Topics Covered: 3 Bulan Perang Iran dan Diplomasi Trump
Dailynesia.com – Dalam tiga bulan terakhir, ancaman dari Presiden AS Donald Trump terhadap Iran memicu kekacauan dalam hubungan diplomatik internasional. Kalimat “sebuah peradaban akan lenyap malam ini” yang dikeluarkan Trump meningkatkan kekhawatiran di antara sekutu Washington, terutama mengenai potensi pilihan nuklir sebagai alternatif utama. Menurut laporan Reuters, negara-negara Eropa langsung berupaya memperoleh penjelasan melalui saluran diplomatik resmi, meskipun banyak dari mereka merasa terisolasi dari arah kebijakan yang sedang dikembangkan di Gedung Putih.
Konteks Tegangan dan Ketidakpahaman
Pembicaraan terkini menunjukkan ketidaksepahaman di dalam Departemen Luar Negeri AS. Pejabat di sana disebut kurang memahami maksud Trump dalam strategi luar negerinya, yang dianggap mempercepat konflik dengan negara-negara sekutu. Hal ini memperkuat kecemasan di kalangan mitra AS, bukan hanya terkait Iran, tetapi juga dalam menghadapi kemungkinan eskalasi konflik di Ukraina yang dimanfaatkan Rusia. Selain itu, perubahan politik di Timur Tengah semakin memperumit situasi, mengharuskan negara-negara Eropa beradaptasi dengan kebijakan yang lebih ekstrem.
“Kondisi ini mengganggu sistem diplomasi modern Amerika,” kata Reuters. “Negara-negara sekutu kesulitan memahami sinyal kebijakan karena banyak pos diplomatik kosong dan komunikasi antar institusi terganggu.”
Pemecatan Massal dan Perubahan Birokrasi
Pemerintahan Trump menolak kritik mengenai penurunan efektivitas diplomasi, dengan Tommy Pigott dari State Department menyatakan bahwa perubahan struktur birokrasi justru meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan. Namun, data Reuters menunjukkan gambaran berbeda. Dari total 195 posisi duta besar AS di seluruh dunia, 109 masih kosong. Banyak kedutaan kini diisi oleh pejabat sementara, bukan duta besar penuh yang sudah diakui oleh Senat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa keahlian diplomatik mungkin terganggu dalam pengambilan keputusan kritis.
Kondisi terparah terjadi di wilayah Timur Tengah. Dari tujuh negara yang berbatasan dengan Iran, lima di antaranya tidak memiliki duta besar AS. Di kawasan Teluk, empat dari enam negara mengalami situasi serupa. Mantan Dubes AS untuk Uni Emirat Arab, Barbara Leaf, mengatakan bahwa hal ini sangat berbahaya dalam konteks perang yang terbuka, karena menyebabkan kelemahan dalam komunikasi diplomatik.
Dalam lima puluh tahun terakhir, para diplomat karier biasanya mengisi 57%-74% dari posisi duta besar AS. Namun, dalam periode kedua Trump, persentase ini turun menjadi hanya 9%. Hal ini mengakibatkan hilangnya keahlian teknis dalam negosiasi internasional, seperti dalam pembicaraan nuklir di Jenewa, di mana tim AS yang dipimpin oleh Steve Witkoff datang tanpa spesialis nuklir senior. Sejumlah diplomat Eropa pun terpaksa menjelaskan konsep penting secara manual.
Jalur Alternatif dan Komunikasi Informal
Banyak sekutu AS mulai beralih ke jalur komunikasi informal. Mereka melewati negosiator resmi dan beralih ke individu yang dekat dengan Trump, seperti Jared Kushner dan Susie Wiles. Meski Kushner tidak memiliki jabatan resmi, serta Witkoff tidak memiliki latar belakang diplomatik, keduanya dianggap sebagai penghubung utama antara pemerintah dan kepala negara. Hal ini membuka jalan untuk pengambilan keputusan yang lebih cepat, tetapi juga mengurangi transparansi dalam proses negosiasi.
Korea Selatan, contohnya, disebut menggunakan jalur langsung ke Susie Wiles, Kepala Staf Gedung Putih, sebagai alternatif dari negosiator resmi AS. Sementara Jepang bermitra dengan pendiri SoftBank, Masayoshi Son, sebagai penghubung informal ke Trump. Mantan Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, mengakui pentingnya akses langsung ke Trump dalam menghadapi keputusan luar negeri yang semakin terpusat di satu individu. Pemecatan massal dan restrukturisasi besar yang dilakukan Marco Rubio pada 2025, dengan sekitar 3.000 pegawai dipecat, mencerminkan perubahan birokrasi yang signifikan.
“Perubahan ini mengubah cara AS berkomunikasi dengan dunia,” kata satu analis internasional. “Diplomasi sekarang lebih bergantung pada individu pribadi daripada institusi yang terstruktur.”
Dalam situasi global yang rentan, kemampuan AS untuk membangun hubungan, mencegah konflik, dan mencapai kesepakatan internasional terlihat melemah. Profesor sejarah internasional dari Oxford, Margaret MacMillan, menyoroti bahwa kebijakan Trump menciptakan ketidakstabilan dalam sistem diplomatik AS, terutama dalam menghadapi tekanan dari Iran dan negara-negara lain. Perubahan besar ini menunjukkan bahwa Topics Covered dalam diplomasi Trump tidak hanya terkait Iran, tetapi juga memengaruhi dinamika hubungan global.

