Kecelakaan Maut di China Buat Dunia Panik – Harga Batu Bara Bisa Naik

2 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
bongkar-muat-batu-bara-di-china-reutersaly-song-3_169

Kecelakaan Maut di China Buat Dunia Panik – Harga Batu Bara Bisa Naik

Dailynesia.com – Jakarta, pada perdagangan awal pekan ini, harga batu bara belum menunjukkan perubahan signifikan. Namun, pasar keuangan mulai terguncang akibat insiden tragis yang terjadi di salah satu tambang utama Tiongkok. Kecelakaan besar di tambang Liushenyu, Provinsi Shanxi, pada Jumat (25/5/2026) telah memicu kekhawatiran global mengenai kestabilan pasokan batu bara. Dalam konferensi pers Minggu (26/5/2026), harga batu bara ditutup di US$ 136,45 per ons Troy, tetap stabil meski terjadi lonjakan harga batu bara kokas di dalam negeri.

Pelaksanaan Tiongkok dan Langkah Pemerintah

Kecelakaan di tambang Liushenyu, yang terjadi pada Jumat malam, mengakibatkan 82 korban jiwa. Insiden ini disebut sebagai kecelakaan terburuk sejak 2009, menurut laporan resmi. Tambang tersebut dimiliki oleh Shanxi Tongzhou Coal Coking Group, dan keempat lokasi operasionalnya ditutup sementara sebagai bagian dari investigasi. Otoritas pemerintah mengungkapkan bahwa empat eksekutif perusahaan telah ditahan, sebagai tindak lanjut dari penyelidikan menyeluruh yang dilakukan.

Media pemerintah People’s Daily menerbitkan editorial utama yang menyerukan peningkatan perhatian terhadap keselamatan produksi. Editorial tersebut menekankan bahwa “kecenderungan mengutamakan pembangunan dibanding keselamatan” harus diubah, menurut laporan terkini.

Setelah kecelakaan tersebut, pemerintah Tiongkok memperketat langkah-langkah pemeriksaan keselamatan tambang secara besar-besaran. Sejumlah tambang utama di wilayah produksi terbesar menghentikan operasi sementara guna menjalani inspeksi intensif. Tindakan ini memicu ketakutan pelaku pasar akan gangguan pasokan, terutama karena industri baja membutuhkan bahan bakar batu bara kokas yang tinggi. Faktor-faktor seperti permintaan domestik dan ekspor menjadi penentu utama dalam fluktuasi harga.

Kebutuhan Industri Baja dan Dampak Pasokan

Analisis dari Mysteel menunjukkan bahwa tambang lain di Shanxi berhenti produksi hingga tiga hingga lima hari. Hal ini diperkirakan mengurangi pasokan batu bara kokas hingga 288.000 ton per hari. Analis dari Wuchan Zhongda Futures menegaskan bahwa pasokan yang menyusut di tengah permintaan yang tetap kuat akan mendukung kenaikan harga batu bara dalam jangka pendek. Kecelakaan maut di China Buat menjadi peringatan bagi industri yang bergantung pada bahan baku ini.

Di Dalian Commodity Exchange (DCE), kontrak batu bara kokas paling aktif naik 7,97% ke CNY 1.266,5 per ton metrik, mencapai level tertinggi sejak 12 Mei. Sementara kontrak coke aktif juga melonjak 7,99% menjadi CNY 1.879 per ton. Lonjakan ini memperkuat sentimen pasar yang khawatir tentang keterbatasan pasokan. Sebaliknya, harga bijih besi sedikit menurun setelah pasokan dari Australia dan Brasil meningkat 22% dibandingkan minggu sebelumnya. Kontrak bijih besi paling aktif di DCE ditutup naik 0,06% ke CNY793 per ton, sementara kontrak acuan di Singapore Exchange naik 0,49% ke US$106,7 per ton pada 08.09 GMT.

Produk-produk baja acuan di Shanghai Futures Exchange juga menguat seiring kenaikan biaya bahan baku. Harga rebar naik 1,48%, hot-rolled coil meningkat 1,39%, dan wire rod melonjak 2,36%. Stainless steel tetap stabil, menunjukkan bahwa pasar tidak sepenuhnya terpengaruh oleh fluktuasi harga batu bara. Namun, kecemasan atas kecelakaan maut di China Buat menyebabkan perusahaan-perusahaan penghasil baja memperkirakan kenaikan biaya produksi yang berkelanjutan.

Analisis dari para ahli menunjukkan bahwa kecelakaan di tambang Liushenyu menjadi trigger utama dalam menggerakkan perubahan harga batu bara. Dengan tingginya kebutuhan energi untuk produksi industri, penurunan pasokan bisa berdampak signifikan terhadap harga global. Selain itu, kecelakaan maut di China Buat memperkuat kebijakan pemerintah untuk memastikan keamanan di sektor tambang. Langkah-langkah ini diharapkan mengurangi risiko kecelakaan serupa di masa depan, tetapi jangka pendeknya memicu ketidakpastian di pasar.

MORE FROM THIS CATEGORY