Siap-siap BI Makin Galak! Rupiah Tertekan & Harga-harga Melambung

2 months ago  ·  3 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
gubernur-bank-indonesia-bi-perry-warjiyo-saat-menyampaikan-sambutan-dalam-acara-pertemuan-tahunan-bank-indonesia-ptbi-tahun-20-1764335127748_169

Siap-siap BI Makin Galak! Rupiah Tertekan & Harga-harga Melambung

Dailynesia.com – Jakarta, dalam kondisi ekonomi Indonesia yang kini menghadapi tekanan ganda, berbagai analis mengingatkan bahwa Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan tetap berpegangan pada kebijakan moneter yang konservatif. Kondisi ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus mengalami tren turun, serta kenaikan inflasi yang menjadi perhatian utama. Analis menilai bahwa BI diperkirakan akan menjaga sikap hawkish (sikap menaikkan suku bunga) untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan mengendalikan tekanan inflasi yang mulai berdampak signifikan pada kehidupan masyarakat.

Kenaikan Inflasi Menjadi Fokus Utama

Menurut laporan bulanan BCA yang berjudul “CPI: Slowly creeping up”, tim ekonom BCA Victor George Petrus Matindas dan Samuel Theophilus Artha menyatakan bahwa tingkat inflasi di Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada bulan Mei 2026. Data menunjukkan angka inflasi tahunan (YoY) mencapai 3,08%, sedangkan inflasi bulanan (MoM) naik ke 0,28%. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan bulan April sebelumnya, yang hanya 2,42% YoY dan 0,13% MoM.

“Ancaman inflasi yang semakin nyata ini kemungkinan akan memaksa Bank Indonesia mempertahankan kebijakan moneter ketat selama periode tertentu,” ungkap tim ekonom BCA, seperti dikutip dari laporan Economic and Industry Research pada Rabu (3/6/2026).

Kenaikan inflasi terutama berasal dari kategori harga yang diatur pemerintah, yang mencapai peningkatan 0,52% MoM. Ini diakibatkan oleh kenaikan tarif penerbangan dan harga energi nonsubsidi. Faktor lain yang turut berkontribusi adalah lonjakan harga sejumlah komoditas pangan, meskipun perlu diperhatikan bahwa komponen-komponen ini sering mengalami fluktuasi besar terutama akibat volatilitas pasar global.

Pelemahan Rupiah dan Dampaknya pada Ekonomi

Rupiah kembali melemah setelah menembus level baru dalam perbandingan terhadap dolar AS. Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 09.26 WIB, nilai tukar rupiah tercatat turun 0,39% menjadi Rp17.900/US$, lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan hari perdagangan yang tercatat di Rp17.870/US$. Level ini menjadi titik terendah sepanjang masa untuk rupiah terhadap greenback.

Analisis ekonom BCA mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tak hanya memengaruhi biaya hidup masyarakat, tetapi juga berdampak pada biaya input produksi. Ini berpotensi meningkatkan tekanan harga jual di berbagai sektor, terutama industri yang bergantung pada impor. Selain itu, kondisi ini memperkuat kemungkinan BI memperketat kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi.

“Meskipun sektor transportasi hanya memberikan kontribusi langsung sekitar 11,9% terhadap IHK, dampak tidak langsung melalui sektor logistik jauh lebih besar,” jelas tim ekonom BCA. “Indonesia sebagai negara kepulauan membuat kenaikan harga energi memengaruhi harga barang dan jasa secara umum.”

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan tekanan pada cadangan devisa dan pertumbuhan ekspor. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa kebijakan BI mungkin terpaksa diperketat lagi untuk menutupi defisit perdagangan dan memastikan daya beli masyarakat tidak terlalu terganggu.

Proyeksi Kenaikan Suku Bunga BI

Dalam upaya mengendalikan inflasi, BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan hingga akhir tahun 2026. Analis BCA menyatakan bahwa suku bunga tersebut memiliki ruang untuk dinaikkan sebesar 50 basis poin (0,50%) tanpa mengganggu likuiditas pasar. Imbal hasil SRBI tenor 12 bulan yang tercatat mencapai 6,92% dalam lelang terakhir menunjukkan bahwa BI sedang berupaya memperketat kebijakan moneter.

Di sisi lain, Faisal Rachman, Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, menyebut bahwa BI mungkin mengambil langkah tambahan untuk menaikkan suku bunga acuan. Namun, skenario dasar (baseline) menunjukkan BI masih akan mempertahankan suku bunga pada 5,25% hingga akhir tahun, karena kenaikan sebelumnya dianggap sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Faisal menambahkan bahwa jika kondisi ekonomi tidak membaik dan inflasi terus bergerak naik, BI mungkin memutuskan untuk meningkatkan suku bunga lebih lanjut. Dengan asumsi harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tetap stabil, inflasi tahunan diperkirakan mencapai 2,72% pada akhir 2026. Namun, jika ada risiko tambahan seperti tekanan global atau kenaikan harga pangan yang lebih signifikan, angka ini bisa meningkat menjadi lebih tinggi.

Kebijakan BI ini diharapkan dapat menekan inflasi dan mencegah pelemahan rupiah terus berlanjut. Meski demikian, ada risiko bahwa peningkatan suku bunga berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat, terutama di sektor kecil dan menengah yang bergantung pada kredit. Oleh karena itu, BI perlu memastikan bahwa kebijakan moneter yang diterapkan seimbang antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.

Di samping itu, pelemahan rupiah yang terjadi selama 6,5% sejak awal tahun (YtD) memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan terus berlanjut. Analis menilai bahwa kebijakan BI yang agresif dalam menjaga nilai tukar rupiah menjadi strategi utama untuk mengantisipasi kenaikan harga barang dan jasa yang dipicu oleh guncangan energi dan inflasi. Dengan penyesuaian suku bunga dan kebijakan moneter, BI berharap mampu meminimalkan dampak negatif pada masyarakat Indonesia.

MORE FROM THIS CATEGORY