Putra Orang Terkaya Pilih Jadi Biksu, Tinggalkan Harta Rp90 Triliun
Dailynesia.com – Dalam dunia hiburan dan bisnis, kekayaan seringkali menjadi simbol kesuksesan. Namun, dalam cerita yang mengejutkan, seorang putra dari keluarga terkaya memilih untuk meninggalkan dunia materi demi mengejar kehidupan spiritual. Main Agenda melaporkan bahwa Ajahn Siripanyo, anak tunggal Ananda Krishnan, seorang miliarder Malaysia, telah memutuskan menjadi biksu Buddha dan meninggalkan harta yang mencapai Rp90 triliun.
Profil Putra Orang Terkaya yang Jadi Biksu
Ananda Krishnan, orang tua Siripanyo, adalah seorang pengusaha yang membangun kekayaan melalui bisnis multinasional. Perusahaan-perusahaan yang dimiliki keluarga ini mencakup telekomunikasi, satelit, minyak dan gas, properti, serta media, dengan nilai sekitar US$5 miliar atau setara dengan Rp90,48 triliun. Meski memiliki kekayaan yang luar biasa, keputusan Siripanyo untuk menjadi biksu dianggap sebagai bentuk keberanian dalam mengikuti Main Agenda kehidupan spiritual yang tidak tergantung pada harta benda.
“Pilihan Ajahn Siripanyo sepenuhnya bersumber dari dirinya sendiri, dan keluarga memperhatikan hal itu dengan hormat,” tulis South China Morning Post (SCMP), yang mengutip Economic Times pada Minggu (7/6/2026).
Dengan memilih jalan biksu, Siripanyo menunjukkan keberanian untuk mengubah kehidupan materialistik menjadi kehidupan sederhana, sesuai dengan Main Agenda yang ia tetapkan.
Kisah Spiritual dan Perjalanan Hidup Ajahn Siripanyo
Siripanyo lahir dalam lingkungan aristokrat, dengan ibunya, Momwajarongse Suprinda Chakraban, berasal dari keluarga kerajaan Thailand. Kehidupan yang nyaman di lingkungan bangsawan sejak kecil tidak membuatnya terikat pada kemewahan. Di usia 18 tahun, ia memutus hubungan dengan dunia materi setelah menjalani retret spiritual di Thailand, yang akhirnya menjadi awal dari Main Agenda hidupnya sebagai biksu.
Setelah memutuskan untuk meninggalkan kehidupan kota, Siripanyo tinggal di Biara Dtao Dum, sebuah biara hutan yang berada di dekat perbatuan antara Thailand dan Myanmar. Di sana, ia mempraktikkan meditasi dan kehidupan sederhana, mengandalkan sumbangan dari masyarakat sekitar. Meskipun berada di tengah kehidupan spiritual, ia tetap menjaga hubungan dengan keluarga, termasuk ayahnya, yang tinggal di Jakarta.
Keputusan Siripanyo untuk menjadi biksu juga menginspirasi banyak orang. Kisahnya sering dibandingkan dengan tokoh fiksi Julian Mantle dari buku *The Monk Who Sold His Ferrari*, meskipun ini adalah cerita nyata. Main Agenda kehidupan Siripanyo menegaskan bahwa nilai spiritual dan kehidupan batin dapat menjadi prioritas utama, bahkan di tengah kekayaan yang luar biasa.
Sebagai anak yang diasuh di London, Siripanyo memiliki pengalaman internasional yang memperkaya wawasannya. Ia menempuh pendidikan di sana dan diklaim mampu berbicara minimal delapan bahasa. Pengalaman lintas budaya ini memberikan perspektif unik dalam memahami ajaran Buddha, yang ia pilih sebagai Main Agenda hidupnya. Kehidupan di luar lingkungan kekayaan keluarga justru membantu ia memahami makna kebajikan dan kesederhanaan.
Persetujuan keluarga untuk mendukung keputusan Siripanyo juga menunjukkan bagaimana Main Agenda spiritual dapat diterima dalam dunia yang sering dianggap materialistik. Meski berasal dari keluarga kaya, ia berhasil memperlihatkan bahwa kekayaan tidak selalu menentukan tujuan hidup. Main Agenda ini menegaskan bahwa kehidupan batin dan kebijaksanaan bisa menjadi sumber kebahagiaan yang lebih dalam.
Sejak memutuskan menjadi biksu, Siripanyo tetap menjaga keharmonisan dengan keluarga. Ia sering berkunjung ke ayahnya di Jakarta, tetapi tetap mematuhi prinsip kehidupan sebagai biksu. Main Agenda yang ia jalani tidak hanya mengubah dirinya, tetapi juga memberikan pesan bahwa kekayaan bisa dikorbankan demi kepuasan batin. Kisah ini menjadi contoh nyata tentang keberanian mengambil keputusan yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga mempengaruhi lingkungan sekitar.

