Marak PHK, Pakar Sebut Sering Lembur Tak Jaminan Pekerjaan Aman
Dailynesia.com – Di tengah semakin meluasnya praktik pemutusan hubungan kerja (PHK), para ahli menyatakan bahwa bekerja lembur secara rutin tidak lagi menjadi jaminan untuk mempertahankan posisi di tempat kerja. Selama ini, menghabiskan waktu berlebihan di luar jam kerja dianggap sebagai cara menunjukkan komitmen dan loyalitas, namun di era kecerdasan buatan (AI), pendekatan ini dianggap kurang efektif. Fenomena yang dikenal sebagai infinite workday atau hari kerja tanpa batas kini semakin mendesak. Karyawan terus dibanjiri email, pesan, dan notifikasi pekerjaan bahkan di luar jam kerja normal. Ironisnya, perkembangan teknologi AI justru memperparah situasi ini, membuat sebagian pekerja menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja dibanding sebelumnya.
Kebiasaan Lembur Tidak lagi Menjamin Keamanan
Survei yang dilakukan platform Monster pada Oktober 2025 menunjukkan 76% responden mengakui bahwa diri mereka termasuk kategori “gila kerja” atau workaholic. Meski demikian, para pakar karier menegaskan bahwa kebiasaan tersebut tidak lagi menjadi strategi terbaik untuk menghindari PHK. Penulis dan ahli pengalaman karyawan, Kalifa Oliver, menyoroti bahwa di era AI, keamanan kerja bukan lagi sesuatu yang pasti. “Di era kecerdasan buatan, keamanan karier bergantung pada kecepatan adaptasi, bukan hanya jam kerja,” kata Oliver, dikutip dari CNBC Make It, Jumat (29/5/2026).
Di era AI, keamanan kerja bukan lagi sesuatu yang pasti.
Pernyataan ini muncul di tengah gelombang reorganisasi yang dilakukan sejumlah perusahaan teknologi besar. Contohnya, Meta baru-baru ini memangkas sekitar 8.000 karyawan. Dalam memo internal kepada karyawan, CEO Meta Mark Zuckerberg menyebut kesuksesan dalam persaingan AI tidak bisa dianggap pasti. Tren serupa juga terlihat dalam laporan Global Talent Trends 2026 yang dirilis perusahaan konsultan Mercer. Survei terhadap 825 eksekutif tingkat atas dan 1.650 pemimpin SDM menunjukkan 99% eksekutif memperkirakan jumlah tenaga kerja akan berkurang hingga 20% dalam dua tahun ke depan akibat perubahan cara kerja yang dipicu AI.
Dari sisi kesehatan mental, perusahaan layanan kesehatan Spring Health mengungkapkan 46% pekerja yang mengalami burnout mengaku lebih sulit menjaga fokus dan produktivitas saat bekerja. Chelsea Jay, konsultan kepemimpinan dan pengembangan organisasi asal Meksiko, menyoroti bahwa bekerja berlebihan karena takut kehilangan pekerjaan justru bisa memicu masalah baru. “Menghabiskan waktu terlalu lama di tempat kerja tidak hanya mengurangi kreativitas, tetapi juga menyebabkan burnout, frustrasi, dan penurunan kualitas hidup,” ujarnya.
Kebutuhan Mengevaluasi Beban Kerja
Jay menyarankan pekerja mengevaluasi penyebab utama beban kerja mereka. Beberapa pertanyaan yang perlu diajukan meliputi: Apakah beban kerja masih masuk akal? Apakah ada kekurangan keterampilan yang membuat tugas lebih lama? Apakah dukungan dari tim sudah cukup? Apakah sebagian tugas bisa didelegasikan? Dan aktivitas apa yang paling banyak menghabiskan waktu selama jam kerja. Menurutnya, mencatat penggunaan waktu selama satu minggu bisa membantu mengidentifikasi kegiatan yang bisa dihemat. “Dengan memahami pola kerja, pekerja dapat menyesuaikan prioritas dan menghindari kelelahan berlebihan,” tambahnya.
Kelompok pekerja yang harus bekerja di luar jam kantor juga disarankan menetapkan batas waktu yang realistis agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga. Oliver menegaskan bahwa hubungan antara pekerja dan perusahaan pada dasarnya adalah transaksi profesional. “Pekerjaan adalah sebuah transaksi, tidak peduli seberapa besar Anda mencintai pekerjaan itu,” katanya.
Pekerjaan adalah sebuah transaksi, tidak peduli seberapa besar Anda mencintai pekerjaan itu.
Meski bekerja keras tetap penting, Oliver menekankan bahwa menjadikan lembur dan kelelahan sebagai syarat sukses bisa menjadi bumerang bagi pekerja maupun perusahaan. Karyawan yang terlalu lelah justru lebih rentan membuat kesalahan, kehilangan kemampuan berinovasi, dan tidak mampu memberikan kontribusi optimal. “Keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi adalah kunci untuk menjaga produktivitas jangka panjang,” ujarnya.
Perubahan Budaya Kerja dalam Era AI
Perkembangan AI memaksa ulang pola kerja yang selama ini dianggap standar. Alat-alat otomatisasi dan algoritma yang semakin canggih mengurangi kebutuhan akan tenaga manusia, tetapi sebaliknya meningkatkan tekanan pada pekerja untuk selalu “siap pakai.” Hal ini membuat banyak karyawan menghabiskan waktu di luar jam kerja untuk menyelesaikan tugas yang seharusnya bisa dikerjakan oleh mesin. “Teknologi ini mengubah paradigma, tapi kita harus mengubah cara berpikir kita terhadap pekerjaan,” tambah Oliver.
Menurut data dari Monster,

