Bukan Cuma Dolar AS, Rupiah Juga Kalah dari 10 Mata Uang Asia

2 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
infografis-ri-resesi-ini-mata-uang-yang-bisa-jadi-investasi_169

Special Plan: Bukan Cuma Dolar AS, Rupiah Juga Kalah dari 10 Mata Uang Asia

Dailynesia.com – Dalam rangka memperkuat kinerja ekonomi, pemerintah Indonesia meluncurkan Special Plan sebagai upaya menangani ketidakstabilan nilai tukar rupiah. Selama tahun 2026, rupiah terus mengalami tekanan dari berbagai sumber, tidak hanya karena dominasi dolar AS yang tetap menguntungkan, tetapi juga karena pelemahan signifikan terhadap mata uang lain di kawasan Asia. Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa sejak awal tahun hingga perdagangan Selasa (26 Mei 2026), rupiah melemah terhadap setidaknya sepuluh mata uang Asia, menciptakan rekor baru dalam pergerakan kurs.

Pelemahan terbesar terjadi terhadap ringgit Malaysia, dengan rupiah mengalami penurunan 9,02% dalam kurs. Kini, ringgit Malaysia berada di level Rp4.466/MYR, naik dari Rp4.097/MYR di awal tahun. Special Plan yang diterapkan oleh pemerintah dinilai masih belum cukup mampu menstabilkan kondisi ekonomi, terutama mengingat kekuatan ringgit sebagai salah satu mata uang kawasan yang relatif kuat. Meski tidak mengejutkan, rupiah tetap terlihat lebih rentan dibandingkan mata uang regional lainnya.

Kondisi Ekonomi dalam Negeri Menjadi Pendorong Utama

Kurs rupiah bukan hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh dinamika internal yang kompleks. Selain ringgit, rupiah juga melemah terhadap dolar Singapura sebesar 7,38%, dengan kurs saat ini mencapai Rp13.912,81/SGD. Pada awal tahun, kurs dolar Singapura masih berada di Rp12.957,64/SGD, sehingga dalam lima bulan terakhir rupiah kehilangan hampir Rp1.000 per dolar. Special Plan yang diharapkan mampu memperbaiki fondasi ekonomi ternyata belum memberikan respons yang memadai.

Rupiah juga terus mengalami tekanan terhadap riel Kamboja, dong Vietnam, dan dolar Taiwan, masing-masing turun 6,52%, 6,39%, dan 6,34%. Bahkan, terhadap kip Laos, rupiah mengalami pelemahan 5,24%. Meski ekonomi Laos lebih kecil dibanding Indonesia, kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah terus mengalami tekanan dari berbagai arah. Special Plan perlu memperkuat kebijakan moneter dan fiskal untuk mengurangi risiko inflasi serta defisit neraca perdagangan.

Analisis Pasar dan Faktor Eksternal

Pelemahan rupiah terhadap mata uang Asia juga dipengaruhi oleh dinamika global. Pertumbuhan ekonomi yang melambat di berbagai negara, kenaikan suku bunga di AS, dan ketidakpastian geopolitik memberi dampak signifikan. Special Plan berusaha mengimbangi efek negatif ini dengan strategi stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang. Namun, rupiah tetap mengalami tekanan terhadap yen Jepang sebesar 4,9% dan baht Thailand 3,13%, dengan kurs masing-masing mencapai Rp111,87/JPY dan Rp545,71/THB.

Kurangnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi Indonesia menjadi faktor kritis. Special Plan diharapkan bisa memperkuat kebijakan stimulus dan pengelolaan dana asing, tetapi pergerakan kurs rupiah tetap menunjukkan bahwa kepercayaan pasar belum sepenuhnya terpenuhi. Tekanan terhadap won Korea Selatan dan peso Filipina juga terlihat, dengan rupiah melemah 2,21% dan 2,03% masing-masing. Kondisi ini menegaskan bahwa Special Plan masih dalam proses penyesuaian untuk mencapai efektivitas maksimal.

Dalam Special Plan, pemerintah fokus pada pengendalian inflasi, peningkatan daya beli masyarakat, dan peningkatan daya saing ekspor. Namun, keberhasilan Special Plan masih ditentukan oleh kemampuan bank sentral dan pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan antara kebijakan moneter dan fiskal. Pergerakan kurs yang terus melemah menunjukkan bahwa Special Plan perlu diperkuat dengan langkah-langkah lebih spesifik dan koordinasi yang lebih baik antarinstansi.

“Kondisi rupiah saat ini menggambarkan tantangan yang dihadapi Special Plan dalam mengatasi tekanan eksternal dan internal secara bersamaan. Pasar menilai bahwa kebijakan yang diterapkan masih kurang efektif dalam menjaga stabilitas nilai tukar,” kata ekonom dari Institut Ekonomi Indonesia.

Untuk mencapai target Special Plan pada akhir tahun 2026, pemerintah harus mempercepat reformasi struktural, seperti pengurangan birokrasi dan penguatan sektor manufaktur. Selain itu, peningkatan transparansi dalam pengelolaan keuangan negara juga diperlukan agar investor dan pasar dapat lebih percaya pada proyeksi ekonomi Indonesia. Dengan demikian, Special Plan menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang untuk mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah di tengah persaingan global yang ketat.

MORE FROM THIS CATEGORY