Era Baru Timur Tengah: Bikin Senjata Sendiri, Siap Tantang Amerika

2 months ago  ·  2 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
10-negara-pembeli-utama-senjata-israel-ada-4-tetangga-ri_169

Latest Program: Era Baru Timur Tengah Berupaya Kembangkan Senjata Lokal untuk Tantang Amerika

Dailynesia.com – Kawasan Timur Tengah, yang selama ini dianggap sebagai pengguna utama senjata global, kini mulai mengubah strategi mereka. Dengan bantuan Latest Program, negara-negara di wilayah ini berusaha membangun industri pertahanan nasional sebagai langkah untuk meredam ketergantungan pada pasokan senjata Barat, terutama dari Amerika Serikat (AS). Perubahan ini terjadi di tengah persaingan geopolitik yang semakin ketat dan kebutuhan untuk memiliki kekuatan militer yang lebih mandiri. Berdasarkan data dari SIPRI, lembaga riset Swedia, pangsa impor senjata UEA telah menurun sejak 2016, menunjukkan pergeseran signifikan dalam arah pembangunan pertahanan.

Kebangkitan Industri Pertahanan Regional

Dalam era baru ini, beberapa negara Teluk mengalami pertumbuhan industri pertahanan yang cepat. Arab Saudi, misalnya, telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan produksi senjata dalam negeri. Sebagian besar anggaran belanja senjata negara ini akan dialokasikan untuk mengembangkan kemampuan manufaktur sendiri, dengan harapan menciptakan produk pertahanan unggul yang dapat bersaing di tingkat global. Pada 2030, Saudi Arabian Military Industries (SAMI) diharapkan menjadi salah satu perusahaan pertahanan terbesar dunia berdasarkan pendapatan. Selain itu, Qatar juga terlibat dalam proyek penelitian senjata dan sistem pertahanan berbasis teknologi canggih.

Perusahaan seperti UEA’s EDGE Group memainkan peran penting dalam mengubah dinamika industri senjata. Berdiri dari gabungan 25 perusahaan kecil pada 2019, EDGE telah mengambil langkah strategis untuk menguasai sektor sistem pertahanan kritis. Mereka tidak hanya mengakuisisi teknologi asing tetapi juga mulai mengeksplorasi pengembangan produk lokal. Ini menunjukkan bahwa Latest Program di Timur Tengah tidak hanya fokus pada pembelian senjata, tetapi juga pada keahlian manufaktur yang dapat meningkatkan ketahanan militer negara-negara kawasan.

Strategi Berbasis Teknologi Canggih

Pengembangan senjata sendiri di Timur Tengah melibatkan peningkatan kerja sama dengan perusahaan teknologi internasional. UEA, sebagai contoh, membentuk patungan dengan Anduril, perusahaan asal Amerika Serikat yang terkenal karena inovasi drone. Dengan investasi di bidang teknologi canggih, negara-negara kawasan ini dapat menghasilkan senjata presisi yang memenuhi standar global. Produk seperti Desert Sting DS-25, yang dikembangkan oleh EDGE, menunjukkan kemajuan dalam sistem luncur udara berbasis platform modern.

Latest Program ini juga mencakup upaya untuk memperkuat kerangka ekonomi pertahanan. Selain mengakuisisi perusahaan asing, UEA mengadakan kerja sama dengan Leonardo dan Fincantieri dari Italia, serta Rheinmetall dari Jerman. Pernyataan CEO EDGE, Hamad al-Marar, mengungkapkan bahwa pendapatan perusahaan ini akan meningkat 20% dalam dua tahun ke depan, mencerminkan kepercayaan terhadap strategi kemandirian pertahanan. Selain itu, produk-produk yang dijual ke pasar internasional menunjukkan potensi ekspansi yang besar.

Di sisi lain, Arab Saudi terus memperluas basis produksi mereka melalui SAMI. Perusahaan ini sebelumnya hanya fokus pada komponen untuk senjata AS, tetapi kini bertujuan mengembangkan produk pertahanan yang lebih mandiri. Dengan anggaran yang meningkat, Saudi berharap dapat menciptakan senjata dan sistem yang bisa digunakan dalam berbagai skenario militer, baik dalam pertahanan nasional maupun operasi internasional. Selain itu, keterlibatan dalam program penelitian senjata ini juga berdampak pada stabilitas kawasan.

MORE FROM THIS CATEGORY