AAJI: Banyak Orang Paham Asuransi, tapi Belum Mau Beli
Dailynesia.com – Dalam diskusi terbaru yang digelar oleh Asosiasi Asuransi Jiwa dan Kesehatan Indonesia (AAJI) menyoroti kenaikan kesadaran masyarakat terkait asuransi. Namun, keinginan untuk membeli produk tersebut belum mencapai tingkat yang optimal. Meski literasi asuransi terus meningkat, penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah, berdasarkan data OJK yang menunjukkan angka sebesar 2,7% pada 2025.
Kenaikan Literasi Asuransi dan Tantangan Penjualan
Topics Covered dalam perjalanan AAJI menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat terhadap asuransi telah naik signifikan. Menurut Handojo G Kusuma, Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri & Internasional AAJI, literasi asuransi telah meningkat dari sekitar 36% pada 2024 hingga 45% saat ini. Ini menunjukkan perbaikan pemahaman masyarakat tentang manfaat dan jenis produk asuransi.
“Literasi asuransi pada 2024 itu ada di sekitar 36%, sekarang sudah naik di sekitar 45%,” ujar Handojo dalam Educational Class Jogja Financial Festival 2026 bertajuk “Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera”.
Dalam Topics Covered ini, Handojo juga menyoroti bahwa peningkatan literasi asuransi bukan hanya tentang pemahaman teoritis, tetapi juga terkait pengalaman langsung. “Jadi pengalaman orang tentang asuransi sudah mulai meningkat,” katanya. Meski demikian, ia mengakui bahwa kesadaran tidak selalu berarti keinginan untuk membeli.
Generasi Muda dan Minat Terhadap Asuransi
Topics Covered dalam studi AAJI menunjukkan bahwa generasi muda, meski memahami asuransi, masih enggan memiliki produk tersebut. Hal ini terjadi karena istilah ‘asuransi’ dianggap rumit, serta hasil manfaatnya yang tidak langsung terasa. Banyak orang berpikir bahwa asuransi hanya diperlukan saat terjadi kejadian buruk, bukan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Generasi muda juga diungkapkan masih enggan memiliki asuransi meski memahami manfaatnya, karena istilah ‘asuransi’ dianggap rumit dan kurang diminati karena hasilnya yang tidak langsung,” katanya.
Handajo menambahkan bahwa kebiasaan berpikir ‘kita bisa mengelola sendiri’ memengaruhi minat masyarakat untuk membeli asuransi. Meski pun keuntungan seperti perlindungan finansial dan kenyamanan dalam menghadapi risiko sudah dikenal, pengalaman negatif atau kesan mahalnya premi sering kali menghalangi keputusan membeli.
Peran AAJI dan Langkah Meningkatkan Inklusi
Topics Covered dalam kegiatan edukasi yang digelar AAJI menunjukkan upaya untuk meningkatkan inklusi asuransi di masyarakat. Dalam Educational Class Jogja Financial Festival 2026, Handojo menyatakan bahwa asuransi berlandaskan prinsip gotong royong, di mana masyarakat bersama-sama menyumbang dana untuk membantu sesama saat mengalami musibah.
“Jadi kita membantu yang lain yang sedang tertimpa musibah dengan kita mengumpulkan uang sama-sama untuk membantu orang,” katanya.
Menurut data OJK, penetrasi asuransi di Indonesia masih kalah dibanding negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Meskipun angka literasi asuransi meningkat, daya beli masyarakat dan kepercayaan terhadap produk asuransi tetap menjadi faktor penentu. AAJI berupaya memperbaiki ini dengan meningkatkan keterjangkauan produk, kampanye edukasi, serta kolaborasi dengan lembaga keuangan lokal.
Topics Covered dalam diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya peran regulator dalam mengoptimalkan penetrasi asuransi. Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK, Sumarjono, menegaskan bahwa pemerintah dan industri asuransi harus bersinergi untuk memastikan masyarakat lebih mudah memahami manfaat asuransi. “Kita perlu memperluas cakupan edukasi agar kesadaran berkualitas bisa diubah menjadi tindakan nyata,” ujarnya.
Direktur Keuangan Indonesia Financial Group (IFG) Heru Handayanto mengatakan bahwa keberhasilan meningkatkan inklusi asuransi juga bergantung pada desain produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Asuransi bukan hanya untuk saat krisis, tetapi juga bisa menjadi bagian dari investasi jangka panjang,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa Topics Covered dalam studi AAJI tidak hanya tentang kesadaran, tetapi juga tentang adaptasi produk terhadap kebutuhan nyata.
Sebagai bagian dari Topics Covered, AAJI juga memperkenalkan inisiatif baru, seperti pelatihan karyawan atau kemitraan dengan komunitas lokal, untuk memperkuat literasi asuransi. Dengan meningkatkan keterlibatan langsung, diharapkan masyarakat dapat melihat manfaat asuransi secara lebih jelas. Meski begitu, tantangan seperti perbedaan tingkat pendapatan, ketersediaan informasi, dan persepsi negatif tetap menjadi hambatan utama.
Topics Covered dalam kegiatan ini menegaskan bahwa peningkatan kesadaran masyarakat adalah langkah awal, tetapi langkah selanjutnya adalah mengubah kesadaran menjadi tindakan. Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk peningkatan kualitas informasi, promosi yang lebih efektif, dan kebijakan yang mendukung, AAJI berharap dapat mendorong lebih banyak orang untuk membeli asuransi. “Ini adalah proses jangka panjang, tetapi kita harus mulai dari sekarang,” tutur Handojo, menutup Topics Covered dalam sesi edukasi tersebut.

