Historic Moment: Bukan Melompat, Dulu Pocong Bergerak dengan Cara Begini

2 months ago  ·  3 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
74e5845e-a404-46a1-8629-731af70568a7-0

Bukan Melompat, Dulu Pocong Bergerak dengan Cara Begini

Dailynesia.com – Dalam sejarah budaya Indonesia, Historic Moment yang menarik adalah pergeseran cara pocong bergerak dari berguling ke melompat. Pocong, yang sejak dulu dianggap sebagai makhluk gaib yang terlihat dengan pakaian kafan, kini lebih dikenal sebagai hantu yang melompat kesana-kemari. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi narasi mitos, tetapi juga memperkaya ekspresi visual dalam seni dan media pop. Pergeseran ini ternyata bukan sekadar kreativitas, melainkan hasil dari interaksi budaya yang kompleks.

Mitos Awal: Pocong Sebagai Bentuk Gaib yang Dinamis

Sebelum terpengaruh oleh dunia perfilman, pocong di Indonesia dianggap sebagai bagian dari sistem kepercayaan mistik yang berasal dari kepercayaan Jawa. Dalam tradisi lama, pocong dijelaskan sebagai hantu yang bisa bergerak dengan cara berguling karena keterbatasan kemampuan fisiknya. Fenomena ini disebut sebagai “pocong berguling” dan menjadi bagian dari narasi oral yang turun-temurun. Konsep ini dipengaruhi oleh masyarakat yang percaya bahwa ruh yang gentayangan memiliki kekuatan untuk berpindah tempat, tetapi tidak selalu mengikuti aturan fisik alamiah.

“Pocong adalah representasi ruh yang tidak memiliki bentuk tubuh tetap, sehingga gerakannya bisa diubah sesuai imajinasi manusia,”

ungkap Suwardi Endraswara dalam bukunya Dunia Hantu Orang Jawa (2004). Ia menegaskan bahwa mitos pocong tidak bersifat statis, melainkan berkembang seiring berjalannya waktu dan interaksi dengan budaya lain. Meski demikian, penggambaran sebagai hantu berguling tetap dominan hingga akhir abad ke-19.

Pengaruh Kolonial: Pergeseran Representasi Pocong

Pada 1906, Richard James Wilkinson, seorang pegawai kolonial Inggris, menggambarkan pocong dalam bukunya Malay Beliefs. Ia menyebut hantu tersebut sebagai “kochonk” dan menjelaskan bahwa pocong tidak bisa berjalan karena kaki terikat. Akibatnya, gambaran ini terlihat bergerak dengan cara berguling, yang kemudian diterima sebagai standar penggambaran. Historic Moment ini menandai awal pergeseran pengertian tentang pocong dari tradisi lokal ke bentuk yang lebih universal.

Wilkinson menggambarkan pocong sebagai hantu yang dianggap menyedot energi manusia. Dalam sistem kepercayaan Jawa, hantu-hantu seperti pocong tidak hanya dipandang sebagai entitas yang tak berdaya, tetapi juga memiliki peran dalam membangun mitos dan cerita lokal. Meski konsep “kochonk” memiliki akar budaya, pengaruh kolonial Inggris mulai mengubah persepsi ini dengan menambahkan elemen-elemen baru yang lebih dekat dengan konteks Eropa.

Kelahiran Pocong sebagai Hantu yang Melompat

Perubahan besar terjadi seiring munculnya film horor Indonesia pada pertengahan abad ke-20. Film Setan Kuburan (1975), yang diperankan Benyamin Sueb, menjadi salah satu karya yang mempopulerkan gambaran pocong melompat. Historic Moment ini membawa dampak luar biasa, karena penggambaran visual yang menarik dan efek menakutkan secara langsung memengaruhi penonton, terutama generasi muda.

Sejak itu, pocong mulai dianggap sebagai hantu yang aktif dan tajam. Representasi ini diperkuat oleh media massa, termasuk majalah, koran, dan komik. Dalam era modern, mitos pocong tidak hanya dianggap sebagai bagian dari budaya tradisional, tetapi juga diadopsi dalam berbagai bentuk seni, seperti tari, musik, dan dramatografi. Historic Moment ini menjadi cerminan dari adaptasi budaya yang terjadi di Indonesia, di mana mitos lama mulai terintegrasi dengan kreativitas baru.

“Perubahan dalam penggambaran pocong mencerminkan dinamika interaksi antara tradisi lokal dan budaya luar yang terus-menerus berubah,”

ungkap peneliti Justito Adiprasetio dan Annissa Winda dari The Conversation. Mereka menjelaskan bahwa dalam kurun waktu 2000 hingga 2020, lebih dari 37 film Indonesia menampilkan pocong sebagai hantu yang melompat, membuat gambaran ini menjadi pengganti dari mitos awal. Meski begitu, penelitian mereka menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengakui penggambaran tradisional pocong yang berguling.

Budaya Pop dan Kehidupan Pocong dalam Masyarakat Modern

Dalam dunia pop, pocong terus berevolusi. Bukan hanya film, tetapi juga video klip, drama, dan game digital yang memperkenalkan versi-versi baru. Historic Moment yang tercatat dalam sejarah hantu Indonesia adalah saat pocong mulai dianggap sebagai simbol keberadaan misteri yang bisa diapresiasi secara visual. Namun, adaptasi ini tidak sepenuhnya menghilangkan makna aslinya, melainkan memperkaya narasi.

Peneliti Suwardi Endraswara menyebut bahwa perubahan dalam representasi pocong juga dipengaruhi oleh kebutuhan komunikasi masyarakat. Dalam konteks kekinian, hantu berguling lebih sering digunakan untuk menyampaikan pesan santai, sementara pocong melompat digunakan untuk menimbulkan ketakutan. Historic Moment ini memperlihatkan bagaimana mitos bisa menjadi alat untuk menyesuaikan dengan tuntutan budaya yang terus berkembang.

MORE FROM THIS CATEGORY