AAJI: Banyak Orang Paham Asuransi, tapi Belum Mau Beli

2 months ago  ·  4 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
c401b3a4-5f56-4642-862b-e9e8ca95cdc9-0

AAJI: Pemahaman Masyarakat Terhadap Asuransi Meningkat, Namun Minat Membeli Masih Rendah

Dailynesia.com – Dalam beberapa tahun terakhir, industri asuransi di Indonesia melihat adanya peningkatan kesadaran masyarakat tentang manfaat dan konsep asuransi. Namun, meski tingkat pemahaman sudah membaik, tingkat keinginan untuk membeli produk asuransi dianggap masih terbilang rendah. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga, Regulator, dan Stakeholder Dalam Negeri & Internasional Asosiasi Asuransi Jiwa dan Kesehatan Indonesia (AAJI), Handojo G Kusuma, saat menghadiri Educational Class Jogja Financial Festival 2026 dengan tema “Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera” di Jogja Expo Centre (JEC), Sabtu (23/5/2026).

Peningkatan Literasi Asuransi dalam Tahun Terakhir

Handajo menyatakan bahwa literasi asuransi saat ini telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. “Pada 2024, tingkat literasi sekitar 36%, sedangkan saat ini sudah mencapai 45%,” kata dia. Ia menambahkan bahwa naiknya persentase ini menunjukkan masyarakat mulai lebih paham tentang asuransi dan bagaimana produk ini bisa menjaga stabilitas finansial.

“Literasi asuransi pada 2024 itu ada di sekitar 36%, sekarang sudah naik di sekitar 45%,” ujar Handojo dalam Educational Class Jogja Financial Festival 2026 bertajuk “Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera” di Jogja Expo Centre (JEC), Sabtu (23/5/2026.

Meski ada kemajuan, Handojo menekankan bahwa tingkat inklusi asuransi belum sejalan dengan tingkat kesadaran. “Meski sudah naik dari 12% menjadi 28%, inklusivitasnya masih jauh di bawah 45% pemahaman masyarakat,” tambahnya. Ia mengungkapkan bahwa banyak orang mengenal asuransi, tetapi masih enggan membelinya karena merasa belum waktunya atau tidak yakin dengan manfaatnya.

Asuransi sebagai Bentuk Gotong Royong

Handajo menjelaskan bahwa asuransi memiliki konsep gotong royong, yakni masyarakat bersama-sama menyiapkan dana untuk membantu sesama ketika mengalami kejadian tak terduga. “Jadi kita membantu yang lain yang sedang tertimpa musibah dengan mengumpulkan uang secara bersama untuk menjaga kesejahteraan,” katanya. Ia menekankan bahwa sistem ini bisa menjadi pelindung finansial yang efektif, terutama bagi keluarga yang mengandalkan pendapatan dari satu orang.

“Jadi kita membantu yang lain yang sedang tertimpa musibah dengan kita mengumpulkan uang sama-sama untuk membantu orang,” katanya.

Dalam diskusi, Handojo juga mengungkapkan bahwa membeli asuransi sejak muda jauh lebih menguntungkan. “Premi yang dibayarkan saat usia muda cenderung lebih murah karena risiko lebih mudah diterima oleh perusahaan asuransi,” ujarnya. Ia menyebutkan bahwa keputusan untuk memiliki asuransi sejak dini bisa membantu meminimalkan beban ekonomi di masa depan.

Persentase Penetrasi Asuransi Indonesia Masih Terbilang Rendah

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. “Penetrasi asuransi Indonesia tercatat sebesar 2,7% pada 2025,” kata Handojo. Angka ini menunjukkan bahwa meski kesadaran masyarakat meningkat, penerapan asuransi dalam kehidupan sehari-hari belum optimal.

“Tapi kalau dibandingkan dengan 45% awareness itu inklusivitasnya masih rendah. Orang paham mengenai asuransi tapi orang mau beli asuransi, ah nanti dulu,” ujarnya.

Handajo mengatakan, salah satu hambatan utama adalah kesadaran masyarakat tentang manfaat jangka panjang asuransi. “Banyak orang menganggap asuransi hanya sebagai pengeluaran tambahan, padahal bisa menjadi perlindungan penting saat kejadian tak terduga terjadi,” jelasnya. Ia berharap peningkatan literasi ini bisa segera diikuti oleh tindakan nyata dalam pembelian produk asuransi.

Mengapa Generasi Muda Belum Aktif Membeli Asuransi?

Dalam sesi diskusi, para pelajar yang hadir juga mengungkapkan alasan mengapa mereka masih enggan memiliki asuransi meski memahami pentingnya perlindungan keuangan. Beberapa di antara mereka mengatakan istilah-istilah dalam asuransi terasa rumit dan sulit dipahami. “Saya kadang bingung membedakan antara asuransi kesehatan dan asuransi keuangan,” ujar salah satu peserta.

Ada juga yang merasa asuransi tidak memberikan hasil yang cukup menguntungkan dibandingkan instrumen investasi lain, seperti saham. “Kalau punya uang lebih, saya lebih suka membeli saham daripada asuransi,” kata seorang pelajar. Ia menilai asuransi terkesan lambat memberikan pengembalian, sementara investasi jangka pendek bisa memberikan keuntungan lebih cepat.

Peran Asuransi dalam Mempertahankan Kesejahteraan Keluarga

Handajo menjelaskan bahwa asuransi tidak hanya memberikan perlindungan, tetapi juga menjadi alat untuk menjaga kesejahteraan keluarga. “Jika pencari nafkah mengalami musibah, seluruh anggota keluarga bisa terkena dampak secara finansial. Untuk itulah asuransi menjadi penting,” ujarnya. Ia menekankan bahwa perlindungan ini bisa menjadi jaminan ketika kejadian tak terduga mengganggu penghasilan utama.

“Kalau pencari nafkah sakit atau tidak bisa bekerja, maka satu keluarga akan terpengaruh secara finansial. Untuk itulah asuransi menjadi penting,” ujarnya.

Handajo juga menyebutkan bahwa banyak masyarakat lebih memilih menabung atau menginvestasikan dana ke produk lain karena kurangnya informasi mengenai risiko yang bisa dihindari melalui asuransi. “Ada kesan bahwa asuransi hanyalah kebutuhan untuk orang tua atau yang sudah berusia, bukan untuk generasi muda,” katanya. Ia berharap sosialisasi yang lebih baik bisa mengubah persepsi ini.

Perspektif OJK dan IFG dalam Meningkatkan Inklusi Asuransi

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK, Sumarjono, serta Direktur Keuangan Indonesia Financial Group (IFG), Heru Handayanto. Sumarjono menyoroti bahwa OJK terus berupaya meningkatkan inklusi asuransi melalui berbagai kebijakan dan program edukasi. “Kami percaya bahwa kesadaran akan manfaat asuransi bisa meningkatkan partisipasi masyarakat,” ujarnya.

Heru Handayanto menambahkan bahwa IFG juga berkomitmen untuk memberikan produk asuransi yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi muda. “Kami ingin menawarkan solusi yang mudah dipahami dan fleksibel, agar lebih menarik bagi pelaku usaha dan konsumen,” katanya. Keduanya sepakat bahwa peningkatan literasi dan aksesibilitas adalah kunci untuk meningkatkan inklusi asuransi di Indonesia.

Dengan adanya peningkatan kesadaran, diharapkan masyarakat tidak hanya mengetahui tentang asuransi, tetapi juga termotivasi untuk membelinya. “Masyarakat harus menyadari bahwa asuransi bukan hanya untuk saat kejadian besar, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan sehari-hari,” pungkas Handojo. Ia menegaskan bahwa langkah ini bisa membantu masyarakat lebih sejahtera, baik di masa muda maupun tua.

MORE FROM THIS CATEGORY