Sebelum Sembilan Naga, Ada Gang of Four Penguasa Ekonomi RI

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
liem-sioe-liong-atau-dikenal-dengan-nama-indonesia-sudono-salim-adalah-seorang-pengusaha-indonesia_169

Key Discussion: Sebelum Sembilan Naga, Ada Gang of Four Penguasa Ekonomi RI

Dailynesia.com – Memperlihatkan bahwa dalam sejarah ekonomi Indonesia, istilah ‘Gang of Four’ sering dikaitkan dengan kekuatan ekonomi yang membentuk fondasi bagi pertumbuhan industri nasional. Sebelum era Sembilan Naga menjadi populer, kelompok ini memegang peranan penting sebagai penguasa ekonomi pada awal Orde Baru. Terbentuknya ‘Gang of Four’ dianggap sebagai titik balik dalam mengembangkan bisnis besar yang akhirnya memainkan peran kritis dalam perekonomian Indonesia.

Sejarah Munculnya Gang of Four

Pertemuan yang mengarah pada pembentukan ‘Gang of Four’ berlangsung pada tahun 1968, ketika empat tokoh utama—Sudono Salim, Sudwikatmono (dikenal sebagai Dwi), Ibrahim Risjad, dan Djuhar Sutanto—mulai bersinergi dalam bidang bisnis. Awal mula hubungan mereka berawal dari kehadiran Dwi di kediaman Presiden Soeharto di Menteng, tempat ia secara langsung melihat interaksi antara Soeharto dan Salim. Peristiwa ini menjadi momen penting yang memicu kolaborasi antara mereka, meskipun masing-masing awalnya memiliki latar belakang berbeda.

Salim dan Djuhar Sutanto fokus pada perdagangan, sementara Dwi serta Risjad lebih dulu bekerja di perusahaan-perusahaan kecil. Ketika Soeharto mengusulkan Dwi untuk bergabung dengan Salim, ia diberi gaji bulanan sebesar Rp1 juta dan saham di perusahaan. Penawaran ini terasa luar biasa mengingat gaji sebelumnya hanya Rp400 per hari. Keempat tokoh ini secara konsisten mengembangkan strategi bisnis yang saling mendukung, membentuk jaringan kekuasaan yang tidak tergantikan.

“Keesokan harinya, saya bertemu dengan Om Liem. Dia meminta saya untuk bergabung dalam bisnisnya karena Pak Harto telah mengusulkan nama saya. Saya ditawari gaji bulanan Rp1 juta dan saham di perusahaan,”

tutur Dwi kepada Richard Borsuk dan Nancy Chng. Pertemuan tersebut menandai awal dari keberadaan ‘Gang of Four’ yang segera menjadi bagian dari sistem ekonomi RI. Kedekatan mereka dengan Soeharto memberikan akses yang luas untuk mengembangkan usaha, termasuk mendirikan yayasan serta perusahaan yang menunjang pertumbuhan ekonomi.

Pengaruh dalam Pembentukan Ekonomi Indonesia

Dwi dan Djuhar Sutanto, yang diperkenalkan oleh Soeharto, menjadi kunci dalam menggerakkan bisnis yang mendominasi sektor pertanian dan perdagangan. Mereka menggabungkan keahlian masing-masing, menciptakan model bisnis yang efisien dan berkelanjutan. Dengan bantuan kebijakan pemerintah yang pro-bisnis, perusahaan-perusahaan yang mereka dirikan mulai menguasai pasar dalam waktu singkat. Contohnya, Hanurata, yayasan Soeharto, memberikan fondasi untuk bisnis-bisnis besar yang akhirnya mengubah wajah ekonomi Indonesia.

Key Discussion menyoroti bahwa ‘Gang of Four’ tidak hanya fokus pada bisnis bersama, tetapi juga mengembangkan usaha individu yang saling melengkapi. Sudono Salim, sebagai tokoh sentral, membawa nama besar melalui perusahaan-perusahaan seperti Salim Group. Dwi, setelah bergabung, berperan sebagai pengelola perusahaan besar, sedangkan Ibrahim Risjad dan Djuhar Sutanto fokus pada peningkatan jaringan perdagangan. Kombinasi ini memastikan bahwa mereka tidak hanya menjadi pelaku ekonomi, tetapi juga penguasa yang konsisten sepanjang masa Orde Baru.

Perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh ‘Gang of Four’ menjadi contoh utama keberhasilan kolaborasi antara politik dan bisnis. Misalnya, Indocement, Indofood, Indomilk, Indomaret, dan Indomobil menjadi merek nasional yang mengalahkan perusahaan asing. Dengan dukungan kebijakan Soeharto yang membuka pasar dan memberikan konsesi, bisnis mereka berkembang pesat, menimbulkan dampak jangka panjang terhadap struktur perekonomian RI. Key Discussion juga menekankan bahwa era Sembilan Naga hanyalah kelanjutan dari kekuatan ekonomi yang sebelumnya dijaga oleh ‘Gang of Four’.

Di sisi lain, ‘Gang of Four’ menunjukkan bagaimana pengusaha besar dari keturunan Tiongkok berperan dalam mendorong modernisasi sektor ekonomi Indonesia. Mereka mengelola bisnis dengan sistem yang terstruktur, menggabungkan modal besar dengan kebijakan pemerintah yang progresif. Pengaruh mereka terasa hingga era reformasi, karena keberadaan bisnis yang mereka bangun menjadi warisan yang berkelanjutan. Key Discussion memperlihatkan bahwa transisi dari ‘Gang of Four’ ke Sembilan Naga bukanlah perubahan tiba-tiba, melainkan evolusi dari sistem yang sudah mapan.

Meskipun terdapat berbagai perubahan dalam dunia bisnis Indonesia, ‘Gang of Four’ tetap dianggap sebagai tulang punggung kekuatan ekonomi pada masa awal Orde Baru. Mereka menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kolaborasi yang strategis antara pengusaha. Dengan membangun jaringan kekuasaan dan perusahaan yang mengakar, mereka menciptakan basis ekonomi yang kuat, yang akhirnya menjadi fondasi bagi pembentukan Sembilan Naga.

Key Discussion juga menyoroti pentingnya peran ‘Gang of Four’ dalam membangun ekosistem bisnis yang beragam. Mereka membuka peluang bagi pengusaha-pengusaha lokal untuk berkembang, sekaligus menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan swasta. Dengan menguasai sektor utama seperti pertanian, perdagangan, dan industri makanan, ‘Gang of Four’ membuktikan bahwa kekuatan ekonomi bisa dipertahankan melalui inisiatif yang tepat. Pengaruh mereka terus dirasakan hingga hari ini, bahkan menjadi referensi dalam studi ekonomi RI.

MORE FROM THIS CATEGORY