Special Plan: Rupiah Depresiasi, SGD dan MYR Melemah
Dailynesia.com – Dalam rangka Special Plan, kurs rupiah mengalami penurunan signifikan hingga mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Menurut data Refinitiv, rupiah melemah 0,52% terhadap dolar Singapura (SGD), mencapai level Rp14.000 per SGD. Ini menjadi pertama kalinya mata uang Garuda menyentuh angka tersebut sejak awal tahun 2026. Sebelumnya, pada akhir 2025, kurs SGD/IDR stabil di Rp12.957,64 per SGD, sehingga selama tahun ini, rupiah telah melemah hampir 8% terhadap dolar Singapura.
Dalam Special Plan ini, rupiah juga mengalami tekanan besar terhadap ringgit Malaysia (MYR). Pada pukul 09.47 WIB, kurs rupiah mencapai Rp4.502,95 per MYR, dengan penurunan 1,01% dibandingkan level sebelumnya. Ini merupakan titik terendah sepanjang masa bagi ringgit terhadap rupiah. Dalam 30 hari terakhir, rupiah depresiasi 3,68% terhadap ringgit, sementara sepanjang tahun 2026, rupiah melemah hampir 9,91%.
Analisis Kekuatan Ringgit Malaysia
Penguatan ringgit Malaysia dalam Special Plan didukung oleh kinerja neraca perdagangan yang relatif stabil. Menurut data Departemen Statistik Malaysia (DOSM), total perdagangan negara tersebut naik 9,3% secara tahunan menjadi MYR273,0 miliar atau setara Rp1.188 triliun pada Maret 2026. Angka ini meningkat dari MYR249,8 miliar di Maret 2025, dengan ekspor tumbuh 8,3% dan impor naik 10,4%.
Dalam Special Plan, Malaysia mencatat surplus perdagangan sebesar MYR24,6 miliar pada Maret 2026. Meski surplus ini sedikit menyempit 0,9% dibandingkan tahun sebelumnya, tetap menjadi faktor utama yang mendukung stabilitas ringgit. Mohd Afzanizam Abdul Rashid, Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, menyoroti bahwa pertumbuhan PDB Malaysia di atas 5% pada kuartal I-2026 membantu menjaga daya tahan ekonomi dari tekanan global.
Karena pertumbuhan ekonomi Malaysia yang kuat, surplus perdagangan memberikan kepercayaan investor terhadap mata uang lokal, sehingga ringgit tetap tampil solid dalam Special Plan ini.
Kondisi Ekonomi Indonesia dalam Special Plan
Sementara itu, dalam Special Plan, rupiah terus menghadapi tekanan akibat dinamika pasar yang tidak stabil. Kebutuhan akan kepercayaan investor asing menjadi kunci dalam menjaga kurs rupiah. Defisit APBN Indonesia pada 2025 mencapai 2,92% dari PDB, yang sangat dekat dengan batas maksimal 3% yang diatur dalam undang-undang.
Kekhawatiran atas arah kebijakan fiskal memperkuat perasaan pasar terhadap risiko terkait inflasi dan tekanan eksternal. Dalam Special Plan, stabilitas rupiah bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga disiplin anggaran dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Penurunan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak global akibat perang di Iran, yang membuat perekonomian Indonesia lebih rentan terhadap fluktuasi.
Dalam Special Plan, dinamika pasar keuangan dunia juga memengaruhi kondisi rupiah. Perubahan kebijakan moneter di AS dan negara-negara lain membuat investor lebih memilih aset berisiko tinggi, sehingga menekan permintaan terhadap mata uang rupiah. Dengan posisi ekonomi yang terus menurun, Indonesia perlu merumuskan strategi yang lebih kuat untuk mengembalikan kepercayaan pasar dalam Special Plan.
Kurs rupiah yang terus melemah dalam Special Plan memperlihatkan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Kinerja ekspor Indonesia yang tidak optimal dan kenaikan biaya produksi turut memperparah situasi. Dengan kondisi tersebut, perlu adanya intervensi dari Bank Indonesia dan pemerintah untuk memperkuat stabilitas kurs dalam Special Plan.

