PMI Manufaktur RI Membaik – Tapi Pengusaha Teriak Mahalnya Bahan Baku

2 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
sejumlah-pekerja-beraktivitas-pada-pabrik-tekstil-di-pt-mitra-saruta-indonesia-msi-nganjuk-jawa-timur-jumat-1642026-1776385316709_169

PMI Manufaktur RI Membaik, Tapi Pengusaha Teriak Mahalnya Bahan Baku

Dailynesia.com – Dalam bulan Mei 2026, Indonesia mencatat peningkatan kecil dalam aktivitas manufaktur, berdasarkan data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis oleh S&P Global pada Selasa (2/6/2026). Angka PMI manufaktur RI mencapai 50,0, menandai akhir dari tren kontraksi sejak April 2026 yang sebelumnya mencatatkan angka 49,1. PMI menggunakan ambang 50 sebagai indikator ekspansi atau kontraksi. Nilai di atas 50 berarti pertumbuhan aktivitas usaha, sementara di bawahnya menunjukkan penurunan. Meski PMI manufaktur RI membaik, situasi ekonomi industri masih menunjukkan tantangan signifikan yang memengaruhi keberlanjutan pertumbuhan.

Faktor yang Membatasi Pertumbuhan

Kenaikan PMI manufaktur RI pada Mei 2026 terjadi di tengah tekanan besar dari kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan. S&P Global Market Intelligence mencatat bahwa biaya operasional industri manufaktur melonjak tajam, mencatatkan kenaikan kedua terbesar dalam sejarah survei mereka. Kesulitan memperoleh bahan baku, seperti logam, plastik, dan bahan kimia, serta tekanan harga yang meningkat menjadi faktor utama yang menghambat produktivitas. Dalam tiga bulan terakhir, aktivitas pabrik terus tertekan karena gangguan rantai pasok, baik akibat ketidakstabilan ekonomi global maupun isu lokal seperti kebijakan tarif yang ketat.

Permintaan domestik tercatat stabil, dengan pesanan baru meningkat untuk bulan kedua secara beruntut. Namun, ekspor mengalami penurunan lebih dalam, mencatat kontraksi terdalam sejak Agustus 2021. Kondisi ini disebabkan oleh konflik geopolitik di Timur Tengah dan inflasi yang tinggi, yang mengurangi daya beli pelaku usaha asing. Meski demikian, perusahaan mulai memangkas persediaan dan mengurangi tenaga kerja sebagai upaya menghemat biaya produksi. Namun, pelaku industri masih optimis akan pemulihan produksi dalam jangka pendek, terutama jika tekanan harga bahan baku bisa teratasi.

Tantangan di Depan

Kenaikan harga bahan baku tidak hanya memengaruhi biaya operasional, tetapi juga mengurangi daya beli konsumen. Banyak perusahaan terpaksa menggunakan stok bahan baku lama karena kesulitan mendapatkan pasokan baru. Waktu pengiriman dari pemasok melambat selama delapan bulan berturut-turut, menciptakan ketegangan dalam rantai pasok. Situasi ini berdampak pada peningkatan biaya produksi, yang tercatat sebagai tingkat tertinggi kedua sejak survei S&P Global dimulai, setelah kenaikan signifikan pada September 2013.

“Manufaktur Indonesia masih menghadapi tekanan pada Mei karena kenaikan harga bahan baku dan persediaan input yang terbatas,” kata Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, seperti dikutip dari laman resmi S&P. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun PMI manufaktur RI membaik, kenaikan biaya produksi dan perubahan permintaan pasar masih menjadi faktor yang memengaruhi kinerja sektor industri.

Selain itu, kenaikan penjualan yang tercatat sebagian besar berasal dari upaya pelanggan menambah persediaan, sebagai respons terhadap ketidakpastian harga dan pasokan. Ini menunjukkan keinginan untuk mengantisipasi fluktuasi pasar, meski kenaikan tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan sektor manufaktur dari tekanan. Dalam konteks ini, kenaikan harga jual produk juga tercatat sebagai yang paling signifikan sejak Oktober 2013, yang menunjukkan perusahaan berusaha mengimbangi kenaikan biaya input dengan penyesuaian harga.

Peningkatan PMI manufaktur RI pada Mei 2026 menimbulkan harapan baru bagi sektor industri, tetapi dampak dari kenaikan harga bahan baku masih menggerogoti pertumbuhan. Beberapa perusahaan, terutama yang tergantung pada bahan baku impor, mulai mengalihkan sumber daya ke pasar lokal untuk mengurangi biaya. Namun, harga bahan baku lokal juga cenderung naik karena permintaan yang meningkat. Kesulitan ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah kenaikan PMI manufaktur RI akan bertahan dalam jangka panjang atau hanya bersifat sementara.

MORE FROM THIS CATEGORY