Dolar AS-Singapura & Ringgit Makin Mahal, Segini di Money Changer
Dailynesia.com – Nilai tukar Dolar AS, Dolar Singapura, dan Ringgit Malaysia terus mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan observasi CNBC Indonesia di berbagai lokasi money changer di Jakarta, kenaikan kurs ini telah menarik perhatian masyarakat yang ingin melakukan transaksi valuta asing. Pelemahan Rupiah yang terus berlanjut telah memengaruhi kemampuan mata uang asing seperti Dolar AS, Dolar Singapura, dan Ringgit Malaysia dalam menguat. Di sejumlah tempat, harga jual Dolar AS mencapai hampir Rp18.000 per unit, sementara Dolar Singapura harganya sedekat Rp14.000, dan Ringgit Malaysia kini berada di kisaran Rp4.500.
Analisis Penyebab Kenaikan Kurs
Kenaikan nilai Dolar AS, Dolar Singapura, dan Ringgit Malaysia terutama dipengaruhi oleh stagnasi nilai Rupiah di pasar internasional. Seorang pekerja di money changer Jatinegara, Alex, menjelaskan bahwa harga beli dan harga jual Dolar AS terus naik. “Harga beli dolar AS saat ini sudah mencapai Rp17.930 per unit, sedangkan harga jualnya sekitar Rp18.000 per unit. Namun, ini bisa berubah-ubah tergantung kondisi pasokan dolar di tempat tersebut,” kata Alex saat diwawancara CNBC Indonesia pada Jumat (29/5/2026).
“Harga beli dolar AS saat ini sudah mencapai Rp17.930 per unit, sedangkan harga jualnya sekitar Rp18.000 per unit. Namun, ini bisa berubah-ubah tergantung kondisi pasokan dolar di tempat tersebut.”
Sementara itu, di money changer Ayu Masagung di Kwitang, Dolar AS dijual dengan harga sekitar Rp17.825-17.930, dan harga jualnya mencapai Rp18.000. Dolar Singapura pun mengalami peningkatan, dengan harga beli di sekitar Rp13.950 dan harga jual hingga Rp14.025. “Harga beli dan jual Dolar Singapura tetap berfluktuasi, tapi kenaikan ini terus terjadi,” tambah seorang pekerja di tempat tersebut.
Pengaruh Fluktuasi Kurs pada Transaksi
Peningkatan kurs Dolar AS dan Dolar Singapura menciptakan ketidaknyamanan bagi para penjaga money changer dalam menetapkan acuan harga. “Dolar AS dan Dolar Singapura memang sedang menguat, dan fluktuasinya cukup tinggi, jadi kami kesulitan menetapkan harga yang stabil,” ujar Sarni, penjaga money changer Valutama di Kwitang. Menurutnya, acuan harga di tempatnya didasarkan pada nilai tukar di internet, terutama melalui platform seperti Google.
“Dolar AS dan Dolar Singapura memang sedang menguat, dan fluktuasinya cukup tinggi, jadi kami kesulitan menetapkan harga yang stabil.”
Kenaikan kurs ini juga memengaruhi permintaan masyarakat untuk menukar uang. Meski nilai Dolar Singapura tetap menjadi pilihan utama untuk keperluan liburan, jumlah transaksi untuk liburan ke Singapura belum menunjukkan penurunan signifikan. “Sektor pariwisata dan liburan masih tetap aktif, meskipun masyarakat terkadang lebih memilih kurs yang lebih stabil,” tambah Alex.
Sejatinya, CNBC Indonesia telah mengunjungi sejumlah money changer di Jakarta Pusat, termasuk Ayu Masagung dan Valutama, untuk memantau perubahan kurs. Namun, pihak-pihak tersebut enggan memberikan penjelasan lebih detail tentang tren peningkatan kurs tersebut.
Strategi Penyesuaian dan Dampak Ekonomi
Peningkatan nilai Dolar AS, Dolar Singapura, dan Ringgit Malaysia tidak hanya mengubah kebiasaan transaksi masyarakat, tetapi juga memengaruhi pergerakan pasar keuangan nasional. Menurut para penjaga money changer, fluktuasi kurs ini mengharuskan mereka lebih fleksibel dalam menetapkan harga. “Kami harus mengikuti perubahan pasar secara real-time agar bisa menawarkan kurs yang kompetitif,” kata Sarni.
“Kami harus mengikuti perubahan pasar secara real-time agar bisa menawarkan kurs yang kompetitif.”
Bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan uang asing untuk berbagai keperluan, kenaikan kurs ini bisa berdampak pada biaya transaksi. Misalnya, peningkatan kurs Dolar AS menciptakan peluang bagi pengusaha yang membutuhkan uang asing, tetapi juga menambah beban biaya bagi pelaku usaha lokal yang mengimpor barang. Selain itu, kenaikan kurs Dolar Singapura memperkuat posisi mata uang tersebut sebagai alternatif yang lebih diminati dibandingkan Rupiah.
Secara keseluruhan, perubahan ini mencerminkan ketidakstabilan Rupiah yang kian terasa dalam dinamika pasar keuangan. Meski peningkatan kurs tidak mengurangi minat transaksi ke luar negeri, kenaikan ini tetap menjadi perhatian utama bagi pihak yang terlibat dalam perdagangan mata uang. Hasil riset ini disampaikan oleh CNBC Indonesia Research. [email protected]

