“Kita perlu memperkuat kepercayaan masyarakat bahwa pemerintah mampu mengelola ekonomi secara efisien. Key Strategy ini mencakup efisiensi anggaran, seperti program MBG, yang menjadi pondasi penting untuk menjaga stabilitas harga,” jelas Chatib Basri, salah satu anggota DEN.

Firman Hidayat menambahkan bahwa meskipun Rupiah mengalami pelemahan, kondisi ekonomi Indonesia secara fundamental masih sehat. “Inflasi saat ini berada di level 3%, sementara Indeks Harga Perdagangan Besar (IHGB) mencapai 5% dan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 7%,” katanya. Namun, ia mengingatkan bahwa Key Strategy harus mencakup antisipasi terhadap perang yang berlangsung lebih lama, karena dapat memengaruhi harga energi internasional dan biaya produksi dalam negeri.

Sementara itu, Firman menyoroti bahwa utang perusahaan dalam dolar di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan pada tahun 1998. “Ini menjadi salah satu indikator keberhasilan Key Strategy dalam mengurangi risiko krisis ekonomi,” tambahnya. Kebijakan perbankan, termasuk *capital adequacy ratio* yang tetap di atas 25%, menjadi faktor penunjang kinerja sistem keuangan nasional.

Strategi Peningkatan Devisa

Dalam upaya menstabilkan ekonomi, DEN menyarankan Key Strategy berupa peningkatan jumlah wisatawan untuk meningkatkan devisa. “Saat ini, jumlah wisman hanya 15 juta, yang masih kalah dari Vietnam (20 juta) dan Thailand (30 juta),” jelas Firman. Ia menekankan bahwa kebijakan ini tidak memerlukan tambahan dana tetapi bisa memberikan dampak jangka panjang dalam mendorong perekonomian.

Untuk mendorong Key Strategy ini, Firman mengusulkan penghapusan visa kunjungan bagi wisatawan dari negara-negara dengan pendapatan tinggi. “Dengan langkah ini, kita bisa meningkatkan akses wisatawan internasional dan memperkuat pasokan devisa,” katanya. Selain itu, ia juga mengingatkan perlunya optimasi program MBG sebagai bagian dari Key Strategy, karena memiliki potensi penghematan anggaran yang signifikan.

Pertemuan DEN ini menjadi momentum penting untuk mengkoordinasikan langkah-langkah kebijakan ekonomi, terutama dalam menghadapi tekanan dari nilai tukar Rupiah yang turun. Luhut dan rekan-rekannya sepakat bahwa Key Strategy harus mencakup kehati-hatian terhadap dinamika global, termasuk fluktuasi mata uang asing dan perubahan harga energi. Dengan strategi yang terpadu, mereka yakin Indonesia bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi meski di tengah tantangan inflasi.

MORE FROM THIS CATEGORY