Sering Lupa! Ini Kesalahan Saat Bagikan Daging Kurban

2 months ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
suasana-lapak-penjualan-hewan-kurban-di-kawasan-jalan-gatot-subroto-jakarta-jumat-852026-1778236362944_169

Sering Lupa! Ini Kesalahan Saat Bagikan Daging Kurban

Dailynesia.com – Dalam perayaan Hari Raya Iduladha, distribusi daging qurban sering kali mengandung kesalahan yang bisa berdampak pada kualitas dan keamanan makanan. Kesalahan dalam proses pemotongan, penyimpanan, atau pemberian daging kepada masyarakat bisa memicu penyebaran bakteri serta risiko kerusakan daging yang lebih cepat. Meski ibadah qurban menjadi bagian dari tradisi keagamaan, kehati-hatian dalam penanganan daging tetap diperlukan agar hasilnya tetap baik dan layak dikonsumsi.

Kesalahan Umum dalam Penyembelihan

Menurut Dr. Muhamad Baihaqi, dosen Fakultas Peternakan IPB University, kebersihan dan keamanan pangan selama penyembelihan sering terabaikan. Proses ini biasanya dilakukan di ruang terbuka tanpa standar sanitasi yang memadai, sehingga meningkatkan risiko kontaminasi mikroba. “Sering kali penyembelihan dilakukan tanpa memperhatikan lingkungan, sehingga bakteri bisa menyebar ke daging lebih cepat,” jelas Baihaqi dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (27/5/2026).

Kesalahan dalam Pengemasan dan Pemisahan

Kebiasaan mengemas daging dan jeroan dalam satu kantong juga menjadi salah satu kesalahan yang sering terlewat. Baihaqi menyarankan agar daging dan jeroan dipisahkan selama proses pengemasan. “Daging sering kali dicampur dengan jeroan saat dikemas. Ini berisiko tinggi karena jeroan dapat mempercepat kontaminasi,” katanya. Pengemasan yang tidak terpisah bisa menyebarkan bakteri dari bagian dalam tubuh hewan ke daging, terutama jika kantong tidak dirawat dengan baik.

Dalam praktiknya, panitia qurban perlu memastikan daging dan jeroan dikelola secara terpisah. Hal ini tidak hanya mencegah penyebaran bakteri, tetapi juga memudahkan proses pembersihan sebelum daging disimpan di freezer. Kesalahan saat memisahkan daging dari jeroan bisa membuat masyarakat menghirup risiko mengonsumsi daging yang tidak steril, terutama bagi yang memiliki sistem imun lemah.

Langkah-Langkah untuk Meminimalkan Risiko Kontaminasi

Menurut Baihaqi, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk meminimalkan risiko kontaminasi saat membagikan daging kurban. Pertama, panitia perlu memisahkan area penyembelihan dan pemotongan dari area pengemasan. Kedua, pengemasan daging harus dilakukan dengan alat yang bersih dan terpisah dari jeroan. Ketiga, proses distribusi daging harus cepat agar daging tidak terlalu lama terpapar udara terbuka.

Proses distribusi yang tidak teratur bisa menyebabkan penurunan kualitas daging. Misalnya, jika daging tidak segera dikemas setelah dipotong, suhu ruangan yang tinggi dapat mempercepat pertumbuhan bakteri. Baihaqi menekankan bahwa kecepatan dalam proses distribusi sangat penting untuk menjaga daya tahan daging. “Kesalahan saat bagikan daging kurban bisa berdampak besar pada kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Dalam beberapa kasus, distribusi daging qurban juga tidak dilengkapi dengan sistem pendinginan. Ini berarti daging tetap rentan terhadap bakteri selama transportasi, terutama di cuaca panas. Baihaqi menyarankan agar daging segera dibersihkan dari jeroan dan tulang sebelum disimpan dalam lingkungan dingin. “Kesalahan saat bagikan daging kurban sering kali diabaikan, tetapi bisa menjadi masalah besar jika tidak diperbaiki,” katanya.

Di samping itu, Baihaqi juga menyoroti kesalahan saat memilih ternak yang akan disembelih. Kondisi hewan yang stres sebelum proses penyembelihan bisa memengaruhi kualitas daging. “Sering kali ternak tidak diberi waktu istirahat yang cukup sebelum disembelih, sehingga mengurangi kualitas daging yang dihasilkan,” tambah Baihaqi. Faktor ini memperkuat pentingnya kesehatan hewan sejak awal.

Kesalahan dalam Pengolahan Produk Siap Konsumsi

Sementara itu, pengolahan daging menjadi produk siap saji seperti rendang atau dendeng kaleng juga memerlukan perhatian ekstra. Meski inovasi ini membuat daging lebih praktis untuk dikonsumsi, Baihaqi menegaskan bahwa kebersihan dan proses sterilisasi tetap harus terjaga. “Kesalahan saat bagikan daging kurban tidak hanya terjadi saat distribusi, tetapi juga saat proses pengolahan produk,” katanya.

Produk siap konsumsi yang tidak dirawat dengan baik bisa mengandung bakteri yang tidak terlihat, terutama jika bahan-bahannya tidak dibersihkan secara menyeluruh. Baihaqi menyarankan agar panitia qurban menggunakan alat pemrosesan yang memadai dan memastikan suhu rendah selama penyimpanan. Dengan demikian, kesalahan saat bagikan daging kurban bisa diminimalkan, baik dalam bentuk mentah maupun siap masak.

Pentingnya Kebersihan dalam Setiap Tahap

Sebagai penutup, Baihaqi menekankan bahwa kebersihan dalam setiap tahap penyembelihan hingga distribusi sangat penting. Kesalahan saat bagikan daging kurban sering kali dianggap sepele, tetapi dapat berdampak signifikan pada kualitas dan keamanan pangan. “Kesalahan yang sering terlewat saat proses pemotongan atau pengemasan bisa menyebabkan kematian mikroba yang tidak terdeteksi oleh mata,” jelas Baihaqi.

Dengan menerapkan kebersihan dan kehati-hatian, proses bagikan daging kurban dapat menjadi lebih efektif dan aman. Hal ini bukan hanya tanggung jawab panitia, tetapi juga bagian dari perayaan yang dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab. Kesalahan saat bagikan daging kurban yang dihindari dapat memastikan kepuasan masyarakat dan menjaga citra ibadah qurban sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan dan kebersihan.

MORE FROM THIS CATEGORY