Revitalisasi Sungai: Eropa Mulai Bongkar Bendungan Lama
Dailynesia.com – Dengan langkah tak terduga, Eropa mulai fokus pada revitalisasi aliran sungai. Sejumlah negara di benua tersebut kini mengambil keputusan untuk merobohkan bendungan-bendungan tua yang sudah tidak lagi bermanfaat. Inisiatif ini menjadi bagian dari gerakan yang semakin kuat, bertujuan memulihkan ekosistem alami dan meningkatkan kualitas lingkungan.
Mengutip National Geographic, regulasi baru dari Uni Eropa, Nature Restoration Regulation, mendorong tindakan ini. Regulasi tersebut menargetkan 25.000 kilometer sungai di Eropa bisa kembali mengalir bebas hingga 2030. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk memperbaiki habitat ikan, menjaga kebersihan air, serta memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim.
Catatan Awal Pembongkaran Bendungan
Kebijakan ini mulai menunjukkan hasil nyata. Menurut laporan Dam Removal Europe, sebanyak 603 bendungan dan penghalang sungai dihapus di 21 negara Eropa pada 2025. Angka ini meningkat 11% dibandingkan tahun sebelumnya, saat terdapat 542 struktur yang diterobos. Proses penghapusan tersebut mengembalikan koneksi alami untuk sekitar 3.740 kilometer sungai.
Bukan hanya menghilangkan bangunan lama, tindakan ini juga membuka kembali jalur kehidupan bagi ikan, hewan air, serta ekosistem yang terganggu. Sebagai contoh, di Sungai Vinstra, Norwegia, sebuah bendungan setinggi sekitar lima meter dihancurkan bulan Desember tahun lalu. Struktur itu dibangun sejak awal abad ke-20, awalnya berfungsi untuk mengangkut kayu dan menghasilkan energi hidro. Namun, setelah puluhan tahun, bangunan tersebut tidak lagi digunakan dan bahkan dianggap sebagai air terjun alami oleh otoritas setempat.
Mengapa Bendungan Jadi Ancaman?
Bendungan memiliki peran penting, seperti pembangkit listrik, irigasi, dan pengendalian banjir. Namun, di Eropa, banyak bendungan kini tak relevan lagi. National Geographic mencatat, ada setidaknya 1,2 juta bendungan dan penghalang sungai di benua ini. Dari jumlah tersebut, diperkirakan 150.000 struktur sudah usang atau tidak memiliki fungsi utama.
Kebiasaan ini menyebabkan gangguan terhadap aliran air. Genangan yang terbentuk bisa mengurangi kualitas air dan menghambat pergerakan ikan dari hulu ke hilir. Selain itu, sungai yang terpotong oleh bendungan kehilangan kehidupan alaminya, termasuk habitat bagi serangga air, burung, dan ekosistem lainnya.
Gerakan Ini Bukan Baru
Perlawanan terhadap bendungan sebenarnya sudah dimulai sejak 1980-an. Gerakan ini terinspirasi dari upaya lingkungan di Amerika Serikat pada 1970-an. Kini, Eropa semakin aktif dalam mengevaluasi keberadaan bendungan lama, mengingat dampak negatifnya terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Pembongkaran bendungan bukan sekadar merobohkan bangunan tua, tetapi juga memulihkan fungsi alami sungai,” tulis laporan Dam Removal Europe.
Dengan jumlah penghalang sungai yang terus bertambah, kebijakan ini diharapkan bisa mengurangi risiko bencana, meningkatkan keberlanjutan air, dan mengembalikan kehidupan ekosistem yang rusak. Langkah-langkah kecil ini dianggap sebagai simbol perubahan besar dalam pandangan Eropa terhadap sungai, dari simbol kemajuan ke alat bantu lingkungan yang lebih berkelanjutan.

